Kita Terbatas dan Itu Tidak Apa-apa

jika kita tak pernah jadi apa-apa, motivasi, jangan menyerah, kita tidak sempurna

Apa yang sekarang dianggap oleh mayoritas orang sebagai "kekacauan hidup" sebenarnya hanyalah pasang surut alami kehidupan. Tidak ada yang salah dengan pepatah "Roda nasib selalu berputar". Saya rasa itu tak akan pernah basi. Dan untuk beberapa alasan, kita sepertinya lupa bahwa kita tidak apa-apa.

Jauh di waktu sebelumnya, saya adalah orang yang pesimis dan cukup benci pada diri sendiri secara keseluruhan. Saya percaya bahwa semua hal yang saya lakukan selalu menghasilkan sesuatu yang menyebalkan dan kacau. Saya ingin berhenti mempercayai hal-hal seperti demikian, tetapi itu hanya lebih banyak membuktikan betapa kacaunya saya.

Namun tampaknya, memiliki keinginan itu cukup berguna. Ingin sukses lebih cepat? Tetapkan tujuan dan segera mencapainya! Ingin menjadi penulis? Segera buka buku, bacalah, dan tuangkan rentetan kata dalam pikiran Anda! Sedikit banyak saya belajar, bahwa kita hanya perlu memulainya dengan keinginan.

Masalahnya, saya ingin berhenti menjadi orang yang cemas saat melihat mereka "lebih baik" ketimbang saya. Dan keinginan untuk berhenti mencemaskan mereka hanya membuat saya semakin cemas.

Tapi inilah tantangan penerimaan diri. Dan penerimaan diri bisa menjadi jalan keluarnya. Secara paradoksal, menerima bahwa saya bukan orang yang percaya diri dan tidak nyaman saat berada di dekat orang lain malah membuat saya merasa lebih nyaman ketika berada di dekat orang lain. Karena dengan ini, saya bisa berhenti menilai diri sendiri dan tidak lagi merasa dihakimi oleh mereka.

Menerima bahwa Anda memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi dan bahwa beberapa orang lebih bahagia ketimbang Anda adalah sesuatu yang tidak masalah. Secara paradoksal, itu membuat Anda menjadi orang yang lebih bahagia dan lebih menerima. Lagi pun, beberapa orang penting dalam sejarah adalah mereka penderita depresi. Anda mempelajarinya!

Kita dipukul habis-habisan oleh paradigma yang berkembang di masyarakat. Dalam acara televisi, kita melihat orang-orang bugar dan sukses. Dalam beranda media sosial, kita melihat orang-orang bahagia dan tertawa. Tetapi untuk beberapa alasan, Anda tidak.

Kita diserbu oleh paradigma masyarakat bahwa menjadi sukses adalah situasi yang luar biasa. Kesuksesan itu seakan sesuatu yang mudah, semacam pil ajaib yang menciptakan kesempurnaan. Tetapi sayangnya, mereka tak menayangkan apa-apa tentang sesuatu yang dapat mendorong kita menjadi sukses. Kita melewatkan ribuan jam tayang "tersembunyi" di balik kesuksesan tersebut. Dan karenanya, kita stres.

Memang sudah menjadi sifat alamiah manusia untuk selalu mencari sesuatu yang lebih baik dari diri kita sendiri. Tetapi ketika kita dihadapkan dengan sesuatu yang lebih baik dari diri kita berulang kali, sepanjang hari, setiap detik; sangat mudah untuk mengira bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri kita.

Hampir sepanjang waktu, kita "dipaksa" memandang bahwa kita bisa menjadi populer dan dicintai oleh semua orang; siapa pun bisa menjadi kaya dan sukses sebelum umur 30 tahun; kita bisa menghilangkan semua kesedihan dalam diri kita!

Itu tidak benar. Ya, saya mengatakannya dengan leluasa!

Kita semua adalah makhluk yang terbatas. Dan itu tidak apa-apa!

Saya telah menyadari bahwa hubungan saya dengan keluarga saya meningkat dalam beberapa waktu belakangan, itu tidak akan pernah menjadi hebat.

Dan itu tidak apa-apa.

Saya telah belajar berkomitmen terhadap sebuah kegiatan yang selalu membuat saya sedikit tidak nyaman. Dan itu juga tidak apa-apa. Komitmen membuat saya meraih kemerdekaan sejati.

Semua orang mengalami depresi pada suatu titik dalam hidup mereka. Barangkali sebagian orang sedang dicampakkan oleh orang-orang kesayangan, sulit melupakan mantan, masalah keluarga yang tak berujung, lingkungan sekitar yang penuh kekerasan, merasa pesimis dengan masa depan, dihantui bayang-bayang kegagalan dalam karier, ditampar rasa insecure oleh teman-teman sebaya. 

Hampir semua orang berharap mereka lebih sukses dari dirinya sekarang.

Semua itu memang menyebalkan, tetapi itu juga bukan hal baru. Itu sudah tidak lagi unik. Semua itu hanyalah bagian dari hidup.

Bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa terhadap masalah-masalah kita. Ini hanya berarti kita harus berhenti berusaha menjadi sempurna. 

Ada pepatah lama Buddha: "Kamu sudah sempurna seperti dirimu, namun kamu selalu bisa menjadi lebih baik."

Bukankah tak pantas untuk mengejar sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kita? Kita semua sudah sempurna dengan apa adanya. Dan itu bisa menjadi lebih baik.

Kesempurnaan bukanlah sesuatu yang harus dijadikan titik akhir, melainkan proses perbaikan itu sendiri. Tak peduli seberapa jauh Anda melangkah, akan selalu ada ruang untuk lebih banyak perkembangan dan lebih sedikit penderitaan.

Tidak ada tujuan akhir. Perkembangan diri merupakan proses yang berulang dan tidak pernah berakhir. Diri sempurna yang kita semua bayangkan selama ini sebenarnya tidak ada.

Seperti yang dikatakan salah seorang guru (misterius) saya, "Kesempurnaan itu tidak ada di sana."

Saya memang payah dalam banyak hal, tapi itu sungguh tidak apa-apa. Saya ingin berkembang!

Kesempurnaan adalah sesuatu yang harus kita jadikan sebagai pendorong perkembangan diri yang tiada akhir. Kita sudah di sana dan kita selalu ada di sana. Kita baik-baik saja. Kita bisa menjadi lebih baik. Tapi kita baik-baik saja.

Barangkali Anda menganggap bahwa diri Anda bukan apa-apa. Dan itu bagus! Artinya Anda akan berkembang. Dan sepertinya kita semua melupakan sesuatu, bahwa pada titik tertentu, kita selalu pernah menjadi "apa-apa".

Posting Komentar

0 Komentar