Terkadang, Jalan Pintas Itu Buruk!

Jalan pintas itu ambyar

Alkisah terdapat seorang petani miskin yang pada suatu hari menemukan sebutir telur emas yang berkilau di sarang angsa peliharaannya. Pada mulanya, ia berpikir ini pasti semacam tipuan. Tetapi, ketika ia akan membuangnya, ia berpikir-pikir lagi dan membawanya pulang untuk diperiksa.

Telur itu ternyata emas murni! 

Si petani tidak dapat percaya akan keberuntungannya itu. Ia menjadi semakin tidak percaya ketika pada hari berikutnya, pengalaman tersebut berulang kembali. 

Hari demi hari, ia bangun dan bergegas menuju sarang dan menemukan satu lagi telur emas. Ia menjadi sangat kaya; semua ini kelihatannya seperti sesuatu yang mustahil untuk menjadi kenyataan.

Jangan-jangan ada mimi peri yang menaburkan debu ajaibnya? Saya rasa tidak!

Namun sewaktu ia bertambah kaya, timbul pula sifat tamak dan tidak sabar; tidak sabar menunggu hari demi hari untuk mendapatkan telur emas tersebut. Akhirnya si petani memutuskan untuk membunuh sang angsa dan meraup semua telur emas itu sekaligus. Tetapi, ketika ia membuka perut angsa tersebut, ternyata kosong. 

Tidak ada telur emas; dan sekarang tidak ada cara untuk menghidupkannya lagi. Tidak ada lagi telur emas yang bisa didapatkan. Si petani telah memusnahkan angsa yang menghasilkan telur-telur tersebut.

Dalam fabel ini terlihat suatu hukum alam, suatu prinsip; definisi dasar dari efektivitas. Kebanyakan orang melihat efektivitas seperti pada contoh telur emas: semakin banyak Anda menghasilkan, semakin banyak Anda bekerja, semakin efektif Anda jadinya.

Namun demikian, fabel ini memperlihatkan pada kita bahwa efektivitas yang sebenarnya adalah suatu fungsi dari dua hal: Apa yang dihasilkan atau diproduksi (telur emas) dan aset yang menghasilkannya atau kapasitas produksi (angsa).

Jika Anda menggunakan pola kehidupan yang berfokus pada telur emas dan mengabaikan angsanya, Anda segera akan kehilangan aset yang menghasilkan telur emas. 

Sebaliknya, jika Anda hanya mengurus angsanya tanpa memerhatikan telur emasnya, Anda tidak akan memiliki persediaan yang diperlukan untuk memberi makan diri Anda atau angsa Anda sendiri.

Di sinilah kita memerlukan keseimbangan; sebuah efektivitas. Kita harus memerhatikan antara hasil yang diinginkan (telur emas) dan kemampuan atau aset untuk menghasilkan (angsa). Kita harus menjaga keseimbangan antara hasil (telur emas) dan penghasil (angsa).

Beberapa tahun yang lalu, saya membeli sebuah steering wheel (sebuah alat menyerupai kemudi sebuah mobil untuk bermain permainan balap di PS3). Saya menggunakannya berulang-ulang tanpa berbuat apa pun untuk memeliharanya. Alat itu bekerja dengan baik selama satu tahun, tetapi kemudian mulai rusak. 

Ketika saya mencoba untuk memainkannya lagi dengan beberapa perbaikan, saya mendapatkan alatnya sudah kehilangan lebih dari setengah kemampuan aslinya. Alat itu pada dasarnya sudah tidak berguna.

Seandainya saya melakukan pemeliharaan dan perawatan terhadap "penghasil" fungsi dari alat tersebut, saya masih akan terus menikmati "hasilnya"; yang berupa kesenangan untuk bermain permainan simulasi balapan. 

Oleh karena itu, saya harus menghabiskan jauh lebih banyak waktu dan uang untuk membeli steering wheel yang baru dibandingkan apa yang harus saya keluarkan seandainya saya memeliharanya. 

Ini benar-benar tidak efektif!

Dalam usaha kita mencari keuntungan atau hasil jangka pendek, kita sering merusak aset fisik yang berharga - mobil, komputer, mesin cuci atau alat pengering, bahkan tubuh kita atau lingkungan kita. Mengusahakan agar "hasil" dan "penghasil" tetap seimbang membuat perbedaan yang sangat besar dalam pemakaian efektif aset fisik kita.

Kita menginginkan "telur emas" berupa hubungan yang harmonis dengan orang-orang. Tetapi kita tidak menjaga "angsanya" dengan baik; tidak membantu mereka ketika kesusahan, tidak mendengarkan mereka ketika resah, atau tidak menanggapi mereka ketika kacau. 

Kita menginginkan "telur emas" berupa kesuksesan dalam mencapai impian kita. Tetapi kita mengabaikan "angsanya" sebagai syarat menjadi sukses; tidak cukup bekerja keras, jenuh dalam berlatih, menolak segala bentuk kegagalan, atau lari dari segala bentuk penderitaan.

Atau jika Anda adalah seorang ayah/ibu. Anda merawat putra dan/atau putri Anda dengan baik, mendengarkan segala keluhannya, menjalin komunikasi yang baik, atau mendidiknya secara tepat, tetapi tidak mampu melihat "telur emas" yang ada dalam potensi putra dan/atau putri Anda; sama saja Anda menyia-nyiakan "telur emas" tersebut.

Dan apa yang sering kita lakukan adalah mencari jalan pintas untuk cepat-cepat mendapatkan "telur emas" seperti si petani dalam kisah tadi. 

Hati-hati dalam memilih

Saya teringat dengan pengalaman saya ketika terburu-buru menulis sebuah ebook. Saat itu banyak teman-teman yang meminta saya membuat sebuah ebook tentang pengembangan diri. Saya pun membuatnya; dengan sangat terburu-buru. 

Saya menulis sebuah ebook tanpa sering membaca ebook, tanpa tahu ebook seperti apa yang nyaman dibaca, tanpa tahu bagaimana tulisan yang berbobot, tanpa tahu cara membuat cover ebook yang menarik. Akhirnya, tak ada satu pun penilaian terhadap ebook saya dan hanya diunduh oleh 5 orang. Begitu kacaunya saya saat itu!

Dengan inilah kita tahu, bahwa jalan pintas tak selalu baik.

Ada hal-hal tertentu yang mengharuskan Anda menempuh "hukum alam" tanpa melewatkannya untuk bisa menjadi berhasil. 

Dalam kasus tadi, saya melewati "hukum alam" yang seharusnya saya tempuh untuk bisa membuat ebook yang baik; mempelajari ebook yang menarik dan berbobot. 

Ketika saya mulai mengulanginya dari awal, menempuh "hukum alam" yang memang harus saya lalui, kemudian memulai ebook kedua. Dan hasilnya, jauh berbeda dari yang pertama. Sangat jauh! Ketika satu orang sangat tertarik dengan ebook itu, dia mulai membagikan link menuju ebook saya di media sosialnya. Banyak penilaian positif yang datang kemudian.

Jika Anda ingin menjadi seorang pengusaha, maka "hukum alam" mengatakan bahwa Anda harus rela menghabiskan waktu untuk belajar marketing yang efektif, berani mengambil risiko, melayani pelanggan yang menjengkelkan, dan mungkin, sesekali mengalami kebangkrutan.

Jika Anda ingin mengklaim diri sebagai ahli biologi, maka Anda harus menempuh pendidikan di bidang biologi, menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk biologi, dan membuktikan kecakapan Anda dalam bidang biologi. Karena jika tidak demikian, Anda telah mengabaikan "angsanya". Dan angsa itu menjadi sakit dari hari demi hari.

Jika Anda ingin sukses masuk ke perguruan tinggi impian Anda, maka Anda harus rela investasi waktu gila-gilaan demi mempersiapkan diri, bukan dengan "menyogok" pihak kampus untuk bisa masuk tanpa ribet. Karena jika demikian, Anda merusak masa depan Anda sendiri. Mempersiapkan dan memantaskan diri sudah menjadi semacam "hukum alam" yang harus Anda tempuh untuk bisa masuk ke kampus impian Anda.

Selalu menjaga keseimbangan antara hasil dan penghasil; itulah pesannya.

Selalu ingat untuk merawat "angsanya" dengan baik kalau ingin "telur emas" yang melimpah dan berkualitas. Tak memerhatikan keuntungan dari "telur emas" pun sama saja tak berguna. Senantiasa ikuti "hukum alam", karena "jalan pintas" tak selalu baik. 

"Jalan pintas" itu ambyar!

Posting Komentar

0 Komentar