Puisi: Ironis

Puisi Senja

Ironis

Seorang pria tua 98 tahun,
dia memenangkan lotre dan meninggal keesokan harinya.
Ini lalat hijau di hidung Anda,
ini adalah grasi hukuman mati, terlambat
dua menit.

Dan bukankah itu ironis, ya?
Ini seperti hujan di malam kencan Anda.
Ini tumpangan gratis bila Anda sudah membayar.
Itu adalah nasihat bagus
yang tidak Anda ambil.

Dan siapa sangka,
itu angka.

Seekor burung takut terbang,
seekor ikan takut tenggelam,
seekor gajah takut gemuk,
seekor katak takut melompat,
seekor belalang tak mau rumput.

Tuan pilot gemetar,
pesawat mengudara tak gentar.
Dia mengemasi kopernya,
mencium selamat tinggal anak-anaknya.

Dia menunggu seumur hidupnya
untuk penerbangan tanpa arah
tak tahu di mana bandara
atau kompas yang menjarah.

Dan saat pesawat itu jatuh, pikirnya
"Nah, bukankah ini bagus?"

Sendu, hidup punya cara lucu
menyelinap pada sanubari
merayu-rayu dengan remeh.
Anda berpikir semuanya, berjalan
baik-baik saja.

Dan hidup punya cara lucu
menjelaskan bak membantu
mendayu-mendayu dengan sepele.
Anda berpikir semuanya salah, semuanya
meledak di wajah.

Kemacetan lalu lintas,
Anda terlambat untuk sirkus.
Tanda dilarang merokok, di penghentian.
Ini seperti sepuluh ribu sendok, ketika
yang Anda butuhkan hanyalah satu pisau.

Ini bertemu perempuan impian saya
dan lalu bertemu dengan pasangannya
gagah berani, tampan mapan.
Hanya sedikit,
sedikit ironis, bukan?

Dan, ya, saya benar-benar berpikir.

Dan bukankah itu ironis, ya?
Ini seperti badai di hari wisuda Anda.
Ini kebahagiaan, penderitaan.
Itu adalah nasihat bagus
yang tidak Anda ambil.

Dan siapa sangka,
itu angka.

12 Februari 2021,
Muhammad Andi Firmansyah
di sudut bumi tak terjajah.

Posting Komentar

0 Komentar