Gadis Bermasker

contoh cerpen, cerpen romantis, contoh penulisan diary

Kisah gadis bermasker dimulai pada suatu pagi ketika aku duduk di sebuah ruangan untuk menghadiri rapat organisasi. Saat itu menjelang pukul setengah sepuluh, di akhir udara hangat.

Seingatku, waktu itu aku sedang memikirkan materi yang akan kusampaikan di dalam rapat. Rasanya aneh mencoba membayangkan bahwa aku akan menjadi seperti seorang manajer perusahaan dan sedang berusaha memotivasi para karyawan. Aku akan mengenakan jas hitam berdasi, duduk di depan meja lebar dan berkata, “Kita akan meraup keuntungan yang besar!”

Kemudian, akhirnya para anggota rapat lainnya muncul. Aku bisa melihatnya dari kejauhan, meluncur lewat lorong yang usang, kemudian bergulir pelan mendekati ruangan dan masuk dengan bising. Yang merisaukanku saat itu adalah bahwa aku tak begitu tahu apa yang harus dibicarakan. Aku takut menyia-nyiakan waktu mereka. Tapi, pokoknya aku hanya mulai berkicau dan semuanya terucap spontan tanpa kendali.

Saat pembicaraan mendekati akhir, pikiranku sudah tak karuan. Hal yang menarik mataku adalah seorang gadis jelita yang duduk di kursi kayu coklat dengan masker putih menutupi separuh bawah wajahnya. Dia tampak asing bagiku. Dia mengenakan pakaian sederhana, namun anggun. Caranya berhijab pun sangatlah sederhana, namun memikat.

Aku segera menyadari bahwa ada sesuatu yang sangat istimewa tentang dia, sesuatu yang magis dan memikat tapi tak terjelaskan.

Aku juga memerhatikan caranya memandangku dan seolah-olah dia telah menyerahkan mata dan telinganya untukku. Setiap kali aku berbicara, dia menatapku lurus-lurus, dan barangkali akulah yang pertama kali mengalihkan pandangan, mungkin saja, karena aku agak pemalu saat itu.

Namun, seingatku, aku menjadi sangat yakin bahwa dia adalah gadis yang takkan pernah kulupakan. Aku baru saja mengingat namanya, tapi bagiku, dia tetaplah gadis bermasker. Dia memiliki daya tarik yang misterius.

Dia lebih pendek satu kepala dariku dan mempunyai badan yang mungil, mata coklat, dan berusia satu tahun lebih muda dariku. Ketika dia mengangkat pandangannya, dia tampak mengangguk ke arahku tanpa menggerakkan kepalanya sedikit pun.

Sempat beberapa kali dia menyunggingkan senyum padaku. Tapi, itu pun hanyalah sebuah tebakan, sebab separuh wajahnya tertutup masker. Sesuatu semacam itu aku baca di dalam mata coklatnya.

Senyumnya menghadirkan kesejukan dan, meskipun tak ada hubungannya dengan itu, dia mengingatkanku pada seekor kelinci; dia memang manis dalam segala hal.

Akan tetapi, mengapa senyumnya begitu sok kenal dan mengundang? Apakah dia benar-benar tersenyum kepadaku? Atau, apakah dia hanya tersenyum karena sesuatu yang lucu dalam pikirannya, yang tiba-tiba teringat olehnya dan tidak ada hubungan apa-apa denganku? Atau, apakah dia tersenyum tentangku? Itu pun merupakan sebuah kemungkinan yang harus kupertimbangkan. 

Akan tetapi, aku bukanlah seseorang yang penampilannya terlalu menggelikan bila dipandang, aku pikir tampangku biasa saja, dan justru dialah, bukan aku, yang punya penampilan agak konyol dengan masker putihnya. Jadi, barangkali karena itulah dia tersenyum; tersenyum kepada dirinya sendiri. Barangkali dia suka menertawakan diri sendiri. Tidak setiap orang punya kemampuan itu.

Aku tidak berani menatap matanya lagi. Aku hanya memandang ke arah peserta lain. Kuperkirakan, aku berbicara agak ngawur saat itu. Mataku terus tertarik untuk kembali, karenanya aku begitu yakin bahwa dia punya magnet dalam mata kelincinya.

Terasa sebagai lelucon pahit bagiku betapa diriku (nyaris secara harfiah) terjerembap di hadapan gadis muda ini. Para peserta sangat serius menanggapi kicauanku, padahal aku sendiri seperti tak punya kendali atas diri sendiri.

Kuperhatikan bahwa para peserta rapat menganggapku sedang serius, padahal yang terbesit dalam pikiranku hanyalah senyum magnetis dari gadis bermasker.

Sampai di sini, aku merasa perlu melompati sedikit ceritaku. Aku berjanji ini tidak akan terjadi terlalu sering.

Mungkin kamu bertanya-tanya, mengapa aku bisa menulis ini dengan begitu dalam tentang apa yang terjadi berbulan-bulan yang lalu itu. Tapi, aku mengenangnya sebagai kisah yang menggelikan, nyaris seperti film bisu, dan seperti itulah aku ingin kamu memandangnya.

Ini tidak berarti aku enteng ketika menuliskannya. Sebenarnya, aku benar-benar merasa putus harapan, atau benar-benar tak terlipur (untuk lebih jujurnya).

Aku tidak sedang mencoba untuk menyembunyikannya, tapi itu bukan sesuatu yang perlu dia khawatirkan. Dia takkan pernah melihat air mataku, dan aku akan bisa mengontrol diriku sendiri.

Nah, aku tak kaget saat semuanya tak berjalan lancar. Aku telah patah berkali-kali hingga aku lupa untuk menghitungnya. Aku bisa berbisik dalam hati atau berteriak keras-keras. Aku telah berbuat semampuku, lalu aku bersiap-siap untuk kecewa.

Telah aku upayakan sebaik-baiknya agar jalinan ini tak berakhir. Kuungkapkan berjuta-juta alasan, kupikirkan segala kemungkinan. Dan aku tahu, suatu hari, semuanya akan jelas. 

Dia membuatku berusaha keras hingga aku bisa memecahkan. Aku siap berupaya untuk memberikan jauh lebih banyak dari apa yang kudapat. Aku hanya tak menarik! Membosankan!

Duh, mungkin aku harus menunggu. Atau menyerah? Kukira setengahnya hanyalah soal waktu dan setengahnya lagi soal keberuntungan. Di mana pun dia berada, kapan pun, dia bisa muncul dan masuk ke dalam lubuk imajinasiku.

Dan aku tahu bahwa segalanya bisa menjadi sangat mengagumkan. Dan kini bisa kulihat segala kemungkinan. Mereka bilang segalanya adil dalam cinta dan perang. Tapi, aku tak harus bersikukuh atau berubah. Jika memang dia menerima apa adanya, asa tak harus diharap!

Aku sedang berada di bawah naungan bintang-bintang pucat saat menulis ini. Tapi, barusan ini, satu bintang berkelip-kelip menunjukkan pesonanya. Aku yakin, dia sedang bernyanyi bersama gadis bermasker di sudut lain. Ini sangat menenteramkanku. Atau, barangkali kami bisa berbagi kedamaian. Oh, lupakan.

Dalam waktu yang akan datang, ketika dia membaca tulisan ini, aku akan mengirimkan kepadanya pikiranku dan doaku yang menenteramkan. Pikiran itu akan menghangatkan dirinya.

Waktu, Nona. Apakah waktu itu?

Posting Komentar

0 Komentar