Inilah Alasan Mengapa Saya Rindu Menjadi Anak Kecil

Rindu menjadi anak kecil, filsuf cilik, filsafat

"Kak, aku nemu uang di situ. Mungkin ini milik Kakak," ujar seorang anak SD padaku sembari menunjukkan uang selembar 20 ribu rupiah.

"Oh ya? Sebentar." Dengan segera aku memeriksa kantong saku celanaku. Dan ternyata benar, aku kehilangan uang selembar 20 ribu rupiah.

"Mengapa kamu tidak mengambilnya saja, Dek?" tanyaku dengan gurau. Dia tertawa dengan lugunya.

Aku suka anak-anak. Bukan hanya karena keluguannya dalam memandang kehidupan, tetapi juga beberapa karakternya yang membuat iri orang-orang dewasa.

Aku iri pada anak-anak. Dan aku pernah menjadi anak-anak. Aku cukup khawatir di saat sebuah kebenaran terbesit, bahwa aku bertambah tua dan menjadi dewasa. Aku tidak takut menjadi tua. Aku tidak takut kematian. Aku hanya cukup khawatir, bahwa jiwa anak-anak dalam diriku semakin memudar.

Hal ini sangat memengaruhiku dalam memandang kehidupan. Dulu, aku benci angka-angka. Sekarang, aku "mengejar" angka-angka. Dan sedikit banyak, aku hanya peduli pada angka-angka.

Di kala seorang teman memberitahuku bahwa dia membeli ponsel baru, aku tidak bertanya jenis atau model apa yang dibelinya. Spontan aku bertanya, "Berapa harganya?"

Tak berbeda ketika seorang teman memberitahuku bahwa dia sudah menerima raportnya di sekolah. Bukannya memberi sedikit penghargaan, spontan aku bertanya, "Berapa peringkatmu di kelas?"

Dalam banyak renungan, aku merindukan masa-masa itu. Aku rindu menjadi anak-anak. Bukannya aku ingin kembali ke masa lalu, tetapi aku merindukan jiwa anak-anak. Setidak-tidaknya, sebagian besar.


1. Serba ingin tahu

Ciri seorang filosof sejati adalah rasa ingin tahu yang besar, juga menerima segala pemikiran dengan terbuka. Dan anak-anak demikian adanya. Anak memandang dunia sebagaimana adanya, tanpa menambahkan sesuatu pada sesuatu lebih dari yang dialaminya.

Anak-anak cepat dalam melakukan pembelajaran, karena mereka lebih terbuka pada sesuatu. Mereka tidak memandang baik-buruknya sesuatu; mereka dengan lugunya menerima segala sesuatu yang kemudian mereka menentukan baik-buruknya sesuatu itu. Paradigma dalam diri mereka belum terbentuk sepenuhnya.

Sering aku tertawa ketika terbesit sebuah kebenaran, bahwa aku tak lihai dalam bahasa Inggris. Padahal aku telah mempelajarinya sedari TK. Tetapi anak-anak di luar sana, baru menginjak usia balita, sudah cukup lihai dalam bahasa Inggris.

Ya, memang, mereka terlahir di negara berbahasa Inggris. Tapi sisi menariknya adalah, mereka belajar cepat dengan keluguannya. Bukan sesuatu yang mudah beralih dari bahasa bayi ke bahasa Inggris. Unta saja yang sudah berabad-abad tinggal di Arab masih belum bisa bicara bahasa Arab.

Anak-anak bagaikan kertas putih kosong yang siap untuk diberi gambar atau tulisan. Karenanya mereka berusaha mengisi kertas putih itu dengan rasa keingintahuannya. Jadi hati-hati dalam mengajarkan sesuatu pada anak-anak. Sebab bisa jadi, sesuatu yang sudah tertuang ke dalam "kertas" mereka akan dicap keabadian; tak bisa dihapuskan.


2. Merasa nyaman dengan ketidakpastian

Sejenak aku teringat di masa ketika aku bermain dari pagi hingga sore hari. Kemudian pergi mengaji masih dengan orang-orang yang sama. Malam hari hanya berbincang sebentar dengan keluarga, lalu lanjut ke alam mimpi. Tak pernah aku mengkhawatirkan hari esok.

Anak-anak merasa nyaman dengan segala ketidakpastian hidup. Mereka tak memikirkan bagaimana hari esok akan berjalan. Mereka menikmati apa-apa yang terjadi saat ini, tak menyesali masa lalu, tak khawatir masa depan.

Seperti saat mereka pergi ke taman; mereka tak pernah merencanakan ingin melakukan ini-itu, bahkan mereka tak tahu dengan pasti mengapa mereka datang ke taman. Mereka hanya berlari ke sana dan mulai menikmati apa yang ada. Mereka tertawa.

Sungguh ironis, bahwa orang-orang dewasa hampir tak mau menjalani sesuatu tanpa rencana yang jelas, merasa khawatir dengan ketidakpastian, mengharapkan kesempurnaan.

Kita terlalu mengkhawatirkan segalanya, hingga kita lupa tentang pertanyaan yang paling penting di antara semuanya: mengapa kita ada di sini?


3. Apa adanya

Anak-anak adalah simbol kejujuran. Mereka mengatakan apa yang benar-benar ada, tak peduli itu menyakitkan atau menyehatkan. 

Anak-anak memandang hidup sebagaimana adanya. Misalnya Anda dan seorang anak kecil pergi ke sebuah pertunjukan sulap, di mana benda-benda dibuat melayang di udara. Yang mana di antara kalian berdua yang paling senang?

Pastinya, Anda yang paling senang; sebab Anda tahu betapa mustahilnya semua itu. Sedangkan bagi anak kecil tidaklah terlalu menakjubkan melihat hukum alam ditentang sebelum dia mengetahui hukum itu. Mereka hanya melihat sesuatu sebagaimana adanya.

Dan mereka pun jujur kepada perasaannya. Ketika mereka bersedih, mereka menangis. Ketika mereka bahagia, mereka tertawa. Tidak ada yang bersedih, lalu bersembunyi di balik "topeng tawa". Hanya orang-orang dewasa sepertiku yang demikian.

Itu benar, bahwa dalam situasi tertentu, dusta bisa menyelamatkan sebuah hubungan; dan jujur menghancurkannya. Tetapi bagi mereka yang bijaksana, kejujuran bukanlah sebuah pilihan; itu mutlak. Maka biarkan sisanya mengalir seperti air, boleh jadi kita tak tahu bahwa semuanya akan selalu berakhir baik.

Masalah sebesar apa pun yang tercipta dari kejujuran, itu tidak apa; sepertinya kita lupa, bahwa kita punya Tuhan Yang Maha Besar.


4. Cepat melupakan masalah dan memaafkan

Keponakanku sangat sering berebut mainan dengan keponakanku yang lain. Mereka benar-benar menjengkelkan sekaligus manis saat bertengkar. Salah satu menangis, yang lain mengadu pada ibunya.

Tetapi yang membuatku amat-sangat iri, adalah mereka sangat mudah untuk memaafkan. Rasanya tak ada dendam apa pun sekali pun mereka terlibat dalam perang dunia. Mereka begitu lugu, tak menghiraukan masalah yang ada, dan sangat lapang dalam memaafkan.

Lain halnya dengan kita; seseorang menyenggol tak sengaja pun bisa menimbulkan perang adu mulut. Sungguh menyedihkan!


5. Tidak minder atau insecure

Tidak ada generasi yang lebih sering merasa minder dibanding generasi kita sekarang. Sedikit banyak, media sosial berpengaruh besar dengan "skandal" ini. Ketika membuka beranda media sosial, kita mendapati seorang teman dengan piala besar di sampingnya, sebagian yang lain menunjukkan paras menawannya, dan sebagian yang lain membanggakan tabungannya.

Begitulah Paradoks Kemajuan terjadi: semakin sejahtera dan kaya raya penduduk dari tempat yang kita tinggali, semakin mungkin kita melakukan bunuh diri.

Aku tak terkecuali dalam hal ini. Memang sudah menjadi sifat alamiah orang dewasa, bahwa kita tak ingin terkalahkan. Dan jawaban dari kekalahan itu adalah rasa minder atau insecure.

Anak-anak tidak demikian. Mereka selalu percaya diri untuk pergi bermain dengan siapa pun. Mereka tidak mempersalahkan tubuhnya, bagaimana wajahnya, atau penampilannya.

Dulu, aku berjalan tanpa masalah dengan rambut belah dua. Meskipun terlihat konyol, tapi itu tidak apa. Dan hingga sekarang, aku tak begitu peduli dengan parasku. Sering pula aku tertawa saat menatap wajahku sendiri di cermin. Mereka bilang aku cukup jelek; mana ada! Aku merasa inilah rupa sempurnaku dari-Nya.


6. Berteman tanpa syarat

Sekali pun anak seorang pangeran, dia tak akan malu untuk berteman dengan seorang yang miskin melarat. Bahkan walaupun fisiknya sangat tak setara. Jika ada anak yang memilih-milih dalam berteman, itu bukan dari hatinya. Adalah pengaruh orang tuanya atau lingkungannya yang membuat seorang anak pilih-pilih dalam berteman.

Aku rindu masa-masa itu. Aku bisa berteman dengan siapa pun saat itu. Mereka menerimaku apa adanya. Sekarang, aku hampir tak pernah keluar rumah. Aku punya banyak teman; atau mungkin pernah punya teman. Namun mereka berteman dengan syarat. Setidaknya tidak semua (mungkin).

Aku merasa sangat sulit untuk mencari teman sekarang ini. Sungguh! Anda boleh saja menertawakan ini (karena memang sangat konyol), tapi aku berkata apa adanya. Berteman dengan lelaki selalu membawaku pada sesuatu yang "merusak". Berteman dengan perempuan dianggap mau modus. Ambyar!

Pertemanan penuh syarat sangat menyebalkan. Mungkin tidak saat ini.


7. Pantang menyerah

Sekali peristiwa, keponakanku baru akan mulai berjalan. Dia belajar berjalan dengan api semangat yang berkobar. Tak peduli sudah berapa kali dia terjatuh, dia tetap bangkit dan memulainya dari awal. Tidakkah itu sesuatu yang fantastis?

Kita tak lagi sama. Seiring bertambah tua, semakin kita cinta dengan sesuatu yang instan. Banyak orang yang menjadi sukses bukan dengan menjalani "hukum alam". Mereka memilih jalan pintas, tetapi "jalan pintas itu ambyar"!

Barangkali Anda tak akan kagum pada seorang teman yang pintar dalam segala hal, jika untuk itu, dia tidak berusaha mendapatkannya.

Aku lebih menghargai temanku yang "bodoh" dan berusaha untuk belajar ketimbang mereka yang pintar secara "instan".

Dengan semua alasan itu, aku cukup khawatir menjadi dewasa; suatu kerinduan untuk kembali ke alam jiwa anak.

Posting Komentar

0 Komentar