Cara Menjadi (Lebih) Kreatif

Cara menjadi kreatif, cara menjadi cerdas, cara menemukan ide

"Aku baru saja selesai membaca bukumu kemarin. Nah sekarang, aku akan bertanya, bagaimana ide-ide kreatif itu bisa muncul?" tanya seorang temanku.

"Hmm, aku tidak persis mengetahuinya," jawabku dengan tenang.

"Bagaimana mungkin? Sekarang aku curiga, bahwa kamu hanya menuangkan kembali apa yang sudah ada. Buku itu sebuah plagiarisme?"

"Mengapa aku harus peduli dengan ocehanmu? Sekarang aku bertanya, mengapa kamu bertanya demikian?" tanyaku balik.

"Karena aku ingin tahu. Hanya itu, aku rasa."

"Kamu tidak menjelaskan sebuah alasan, kamu hanya berdalih dari sesuatu yang benar dan nyata, bahwa kamu tak tahu mengapa kamu bertanya demikian padaku."

"Benar juga," ujar temanku dengan senyuman.

"Dan bagaimana kamu mendapatkan sebuah ilham?"

"Tidak tahu, ia datang begitu saja."

"Kamu telah menjawab pertanyaanmu sendiri terhadapku di awal pembicaraan kita." Dia mulai memandang sinis padaku.

Kita berharap bisa menjadi kreatif setiap saat, terutama bagi mereka para penulis dan seniman. Tapi itu bukan sesuatu yang mudah. Entah karena kita memang tidak mampu, atau ada sebuah rahasia yang terkubur. Lama aku merenungkan ini.

Di suatu waktu, kebanyakan secara kebetulan, ide itu tiba-tiba muncul dan karenanya aku menulis tanpa jeda berpikir. Tetapi di waktu lain, ide itu begitu sulit untuk "diundang" hingga rasanya ingin memukul wajah seseorang di depanku. Kiranya sangat menjengkelkan jika ada yang mengganggu.

Barangkali ini menjadi salah satu masalah di kalangan para penulis. Dan bagaimana ide kreatif itu muncul? 

Wahai jiwa kreatif, bagaimana engkau datang?

Akan kuceritakan sebuah kisah yang bisa membantu. Ini adalah kisah yang sangat menyedihkan.

Konon ada seekor lipan yang sangat pandai menari dengan seratus kakinya. Semua makhluk di hutan berkumpul untuk melihat setiap kali lipan itu menari, dan mereka semua sangat terkesan oleh tariannya yang indah.

Tapi ada satu makhluk yang tidak senang melihat lipan menari, dan itu adalah monyet. Barangkali dia merasa iri.

"Bagaimana aku bisa membuat lipan itu berhenti menari?" pikir si monyet. Dia tidak mungkin mengatakan begitu saja bahwa dia tidak menyukai tarian itu. Pastinya dia akan dibenci oleh semua makhluk di hutan. Pun dia tidak dapat mengatakan bahwa dia sendiri dapat menari dengan lebih baik, yang jelas tidak benar. Kita bisa tahu bagaimana seekor monyet ketika mulai menari.

Maka monyet membuat suatu rencana jahat. Dia duduk dan menulis surat kepada lipan.

"Wahai lipan yang tiada tara, aku adalah seorang pengagum tarianmu yang sangat indah. Aku harus mengetahui bagaimana kamu melakukannya ketika kamu menari. Apakah kamu mengangkat kaki kirimu nomor 28 dan kemudian kaki kananmu nomor 39? Atau apakah kamu mulai dengan mengangkat kaki kananmu nomor 17 sebelum kamu angkat kaki kirimu nomor 44? Aku menanti-nanti jawabanmu dengan penuh harap. Dengan penuh hormat, monyet!"

Ketika lipan itu membaca suratnya, segera saja di mulai memikirkan apa yang sebenarnya dia lakukan ketika sedang menari. Kaki mana yang diangkatnya lebih dulu? Dan sesudah itu kaki mana lagi?

Kita bisa menebak akhir dari cerita ini, bahwa lipan itu tidak pernah menari lagi. Kisah yang menyedihkan!

Nah, inilah pentingnya untuk sedikit "tidak mengetahui". Maksudku, penting bagi kita untuk mampu "membiarkan lepas".

Aku berusaha memanfaatkan hal ini dengan menempatkan diri pada keadaan di mana segala sesuatu terjadi dengan sendirinya. Dan ini juga yang menjadi alasan, bahwa aku senang merasa bosan.

Ketika aku memandang kosong ke arah luar jendela, kakak perempuanku akan menganggap bahwa aku sedang melamun dan sedikit stres.

Kenyataannya, aku sedang bekerja. Bagiku, ide-ide kreatif itu datang saat aku merasa bosan.

Ketika ide kreatif itu datang, segera aku mengambil buku catatanku dan mulai menulis tanpa memikirkan apa yang kutulis. Kemudian, aku mengembangkannya menjadi lebih jauh, maka terbentuklah kumpulan huruf menjadi kata, kumpulan kata membentuk kalimat, beberapa kalimat membentuk paragraf, dan rentetan paragraf menyusun sebuah tulisan.

Ini seperti kita saat masa anak-anak. Ketika kita hendak bermain ke taman, kita tidak menyiapkan sebuah rencana bahwa di sana kita akan melakukan ini-itu. Bahkan kita tidak tahu persis mengapa kita datang ke taman. Tapi setibanya di sana, kita hanya melakukan apa pun yang menyenangkan dan mulai tertawa. Betapa indahnya masa-masa seperti itu.

Dan tentu Anda merasa janggal, bagaimana semua ide itu bisa tiba-tiba datang. Dan cara yang kulakukan tentu saja bukan sebatas lamunan kosong tak berfaedah.

Yang sebenarnya terjadi adalah, aku merenung dan berpikir.

Aku percaya, bahwa kita dapat mengingat semua yang pernah kita alami. Barangkali Anda akan menganggapku seorang empirisme; aku tidak begitu peduli.

Nah, dari pengalaman-pengalaman kita di masa lalu itu, akan selalu ada yang menginspirasi kita terhadap lahirnya sebuah ide kreatif. Sungguh! Hanya saja, sebagian ingatan itu tenggelam ke dalam alam bawah sadar kita sehingga kita merasa bahwa semua itu sudah hilang.

Untuk mengangkat kembali kenangan atau ingatan itu, diperlukan sebuah usaha untuk "mendobrak pintu" yang menjadi batas pemisah antara kesadaran kita sekarang dengan alam bawah sadar kita.

Caranya adalah, dengan membiarkan diri merasa bebas; merdeka. Biarkan pikiran mengembara, sekali pun itu merujuk pada sesuatu yang tidak ingin kita pikirkan. Begitulah caraku melakukannya.

Hal ini seakan-akan semua pintu dan semua laci terbuka. Segala sesuatunya berhamburan keluar sendiri, dan kita dapat menemukan seluruh kata-kata dan imaji-imaji yang kita butuhkan.

Inilah saatnya untuk cepat bereaksi, sebelum "pintu" itu tertutup kembali. Kita pasti sering memikirkan sebuah ide yang luar biasa, namun kemudian ide itu hilang saat kita akan menuangkannya. Sedikit banyak, itu karena kita tidak cepat bereaksi terhadapnya.

Kita dapat menyebut ini "ilham". Rasanya seakan-akan yang sedang kita tulis atau lukis adalah sesuatu yang datang dari sumber luar. Pastilah ini merupakan perasaan yang luar biasa!

Dan kita tentunya sudah pernah mengalaminya. Bahkan, aku mengingat persis bagaimana ilham itu datang padaku.

Saat menatap kosong ke arah luar jendela, tiba-tiba terbesit sesuatu yang unik. Aku berusaha belajar sesuatu darinya. Segera aku menulisnya dalam buku catatanku dengan pena. Kemudian duduk di depan laptop, mulai menulis kata per kata, seakan-akan aku menemukan kata-kata yang tak pernah dipelajari. Kata-kata dan gagasan-gagasan itu tiba-tiba berhasil menggerakkan jari-jariku.

Tetapi tentu tidak mudah untuk melahirkan ide kreatif dari pengalaman-pengalaman kita di masa lalu. Karenanya, penulis yang baik juga seorang pembaca yang baik. Karena dengan membaca, kita punya "referensi" untuk mengembangkan suatu pengalaman kita menjadi ide kreatif. Kita semua berpotensi untuk menjadi kreatif!

Dan tidak semua ilham itu layak untuk diungkapkan. Seperti yang telah aku sindir, bahwa kita perlu mengembarakan pikiran, sekali pun pada sesuatu yang tidak ingin kita pikirkan. Maka, tidak semua ide-ide yang lahir itu baik.

Ketika aku memikirkan sebuah aib, baik diriku maupun orang lain, pantaskah aku menuangkannya dalam bentuk tulisan? Tetapi, aku bisa belajar sesuatu yang lain dari itu.

Kita perlu menyaringnya lagi, karena kalau tidak, ide-ide itu penuh dengan basa-basi. Orang-orang tidak suka basa-basi, meskipun aku tidak menemukan penduduk lain yang suka basa-basi selain orang-orang Indonesia.

Sedikit banyak, penyaringan atau pemfilteran ini mirip dengan "seleksi alam" dari teori Darwin. Barang siapa yang tangguh dan kuat untuk menyesuaikan diri dengan alam, dialah yang bertahan dan lestari.

Dalam konteks ide, suatu ide yang kreatif, unik, dan mudah dipahami diri sendiri adalah yang layak untuk dikembangkan. Sisanya, kita bisa "membuangnya lagi ke dalam alam bawah sadar". Biasanya yang seperti itu, sudah diketahui banyak orang. Dan orang-orang tidak suka membaca atau mendengar sesuatu yang sudah basi umum diketahui.

Wahai jiwa kreatif, datanglah di waktu yang tepat, di mana aku sempat mengingatmu sebelum kamu lenyap kembali.

Posting Komentar

0 Komentar