Sebuah Seni untuk Berpikir Negatif Ala Kaum Stoa

Bahagia ala kaum Stoa

Saya tegaskan lebih awal bahwa berpikir negatif tidak selalu menjadi biang kerok atas segala penderitaan kita. Bahkan secara ironis, saya katakan bahwa berpikir negatif (mungkin) bisa membuat seseorang menjadi lebih bahagia. Tanpa banyak disadari, berpikir negatif punya manfaat-manfaat terselubung. Begitulah setidaknya menurut Kaum Stoa yang menganut aliran filsafat Stoisisme.


Dikotomi Kendali

Some things are up to us, some things are not up to us

"Ada hal-hal di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali kita."

Demikianlah ungkap seorang Filsuf Yunani penganut Filosofi Stoa/Stoicism, Epictetus dalam bukunya Enchiridion. Prinsip tersebut kemudian dikenal sebagai "Dikotomi Kendali".

Secara sederhana, prinsip ini mengatakan bahwa ada hal-hal yang memang tergantung pada kita, dan ada juga hal-hal yang tidak tergantung pada kita.

Hal-hal yang ada di bawah kendali kita:

  • Pertimbangan (judgment), opini, atau persepsi kita
  • Keinginan kita
  • Tujuan kita
  • Tindakan kita

Hal-hal yang tidak di bawah kendali kita:

  • Tindakan orang lain (kecuali jika dia berada di bawah ancaman kita)
  • Opini orang lain
  • Kekayaan kita
  • Kesehatan kita
  • Kondisi saat kita lahir
  • Peristiwa alam
  • Dan masih banyak lagi, jika saya menyebutkannya satu per satu, Anda akan kehilangan waktu untuk tidur.

Mudahnya seperti ini: siap-siap saja kecewa Bung kalau Anda terobsesi pada hal-hal di luar kendali Anda, seperti perbuatan/persepsi orang lain, kekayaan kita, atau kesehatan kita sendiri. Juga menyesali kondisi kita terlahir, misalnya.

Saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan menjadi laki-laki. Saya juga tidak pernah merengek ingin memiliki warna kulit seperti ini. Atau meratapi kenapa saya terlahir di Indonesia. Tidak sama sekali. 

Awal eksistensi kita di dunia ini adalah sebuah hal yang sangat di luar kendali kita. Memangnya siapa yang meminta untuk terlahir sebagai disabilitas? Atau siapa juga yang meminta untuk terlahir dari kandungan seorang perempuan kaya raya? Tidak ada, karena itu semua, jelas, di luar kendali kita.

Pada akhirnya, meratapi hal-hal yang ada di luar kendali kita menjadi sebuah ironi yang menyebalkan bagi setiap orang. Dan sama sekali tidak ada gunanya.

Kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari hal-hal yang dapat kita kendalikan, things we can control. Artinya, ini datang dari dalam diri kita. Sebaliknya, kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian kita pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini sungguh tidak rasional.

Anda menggantungkan nasib pada ucapan-ucapan kosong para wakil rakyat ketika kampanye. Ya susah, karena Anda tidak tahu, iblis macam apa yang bersembunyi di balik hati seseorang.

Anda menggantungkan kebahagiaan pada pacar Anda yang begitu uwu. Siap-siap saja untuk kecewa ketika doi tidak "sebaik" apa yang Anda kira.

Jadi, dikotomi kendali mengajak kita untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali kita.

Terima saja. Biarkan realita terjadi sebagaimana adanya.

Dan cara yang paling sehat adalah mengakui bahwa realita tidak selalu sama dengan yang kita harapkan.


Pasrah pada Keadaan?

Berpikir negatif untuk mengendalikan harapan

Dikotomi kendali tidak mengajarkan kita untuk pasrah pada keadaan. Tidak sama sekali.

Ini mengajak kita untuk menerima realita terjadi sebagaimana adanya. Dan kita, dapat dengan merdeka menentukan pikiran dan persepsi kita terhadap realita tersebut. Karena jelas, persepsi kita ada dalam kendali kita.

Bayangkan seekor anjing yang terikat lehernya ke sebuah gerobak. Saat gerobak bergerak, anjing ini punya dua pilihan.

Pertama, dia bisa ngotot pergi berlawanan arah dengan gerobak, dengan konsekuensi dia kelelahan, lehernya semakin tercekik, habis nafas, mati.

Kedua, dia bisa memilih untuk berjalan mengikuti ke mana si gerobak membawanya pergi, dengan hasil dia bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan, melihat anjing betina untuk diajak bergenit ria, atau menikmati angin sepoy-sepoy di sepanjang jalan.

Mungkin agak kikuk membandingkan anjing dan manusia. 

Tapi poinnya adalah, seburuk apa pun realita yang terjadi, kita bisa merdeka menentukan persepsi atau penilaian kita terhadap realita tersebut.

Anda baru saja di-PHK dari tempat kerja? Anda bisa bebas menentukan penilaian Anda. Apakah Anda menganggap itu sebuah bukti bahwa Anda payah, lemah, atau idiot, dengan konsekuensi Anda akan stres atas persepsi itu.

Atau Anda memandang bahwa hal tersebut merupakan kesempatan Anda mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan kenyamanan Anda, atau membuka bisnis online dari pesangon yang Anda terima, atau memutuskan untuk menjadi seorang dropshipper yang tanpa modal.

Dipecat dari pekerjaan memang menyebalkan. Tapi dengan persepsi yang sesuai, Anda tidak akan pernah gelisah atas hal itu.

"Lho, bukannya judul tulisan ini membahas mengenai negative thinking. Kenapa malah nyuruh positive thinking?"

Tetap tenang, Bung, karena ini bukan akhir dari tulisan ini. 

Lagi pun, saya tidak memberikan contoh dari berpikir positif. Tapi contoh bahwa biang kerok ketidakbahagiaan kita bisa disebabkan karena persepsi kita sendiri. Sebab kita sering kali meratapi hal-hal yang ada di luar kendali kita, dan tidak sadar akan hal-hal yang ada dalam kendali kita.


Berpikir Negatif untuk 'Imunisasi' Mental

Manfaat berpikir negatif

Awali setiap hari dengan berkata pada diri sendiri: hari ini saya akan menemui kegagalan, orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, hinaan, ketidaksetiaan, niat buruk, dan keegoisan--semua itu karena pelakunya tidak mengerti (ignorant) apa yang baik dan buruk. (Marcus Aurelius)

Secara kasarnya, Marcus Aurelius mengajak kita untuk sengaja berpikir negatif. 

Jangan dulu ditelan, Bung!

Mari kita kembali ke dikotomi kendali. Sebagian hal ada di dalam kendali kita, sebagian lain tidak dalam kendali kita.

Selain kita ingin menghindari ketidaknyamanan, kita juga sering dibuat jengkel oleh hal-hal menyebalkan yang tidak kita duga (unexpected).

Contoh, setiap menuju kampus atau kantor, kita harus melalui jalan yang sama dan menerobos kemacetan. Kemacetan ini tidak terlalu menyebalkan kalau kita sudah memprediksinya, atau bahkan mengantisipasinya. 

Sebaliknya, bayangkan jika teman Anda biasa datang tepat waktu ketika diajak nongkrong, tiba-tiba dia ngaret satu jam. Ini akan sangat mengecewakan bagi Anda dan mungkin Anda mulai menempelkan wajan ke pipinya (dengan kecepatan tinggi).

Ini yang disadari Marcus Aurelius.

Dia mengajak kita untuk sengaja memikirkan apa (dan siapa) saja yang akan merusak hari kita, untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang terjadi.

Dengan demikian, kita akan mengubah hal-hal tersebut dari yang "tak terduga", menjadi hal-hal yang "telah diantisipasi". Melalui praktik ini, kita telah mencabut gigi taring ketidakpastian.

Jika sesuatu berubah dari tidak terduga menjadi bisa diantisipasi, saat kejadian tersebut akhirnya benar-benar terjadi, maka efek menyebalkannya akan jauh lebih berkurang.

Musibah terasa lebih berat jika datang tanpa disangka, dan selalu terasa lebih menyakitkan

Karenanya, tidak ada sesuatu pun yang boleh terjadi tanpa kita sangka-sangka. Pikiran kita harus terus memikirkan semua kemungkinan, dan tidak hanya situasi normal. Karena adakah sesuatu pun di dunia yang tidak bisa dijungkirbalikkan oleh nasib?

Mirip dengan imunisasi. Kita memasukkan kuman yang sudah dilemahkan sehingga sistem kekebalan kita bisa mempersiapkan diri melawan kuman yang sesungguhnya jika datang. 

Dengan mensimulasikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi, kita sedang mempersiapkan "kekebalan mental" saat menghadapinya jika memang terjadi.

Jadi, siapkan diri Anda untuk menghadapi skenario terburuk dalam suatu hal. Sampai Anda menyadari, bahwa apa yang kita pikir buruk, tidaklah terlalu ambyar, bukan akhir segalanya dari hidup, dan Anda terlalu lebay selama ini dalam menanggapi hal-hal sepele.


Memangnya Kenapa ...?

Sebuah seni untuk bersikap bodo amat

Setelah memahami sebuah seni dalam berpikir negatif, kita selanjutnya dibawa pada sebuah renungan, "memangnya kenapa ...?"

Misalnya, Anda akan mengikuti lomba debat. Daripada membayangkan Anda akan menang, argumen Anda bagus, dan lawan mulai sujud menyembah Anda; lebih baik bayangkan bagaimana jika Anda kalah dan argumen Anda dibabat habis oleh lawan.

Dari kesengajaan Anda untuk berpikir negatif ini, Anda harus mencari kemungkinan argumen apa saja yang akan diangkat oleh lawan sehingga Anda dapat menyanggahnya, dan pikirkan, kira-kira apa yang akan lawan sanggah terhadap argumen yang Anda sampaikan.

Cari skenario terburuknya!

Seandainya Anda benar-benar kalah, argumen Anda dibantai habis oleh lawan; Anda tidak akan terlalu kaget. Dan tidak akan sekecewa itu.

Iyalah, toh ekspektasi Anda juga sudah buruk dari awal.

Kemudian, renungkan! Memangnya kenapa kalau Anda kalah?

Apakah Anda akan malu? Ya sudah, memangnya kenapa kalau Anda malu? Menang atau kalah itu 'kan ada di luar kendali Anda. Lagi pun, Anda akan banyak belajar hal baru dari lomba debat itu. 

Apakah Anda akan dibenci orang-orang? Ya sudah, memangnya kenapa kalau Anda dibenci? Toh Anda hidup bukan untuk membuat orang lain mencintai Anda. Tuhan pun tidak akan menjadi benci kepada Anda.

Terus renungkan. Sampai Anda menyadari: bahwa segala kecemasan yang Anda hadapi selama ini hanya disebabkan oleh persepsi diri Anda sendiri

Tapi kalau Anda tiba-tiba menang, seluruh penonton bersorak-sorai untuk Anda, juri bertepuk jidat melihat keuletan Anda dalam berargumen. Ya sudah, Anda malah jadi super-duper bahagia, bersyukur, dan mulai tertawa bingah atas kemenangan itu.

Karena alasan yang jelas, Anda telah melewati ekspektasi Anda.

Sering kali, kita terlalu khawatir, lebay, dan berlebihan atas realita yang terjadi. Pada akhirnya kelebayan kita menjadi sebuah kecemasan yang menyiksa tanpa ada solusi.

Saya tidak pernah memercayai Dewi Keberuntungan, bahkan ketika ia tampak ramah kepada saya. Semua berkah dan rezeki yang diberikannya kepada saya (uang. jabatan, kekuasaan), saya tempatkan sedemikian rupa sehingga Ia bisa mengambilnya kembali tanpa mengganggu saya. Saya menjaga jarak yang lebar dengan segala berkah tersebut, agar Ia bisa mengambilnya baik-baik, bukan merenggut paksa dari saya (Seneca)

Ini yang saya sebut sebagai seni dalam berpikir negatif.

Kita harus sengaja berpikir negatif di awal untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang mungkin menimpa kita. Jika memang demikian yang terjadi, mulailah berpikir positif untuk mengambil makna, nilai, atau moral dari hal buruk tersebut.

Ini akan mengantarkan kita pada sebuah kebodo-amatan akan hal-hal yang berada di luar kendali kita dan memaksimalkan hal-hal yang berada dalam jangkauan kita.

Jadi, kenapa kita begitu gelisah terhadap sesuatu yang berada di luar kendali kita? Bukankah ini terlalu lebay?

Posting Komentar

0 Komentar