Gadis Anggur

Cerpen Gadis Anggur

Kamu menemukan surat ini, Cecilia? Ya, kamu menemukannya karena tidak seorang pun yang tahu kode akses dari peti rahasiaku. Atau tidak, kamu tidak mengetahuinya. Kamu hanya menebaknya, dan terjadilah suatu keajaiban seperti kisah putri mahkota dari negeri dongeng.

Aku sarankan agar kamu duduk dengan nyaman, Kekasihku. Setidaknya duduklah dengan punggung tegak karena kamu sedang membaca surat yang paling menyedihkan sepanjang sejarah. Aku harap tidak ada tisu atau semacamnya di sana. Kamu tahu ‘kan mengapa?

Malam ini—maksudku di saat aku menulis surat ini—adalah malam terakhir di bulan Juni. Bintang yang gemerlap di atas sana begitu peduli, membentuk sebuah wajah masam dengan bibir tipis. Ah, bulan itu seperti anggur. Entah mengapa, aku melihatnya seperti anggur. Namun, tentu kamu tahu mengapa demikian.

Aku tidak tahu apa yang terjadi di dunia ketika kamu membaca surat ini. Siapa yang menjadi presiden? Apakah Elon Musk telah membentuk pemukiman di Mars? Bagaimana dengan makhluk mikroskopik yang menyebalkan itu?

Aku tidak tahu, Gadisku. Tapi tentu kamu tahu.

Beberapa kali kucoba memikirkan tentang masa depan, tapi yang aku dapatkan selalu sama: semua adalah tentang si Gadis Anggur. Jadi, jangan menyalahkan kalau aku tenggelam dalam kisah lampau. Aku hanya berbuat semampuku. Si Gadis Anggur menggerogoti pikiranku, dan itu menyenangkan.

(Segera habiskan teh Thailand-mu, Cecilia. Aku tahu kamu suka mengabaikannya ketika membaca.)

Kisah Gadis Anggur dimulai pada suatu sore yang hangat, ketika aku berdiri di halte bus menuju kota Alodie. Saat itu menjelang akhir 2012, di akhir musim hujan.

Seingatku, waktu itu aku sedang memikirkan teori Immanuel Kant tentang moralitas. Rasanya begitu sulit menilai baik-buruknya sesuatu, bahkan seorang Kant pun harus menulisnya dalam buku tebal. Aku mulai membayangkan beberapa situasi dan memikirkan apa yang seharusnya aku lakukan untuk berbuat baik. 

Karena saat itu hujan deras, aku membayangkan seorang nenek yang berlari bak seorang gadis balet di tengah rintikan air. Dia menuju halte yang sama denganku dan mulai duduk tepat di sampingku. Nenek yang malang itu begitu menggigil hingga tanganku bergerak otomatis melepas jas almamaterku untuk menghangatkannya. Dia tersenyum ringkih dan berbisik menuju sanubari.

Ya, Nona, itu hanya khayalanku. Tapi apa yang terjadi kenyataannya begitu persis.

Bising langkah kaki yang keras menghantam genangan terdengar mendekatiku saat itu. Dari kejauhan, aku melihat dengan samar-samar seorang gadis yang mungkin sedang menuju halte yang sama. Gadis itu semakin dekat, sehingga jelaslah keyakinanku bahwa dia membawa sebuah kantong kertas cokelat berisi anggur yang demikian banyak.

Dia duduk di sampingku dalam keadaan basah kuyup. Yang merisaukanku saat itu adalah bahwa aku tidak mengenal siapa gadis malang ini. Tapi, dia begitu manis, Cecilia. Aku merasakan letupan dahsyat di jantungku.

Hal pertama yang menarik mataku adalah tentu saja, sebuah kantong kertas besar penuh dengan anggur yang tampaknya lezat. Tapi, sesungguhnya bukan kantong anggur itu yang memberi kesan kuat padaku, melainkan gadis muda itu sendiri.

Dia mengenakan gaun panjang sederhana berwarna ungu. Aku melihat wajahnya begitu lembap sehingga aku tidak yakin bisa tahu, apakah dia sedang menangis atau sekadar basah kehujanan. Oh itu tidak begitu penting. Aku hanya segera menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat istimewa tentang dia, sesuatu yang magis dan memikat tapi tak terjelaskan.

Bus tak kunjung datang. Hari itu begitu lambat, dan syukurlah. Aku benar-benar merasa beruntung.

Aku juga memerhatikan caranya memandangiku dan seolah-olah dia telah memilihku dari seluruh manusia di muka bumi. Kami saling bertatapan, nyaris seolah-olah kami berdua sudah membentuk semacam keterikatan rahasia. Dia menatapku lurus-lurus, dan barangkali akulah yang pertama kali mengalihkan pandangan.

Dan entah kekuatan mistik apa yang merasuki pikiranku, tiba-tiba saja aku bisa melihat masa depan bahwa dalam 30 detik, kantong kertas itu akan segera robek karena basah. Spontan aku melepaskan jas almamaterku, bersiap-siaga untuk menangkap anggur-anggur yang terjatuh dengan malang. Aku hanya akan mengikuti apa yang diserukan oleh Kant.

Satu, dua, tiga; tebakanku benar-benar terjadi!

Gadis itu berteriak karena melihatku menjatuhkan diri untuk menangkap anggur-anggur itu. Kemudian dia berterima kasih dan meminta maaf karena telah merepotkan. Aku hanya tersenyum kaku; bahkan aku tidak tahu kata-kata apa yang harus dilontarkan.

Oh bus benar-benar tidak datang, Cecilia! Apa yang terjadi? Apakah ini yang dinamakan semacam takdir tak terbantahkan?

Di tengah kecanggungan antara kami, bunyi-bunyi perkotaan mulai bising. Hujan mendekati reda. Sadar bahwa pertemuan itu akan segera berakhir, aku segera memperkenalkan diri.

Dia lebih pendek setengah kepala daripada aku dan mempunyai rambut hitam panjang, mata cokelat, dan sepertinya berusia sebaya denganku, dua puluh tahun. Ketika dia mengangkat pandangannya, dia tampak seperti mengangguk ke arahku tanpa menggerakkan kepalanya sedikit pun.

Dalam perkenalan yang dingin, dia menyunggingkan senyum nakal menggoda, nyaris seolah-olah kami pernah menjalani hidup bersama di masa lampau; hanya dia dan aku.

Namanya begitu indah: Cecilia Maheswari. Itu berarti kamu, Gadis Anggur-ku. Tidakkah kamu mengingatnya?

Ketika bus datang, kita berpisah. Kita memiliki tujuan yang berbeda saat itu. Tapi beruntungnya, kita telah berjanji untuk bertemu di tempat yang sama pada keesokan harinya.

Aku lompati momen-momen pendekatan kita. Aku agak malu membahas itu. Tapi, ingatkah kamu momen ketika aku melamarmu?

Kamu harus mengingatnya, Cecilia. Bahkan kehangatan jari-jemarimu masih begitu terasa di indra perabaku. Ketika cincin itu terpasang lekat di jari manismu, aku tahu, bahwa cincin itu memang ditakdirkan untuk menjadi milikmu. Kamu masih menyimpannya? Aku melihatmu seperti Aladdin dalam wujud lain yang tengah mengelus cincin ajaibnya.

cerpen, contoh cerpen

Saat itu 25 Juni, tepat pada tanggal yang sama di mana kita pertama bertemu. Kita berbincang di taman kota pada malam yang dingin. Aku segera tahu bahwa rembulan sedang bersembunyi di antara awan-awan karena kalah bersinar dengan pesonamu. Aduh, tolong, sembunyikan sedikit lesung pipimu, Cecilia. Aku tidak bisa mengendalikan diriku.

Tapi, bukan itu yang kumaksud. Tidak sepenuhnya. Aku ingin kamu memaknai kembali apa yang kita bicarakan saat itu.

Dan jujur saja, aku sangat terkejut ketika kamu bertanya tentang “komitmen” dalam awal perbincangan romantis kita. Aku tidak berani berkata-kata tentang itu. Aku hanya memandang ke arah lampu taman yang buram. Kuperkirakan bahwa kamu terus mendesakku secara gaib untuk berbicara, karena pada akhirnya, aku membuka mulut.

“Apa itu komitmen?” tanyamu saat itu.

“Kesetiaan,” hematku dengan dingin. Aku tahu itu bukan jawaban yang memuaskan. Tapi aku memang sengaja. Aku senang kamu bertanya.

“Hanya itu?” sambungmu seperti yang telah aku duga.

“Tidak. Tapi apa yang kamu pikirkan tentang itu?”

“Aku benci pertanyaanku diabaikan.” Ya, kamu memang tidak pernah melupakan sesuatu yang kamu tanyakan.

“Aku tidak bercanda. Komitmen adalah kesetiaan; kesetiaan pada suatu hal. Jika kamu berkomitmen untuk diet, berarti kamu bertekad untuk setia pada prinsip-prinsip berdiet. Bagaimana?”

“Aku tidak puas.”

Baiklah, Cecilia, kamu membuatku sangat gugup saat itu. Ayolah, itu adalah hari lamaran kita, dan kamu malah menginterogasiku seperti teroris? Yang benar saja!

Tapi, aku melanjutkan, “Aku telah berkomitmen pada Filsafat sejak lulus SMA. Itu berarti, aku bertekad untuk setia belajar Filsafat. Kamu tahu itu, Cecilia.”

“Kalau begitu, maukah kamu berkomitmen denganku?” tanyamu yang seketika membuat badanku gemetar dingin.

“Kamu bercanda? Aku melamarmu; itu mutlak jawaban ‘Ya’, Cecilia.”

“Jadi, apa maknanya, Antreas? Beri aku petunjuk.”

“Kita berkomitmen mulai sekarang. Tapi, jangan menggantungkan komitmen pada subjek, Cecilia.”

“Aku tidak mengerti, Antreas,” keluhmu sembari dengan segera meraih tanganku. Aku segera tahu bahwa kamu merasa resah. Karenanya, aku tidak bisa berbasa-basi lagi.

“Aku berkomitmen padamu bukan berarti aku janji untuk selalu bersamamu, Cecilia. Ya, ini menyakitkan untuk didengar, tapi siapa aku? Aku adalah makhluk kosmik yang sangat rapuh. Aku hanyalah bagian dari gelembung sabun Tuhan. Dan begitu pun kamu.

Ini bermakna lain. Kita harus berkomitmen dalam keterikatan ini terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri; sesuatu yang mungkin dapat kekal dan abadi. Apa itu, Cecilia?”

Kamu hanya meresponsnya dengan menggelengkan kepala. Aku mendiagnosis wajah masammu, aku merasakan anggur yang masih muda di lidahku.

Aku segera mengelus rambutmu yang terurai. “Kita berkomitmen untuk selalu bahagia. Dapatkah kamu mengerti, Cecilia?”

Kamu tidak menjawab. Kamu hanya memburamkan pandanganmu perlahan dan mulai menangis terisak-isak. Aku tidak begitu yakin, mungkin kamu kecewa dengan penawaranku.

“Tapi aku tidak mau kamu menduakanku, Antreas. Aku ingin menjadi satu-satunya! Tidakkah kamu mengerti?” sentakmu dengan keras hingga lampu taman di sekeliling seperti retak karena getaran.

Aku merasakan sesuatu yang amat perih di mataku. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Ia hanya bergejolak di dalam darahku, membuatku seperti ingin meledak bak dinamit.

“Cecilia, kesetiaanku padamu melampaui sebuah komitmen. Bahkan ia tidak pantas untuk digolongkan kepada komitmen. Kamu terpengaruh dengan definisi komitmen dari film-film picisan dan novel-novel remaja.”

Kamu mulai mengusap genangan air mata di pipi. Aku melanjutkan, “Kesetiaanku padamu adalah bagian dari keterikatan pernikahan. Hanya itu. Jika aku menduakanmu, aku telah memutuskan tali pengikat kita. Sekali lagi, hanya itu. Esensi dari komitmen adalah masalah lain.

Jadi, jangan memintaku untuk setia. Tali pernikahan kita sudah menjelaskan itu lebih dari cukup. Mari kita berkomitmen dalam hal lain, sesuatu yang lebih besar dari diri kita; sesuatu yang akan mengisi hari-hari menuju masa tua.”

Aku begitu lega karena melihat wajahmu yang kembali bersinar. Oh, bibir kecilmu yang manis. Ia menggodaku untuk menciumnya, tapi itu belum waktunya.

Aku tidak ingat pasti apa yang terjadi setelah itu. Aku hanya mampu mengingat ketika kamu mulai memelukku sangat erat dan menghabiskan malam dengan es krim.

Satu hal yang jelas: kamu setuju untuk berkomitmen denganku; berkomitmen untuk selalu bahagia. Iya?

Biarkan aku bernapas sejenak dengan nikmat, Gadis Anggur-ku. Malam semakin gelap, rembulan semakin jelas di atas sana. Kilatan cahaya melintas cepat di hadapanku. Jika aku tidak keliru, itu adalah komet yang menyeberang.

Beri aku rehat, kekasihku.

Huft... 

Tolong senandungkan lagu Louis Armstrong, What A Wonderful World. Dengarkanlah sejenak. Aku butuh rehat, Gadis Anggur-ku.

contoh cerpen, cerpen adalah, cerpen cinta

Oh dokter sedikit gila saat mengatakan bahwa kemungkinanku untuk bertahan hidup adalah 50/50. Tentu saja kemungkinannya selalu demikian. Setiap saat. Tak peduli aku dalam keadaan paling aman sekalipun, kemungkinanku untuk hidup selalu 50/50.

Tapi sekarang, dadaku mulai sesak, Cecilia. Aku merasa perutku kejang. Aku merasa sakit. Aku butuh tangan untuk digenggam. Aku hanya dapat melihatmu sedang terlelap pulas dari bangku ini. Mungkin sebuah mimpi yang indah.

Ruang angkasa! Aku takkan pernah lagi bisa menengadahkan pandangan ke bintang-bintang yang gemerlap. Aku akan berada di antaranya.

Matahari! Aku takkan pernah dapat menjejakkan kakiku lagi di bebatuan laut yang hangat. Aku takkan pernah bisa lagi tenggelam di air yang benar-benar mengasyikkan.

Samudera! Aku takkan pernah bisa mempelajari kehidupanmu lagi. Dengan sedotan macam apakah seluruh samudera bisa mengering?

Sekarang aku bisa mengerti. Tiba-tiba aku melihat segalanya dalam lingkup yang luas. Baru sekarang aku mengerti dengan seluruh hidup dan jiwaku tentang arti ketiadaan.

Waktuku akan habis beberapa saat lagi, Gadis Anggur-ku. Masih ingat dengan komitmen kita?

Untuk selalu menjadi bahagia!

Jika telah tiba waktunya aku tiada, ikatan kita di dunia telah berakhir, Cecilia. Apa yang dapat kuucapkan selain terima kasih. Mungkin ini terdengar menyedihkan, tapi aku sedang tersenyum sekarang.

Ingat baik-baik komitmen kita!

Jadi kalau kebahagiaanmu adalah seorang pendamping baru, lakukanlah, Cecilia. Aku bukan siapa-siapamu lagi ketika aku tiada. Aku hanyalah jiwa yang terlepas dari belenggu tubuh, terbang menuju Taman Firdaus yang kekal.

Aku telah tiada. Artinya aku tidak berhak lagi menuntut apa pun darimu. Sesuatu yang tidak ada tidak berhak menuntut. 

Carilah pria sejatimu yang lain dan berbahagialah. Tolong! Kamu tahu mengapa?

Karena itulah komitmen kita!

Oh, Gadis Anggur-ku.

Aku tidak kehilangan hidup. Aku hanya kehilangan semua orang dan segala sesuatu yang kucinta. Aku kehilangan ragaku sendiri. Tapi aku akan menuju dunia baru.

Hai, lihat! Aku menghilang!

Ha! Biarkan aku jatuh di kursi ini. Biarkan piano itu bermain dengan sendirinya melantunkan musik yang paling sedih di dunia. Biarkan para boneka menari bersamanya.

Aku sudah melepaskan gairah hidup di hadapan Gadis Anggur yang akan aku tinggalkan. Aku akan tiada. Aku tidak eksis, aku kehilangan diriku sendiri.

Hai, lihat! Aku menghilang!

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Terhura lah parahhh. Sering-sering update lah plisss. Ini admin sekalinya update, menusuk hati :'

    BalasHapus