Inilah Alasan Logis tentang Pentingnya Bertanggung Jawab!

Takut, Menyembunyikan, Tanggung Jawab, Musuh, Menuduh

Langit yang cerah tak selalu menyenangkan, kadang ia pun menyimpan hujan deras yang tak terkira. Begitu pun hidup ini, dalam keadaan sebaik apa pun, masalah bisa datang tanpa diduga.

Banyak orang enggan bertanggung jawab atas permasalahannya, karena mereka percaya, bahwa mengambil tanggung jawab terhadap suatu masalah sama dengan menjadi pihak yang dipersalahkan atas masalahnya. 

Ini membuat banyak orang cenderung suka untuk melemparkan tanggung jawabnya kepada orang lain; menjadikan pihak lain sebagai kambing hitam. Dan menjadi pihak yang tidak dipersalahkan itu memang memberikan kenikmatan sementara.

Budaya kita sudah sedikit mengajarkan tentang cara kita memikul tanggung jawab. Jika saya menabrak Anda dengan sepeda, maka saya bersalah dan bertanggung jawab secara hukum untuk memberikan ganti rugi, entah bagaimana pun caranya. Bahkan jika sebenarnya saya tak sengaja, tetap saja saya dituntut untuk bertanggung jawab. 

Memang begitu yang terjadi pada budaya kita: Jika Anda mengacau, Anda harus memperbaikinya. Ini sangat normal, dan memang harusnya seperti itu.

Tetapi pembaca, ada juga masalah-masalah di mana kita tidak bisa dipersalahkan dan masih harus bertanggung jawab terhadapnya. 

Jika suatu hari Anda terbangun di pagi yang cerah, kemudian mendapati bayi yang masih "merah" dalam kardus di depan rumah Anda, jelas ini bukan kesalahan Anda kalau si bayi ditinggalkan di sana. Anda bahkan tak tahu kapan dan siapa yang meninggalkan bayi itu di depan pintu rumah. 

Namun sekarang, bayi itu telah menjadi tanggung jawab Anda. Entah apa pun pilihan Anda nanti (merawatnya, membuangnya, atau mengabaikannya) itu merupakan masalah yang terkait dengan pilihan Anda, dan Anda tetap bertanggung jawab terhadapnya juga.

Seandainya Anda memiliki seorang adik berumur 1 tahun, kemudian secara tak sengaja memecahkan sebuah gelas, maka tanggung jawab ada pada Anda. Tidak mungkin Anda menyuruhnya untuk membereskan pecahan gelas itu. 

Atau bahkan, sangatlah sia-sia apabila Anda membentaknya. Dia tak cukup paham dengan apa yang terjadi. Mungkin dia menganggap bahwa melempar gelas ke lantai adalah sebuah tindakan yang baik, dan menyenangkan.

Kita juga bertanggung jawab atas hal-hal yang bukan merupakan kesalahan kita. Inilah bagian kehidupan!

Kutub es yang mencair karena pemanasan global mungkin sama sekali bukan salah Anda. Tapi Anda pun ikut bertanggung jawab untuk menjaga suhu bumi tetap stabil karena Anda adalah bagian dari penghuni bumi. Demikianlah seharusnya!

Ada hal penting lainnya: bahwa tak seorang pun yang bertanggung jawab atas keadaan Anda kecuali diri Anda sendiri. Mungkin banyak orang yang disalahkan atas kesedihan Anda, tapi tak seorang pun bertanggung jawab atas kesedihan Anda selain diri Anda sendiri.

Ini karena Anda selalu harus memilih bagaimana Anda memandang sekitar, bagaimana bereaksi terhadapnya, dan bagaimana Anda menilai sesuatu.

Anda harus selalu memilih ukuran patokan yang Anda gunakan untuk menilai pengalaman Anda.

Semua orang menderita, tapi "merasa" menderita adalah sebuah pilihan. Dan pilihan yang diambil adalah tanggung jawab Anda sendiri.

Kita semua senang untuk ikut bertanggung jawab atas keberhasilan dan kebahagiaan. Malahan, kita justru lebih sering berebut menjadi yang bertanggung jawab atas sebuah keberhasilan dan kebahagiaan. 

Ketika kerabat dekat Anda berhasil mencapai kata "sukses", Anda pasti akan sangat bangga untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa dia adalah kerabat dekat Anda. 

Tapi ingat, bertanggung jawab atas permasalahan kita jauh lebih penting, karena dari sanalah pembelajaran yang sesungguhnya berasal.

Menyalahkan orang lain hanya akan melukai diri Anda sendiri.

Jika menurut Anda pemikiran saya ini payah, maka itu adalah kesalahan saya. Tapi bagaimana pun juga, Anda bertanggung jawab atas kesimpulan yang Anda ambil tersebut. 

Bukan kesalahan Anda jika saya memilih untuk menulis artikel ini, tapi Anda tetap bertanggung jawab ketika memilih untuk membacanya (atau tidak).

Begitulah hidup ini adanya. Senantiasa demikian.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Oh iya, yaa.. Kadang ada hal yg bukan salah kita tapi kita harus tanggung jawab atas hal itu. Baru nyadar aku :(

    BalasHapus