Hey, Boy Tsunami!

contoh cerpen

Aku cukup pelit dalam hal posting tamu di sini. Aku mungkin mendapatkan puluhan kali tawaran dari orang-orang yang ingin mempublikasikan tulisannya di sini. Dan tak perlu dikatakan lagi, sebagian besar proposal (sangat) tidak orisinal atau benar-benar buruk.

Namun baru-baru ini, seorang gadis muda bermata tupai mengirim cerita pendek pertamanya kepadaku. Sejumlah cerpen yang serupa aku temukan berserakan di internet. Tapi ini berbeda. Paradoks?

Kesan luar biasanya adalah hanya sedikit orang yang memberikan sentuhan ajaib dalam cobaan pertamanya. Dan maksudku benar-benar literal; para pemula sering kali payah di permulaan. Namun, gadis ini seakan-akan menentang keyakinanku yang telah lama mengakar.

Gadis ini tidak berbicara tentang kisah-kisah picisan. Dia benar-benar jujur, dan aku perkirakan dia sedang menceritakan pengalamannya sendiri (mungkin dalam bentuk lain). Jelas, menjadi jujur bukanlah hal mudah.

Karena alasan inilah aku bersedia memuat cerpen pertamanya. Dia menulis karya yang bagus dan aku menghabiskan beberapa menit untuk mengedit dan menyempurnakannya. Aku bangga dengan hasilnya.

Aku tidak berharap ini akan membuat Bumi berhenti berputar. Tapi aku berharap ini bisa memberi kesan yang mendalam tentang arti cinta, terutama untukmu yang sedang dilema cinta.

Oh waktu benar-benar cepat. Aku akan membiarkan gadis tupai itu mengambil alih...

contoh cerpen, cerpen adalah


Hey, Boy Tsunami!

Oleh: Agtian Mutiara Hafiz

Entah harus dari mana aku memulai cerita yang terkadang membuatku sakit dalam mengingatnya. Perasaan yang datang untuk membuatku rapuh, marah, hampa, dan semua itu selalu berhasil membuatku terjebak dalam kondisi yang penuh nelangsa. Menyedihkan memang, tapi itu dulu. Sekarang tidak, karena untuk sekarang aku bisa berdamai dengan hatiku, dan semoga bisa terus seperti itu. 

Sejak cerita ini dimulai, kau akan membaca apa yang aku tuliskan. Berharap kau akan membaca ini dengan sepenuh hati. Lalu, aku tidak akan pernah tahu apa yang kau pikirkan dan rasakan tentang semua ini. Aku yakin, kau akan baik-baik saja. Kau adalah masa lalu yang menyenangkan dan terkadang selalu bergelayut dalam ingatan. Jadi, selamat jalan–maksudku selamat membaca. 

Ada beberapa hal yang baru aku sadari setelah kau berani untuk mengungkapkan apa yang kau rasakan. Menyadari bahwa dulu ibuku dan ibumu adalah seorang partner dalam sebuah tim volley kabupaten untuk perwakilan provinsi, menyadari bahwa nenekku dan nenekmu saling mengenal satu sama lain, dan yang paling konyol adalah; ternyata ibuku mempunyai julukan khusus pada dirimu yang waktu kecil, “Boy Tsunami”. 

Yap, itu julukan dari ibu untukmu. Saat aku bertanya pada ibuku tentang mengapa beliau menjulukimu seperti itu, ibuku menjawab, bahwa kau lahir tepat pada peristiwa tsunami yang sangat dahsyat di Aceh. And, Gotcha! Dari sanalah aku mengetahui hari ulang tahunmu, yang ternyata selisih empat hari dari kelahiranku. Haha, sungguh konyol! 

Hari-hari pun berlalu, semakin hari pula aku semakin dekat denganmu. Tampaknya semesta sedang berpihak pada kita–umm aku dan kau pernah menjadi kita 'kan? Jadi kurasa tidak masalah jika si aku menyebut diriku dan dirimu adalah kita

Ya, semoga saja kau tidak keberatan, wahai Boy Tsunami

Hampir setiap hari kita bertemu, coba tebak mengapa kita bisa seperti itu. Apa? Tetanggaku? Tetot, salah besar! Bahkan aku pun paling jarang bertemu dengan tetanggaku. Kuakui bahwa diriku adalah anak rumahan, sungguh suram... 

Sudah, berhenti menebak! Biar kujelaskan saja. Kita satu sekolah, jika kalian bertanya maka kujawab “Entahlah”. Mungkin memang harus seperti itu, lagi pula tidak masalah. Toh, sekolahku bagus, banyak pohon yang membuat udara di sana sejuk, kantin yang jajanannya sangat enak, tempat parkir yang luas, fasilitas yang lengkap, salah satunya lapang futsal favoritmu. 

Dan mengapa di antara lapangan basket, lapangan volley, dan gelanggang olahraga yang teduh, kau lebih memilih lapang futsal yang panas? Ah, akhirnya aku paham. Itu prestasi dan hobimu, juga jangan lupa teriakan dan riuhan anak perempuan dari mulai teman seangkatan bahkan senior hingga junior yang suka memanggil-manggil namamu. Apalagi jika latih tanding atau saat turnamen antar kelas, teriakannya semakin berisik tiga kali lipat hingga dapat terdengar ke seluruh antero sekolah. Menyebalkan!

Namun, saat pertandingan itu berakhir yang kebanyakan diakhiri oleh kemenangan timmu (walau terkadang diakhiri dengan kekalahan) kau selalu menghampiriku di area sekitar team bench, yang tentunya aku akan ada di sana setelah meninggalkan kursi penonton, 

kau setengah berlari menuju diriku dengan rambut hitam legam yang tertiup angin, langkah yang panjang, alis tebal yang bertemu karena dahi yang mengerut kepanasan, bulir keringat yang mengalir di pelipismu, serta sorot mata yang teduh dibalik iris brown hazel milikmu, seakan memang matamu adalah tempatku singgah; atau tempat yang selalu menyuruhku pulang. 

“Hey, cantik!” teriakmu dan menatap diriku dengan kau yang masih berlari kecil sembari merentangkan kedua tangan bagaikan burung yang sedang terbang, 

“JANGAN PELUK!” ucapku setengah berteriak sambil berlari mundur, 

Nggak bau kok!” jawabmu.

“Berisik!” timpalku, hingga akhirnya kita tertawa bersama dan aku hanya mengizinkan hi-five saja. Hal itu terus berulang sampai aku menonton pertandingan terakhirmu. Aku tahu, itu hanya candaan yang membuatku terbang, and he's never hug me, anyways.

Setiap hari yang pernah aku jalani bersamamu adalah hal-hal yang paling menyenangkan. Untuk pertama kalinya aku diajak bermain sehabis pulang sekolah, dan tentunya kau sudah mendapat izin ibuku untuk mengajakku. 

Tujuan kita kali ini adalah mal pusat kota, jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Motor matic hitammu membelah jalanan menuju arah barat sambil memainkan gas dan remnya dengan sangat terampil, kau menjalankan motor cukup pelan dan hati-hati. 

Ya baguslah, kau cukup tahu diri saat membonceng anak orang yang berisik ini. 

Selama dalam perjalanan yang singkat, aku memang berisik, aku bercerita acak tentang kekonyolanku yang kadang selalu membuatnya tertawa. Awas ya, kau menertawakanku Boy Tsunami! 

Ah, matahari sore ini silau sekali, aku menyipitkan mataku. “Silau, Ci?” ledeknya padaku yang melihat pantulan wajahku dari kaca spionnya dan langsung saja kubalas dengan tonjokan kecil di punggungnya yang dibalut hoodie hitam. 

“Aku bukan cici!” jawabku. 

“Habis kamu sipit, kayak pesut!” timpalnya. 

“Hah?! Pesut apaan?” tanyaku sambil setengah berteriak. 

“Itu, dugong yang cantik kayak kamu,” balasnya setengah tertawa. 

Oooh, nggak tau tuh!” timpalku, dan dia hanya tertawa renyah. Ih, dasar garing! 

Setelah sampai di kawasan mal, kita menuju basement untuk memarkirkan motor, lalu berjalan menyusurinya dengan tujuan akhir yaitu menaiki lift di ujung sana. Kita menuju lantai dua tepat di mana bioskop berada. Banyak film bagus yang rilis bulan ini, bahkan sekarang pun bioskop lumayan ramai, banyak orang lalu lalang di sana, antrean untuk memesan tiket pun sangat panjang. Untungnya kau sudah membeli tiket secara online beberapa jam lalu, jadilah kita tinggal mencetak dan menunggu teater dibuka. 

Kita sepakat untuk menonton film Habibie & Ainun 3. Sungguh film yang sangat epic, bahkan aku menangis tersedu-sedu dan kau malah menertawakanku. Sekali lagi, kau sungguh menyebalkan! 

Kelopak mataku membengkak, rasanya mengantuk sekali. Bagaimana aku tidak lelah? Aku menangis sepuasnya karena terbawa arus film cantik itu. Ah, setelah film usai mataku masih bengkak, aku malu sekali, sungguh! Dan lagi-lagi kau malah menertawakanku, kau bilang hidungku merah seperti tomat, dan mataku seperti serigala, serta mengejekku lagi bahwa aku terlalu baper. Lantas kau bilang bahwa aku semakin cantik setelah menangis, bagaimana aku tidak melting wahai Boy Tsunami...

contoh cerpen, cerpen adalah, cerpen cinta, cerpen remaja

Tampaknya, ucapan sederhana dari mulutmu itu sangat berdampak padaku. Walaupun kau mengejekku, menyamakanku dengan pesut, tomat, atau serigala bahkan kebo–saat aku sengaja bangun siang karena period, kau sudah punya tempat tersendiri di hatiku, bahkan aku meletakkan kau di tempat yang istimewa, sangat istimewa. 

Aku sadar, bahwa aku telah mulai menyayangi dirimu yang se-menyebalkan itu! Mungkin ini gila, tapi ini nyatanya, karenamu aku bisa bahagia! 

Hey, boy! Aku sudah menyayangi dirimu, aku tak menyangka bahwa aku dapat jatuh hati pada manusia sepertimu, dirimu yang malas, dirimu yang pelupa, dirimu yang cuek, dirimu yang bodo amatan, dirimu yang dingin, dirimu yang seenaknya dan dirimu yang rela mengorbankan segalanya demi sebuah mimpi yang lebih besar. 

Sekali lagi, kau sungguh menyebalkan bisa membuatku jatuh cinta! Kadang aku bertanya pada dirimu, apakah kau mencintaiku dengan sungguh? 

I love you, more than you know, babe,” ungkapmu selalu sambil mengelus puncak kepalaku. (Aduh, aku meleleh!)

Di hari lain, aku bertanya soal rasa penasaranku tentang apa yang membuatmu menyukaiku, dan kau menjawab bahwa, “Aku tidak punya alasan khusus untuk itu, yang jelas aku menyayangimu setulus hatiku, dan rasa ini ada karena sendirinya, lebih tepatnya aku yang berusaha menghadirkannya,” paparmu. 

Dan aku harap, semoga awal yang menyenangkan dapat berakhir membahagiakan. Namun aku salah, ternyata cinta itu tidak selalu membahagiakan, kadang cinta juga mampu membuatmu kecewa, melukai hati kecil milikmu, membuatmu sakit, seakan ketika saat disakiti, dunia berakhir begitu saja, membuatmu ingin menjerit sekencang-kencangnya, membuatmu marah dan rasanya ingin menyalahkan semua keadaan. 

Tapi, cinta juga bisa menjadi obat yang istimewa untuk dirimu sendiri. 

Lagi, aku salah karena pernah menempatkan perasaan dan kepercayaan juga kebahagiaan pada orang yang bahkan bisa saja perasaannya berubah-ubah terhadapku. Tapi, jatuh cinta bukan hal yang buruk. Dan, jika dipikir-pikir, cinta bukan selalu soal sepasang kekasih yang saling jatuh cinta, cinta keluarga dan cinta orang yang ada di sekitarku, mampu membuat duniaku lebih hangat. 

Aku tidak menyesal saat aku putus dalam cinta, artinya itu bukan suatu kegagalan dan kesalahan 'kan? Saat kau ingin menutup kisah bersama diriku, jelas itu membuatku tersentak. Hatiku terasa panas dan menggebu, aku ingin marah, tapi aku malah menangis dalam diam, hingga mataku lebih bengkak daripada saat aku menonton film Habibie & Ainun 3. 

Lebih bengkak bukannya lebih cantik ya? 

Tetapi tidak apa, aku bisa menangani ini sendirian walaupun dibantu oleh sang waktu, berdamai dan mencoba untuk lebih mencintai diri sendiri. Setelah kisah aku dan kau usai, aku harap kita akan baik-baik saja. 

Tidak ada rasa benci ataupun dendam, serta tidak ada rasa penyesalan. Karena aku yakin, kita akan baik-baik saja walaupun di jalan yang berbeda. 

Dan kesimpulan yang pernah kita ambil setelah menonton film Habibie & Ainun 3 berbanding terbalik dengan apa yang kita putuskan. Ya, sekarang aku dan kau tahu bahwa kita tidak lagi satu frekuensi. Tidak menyebalkan! Segalanya mengalir begitu saja, hingga aku takut untuk menentukan langkah. 

Jika aku sungguh cinta, lalu aku harus bagaimana?

Posting Komentar

2 Komentar