Cerpen: Orang-orang Dewasa Memang Egois!

Anak-anak, orang dewasa, kegelisahan, curhat

 ... angka-angka itu selalu jadi patokan ...

Hai, namaku Ayyara Maheswari. Aku ingin menceritakan beberapa pengalamanku bersama orang-orang dewasa.

Ini terjadi saat umurku masih 12 tahun. Sekali peristiwa, aku membawa seorang teman untuk belajar bersama di rumah.

Hanya selang 2 langkah kakiku memasuki rumah, ibu menyambut kepulanganku yang tengah duduk di sofa. Sepertinya ibu sedang menonton berita-berita gosip di televisi.

Ibu terlihat heran, siapa gerangan anak gadis rupawan yang bersembunyi di belakang punggungku. Aku sudah tahu, maka aku memperkenalkannya, "Oh iya, ini Cheryl; teman sebangku di kelas."

Barangkali ini pertama kalinya aku mengajak seorang teman ke rumah. Aku suka bekerja sendiri.

"Oalah, betapa manisnya! Berapa umurmu? Berapa penghasilan ayahmu? Berapa peringkatmu di kelas?" tanya ibu tampak menyerang. Sepertinya ibu tak mau anaknya terlihat "rendah" di mata temannya sendiri.

Cheryl hanya tersenyum, ia masih bersembunyi di belakangku. Cheryl memang sangat pemalu dan ia tersindir dengan pertanyaan-pertanyaan ibu itu. Aku sadar bahwa Cheryl tak pernah masuk peringkat 10 besar di kelas, tetapi bakatnya dalam melukis sering membuatku bersujud padanya.

"Mari Cheryl, kita masuk ke kamarku!" Lain kali ibu harus diajari sopan santun dalam menerima tamu.

Begitulah orang-orang dewasa. Mereka sangat suka angka. Sangat menyebalkan!

Lain halnya ketika aku memperkenalkan Cheryl pada anak sebayaku, mereka bertanya, "Apakah kamu memelihara seekor kucing yang menggemaskan? Kamu suka bermain bola bekel? Kita bisa bermain bersama! Oh iya, bagaimana dengan makanan favoritmu? Mari bermain masak-masakan!"

Jika kalian berkata pada orang dewasa, "Aku baru saja melihat sebuah rumah yang bagus dengan dinding dari batu bata merah muda, bunga bermekaran di jendela dan burung merpati yang terbang di atapnya, kemudian ...", mereka tidak dapat membayangkan rumah itu.

Kita harus berkata begini, "Aku baru saja melihat sebuah rumah, barangkali harganya mencapai 17 miliar," dan mereka akan spontan menjawab, "Waw, betapa bagusnya rumah itu!"

Suatu ketika, aku bercerita pada ayah, "Aku melihat sebuah mobil berwarna abu yang mungkin hanya muat 4 orang saja. Mobil itu sedikit pendek, tapi tak menurunkan daya tariknya."

Ayah hanya merespon dengan senyuman dan kepala yang mengangguk. Kemudian aku melanjutkan, "Barangkali harganya bisa mencapai milyaran rupiah. Tidakkah ayah terpukau dengannya?"

Mata ayah tampak membesar, ia terkejut dan merespon, "Aih, kamu bisa menunjukkannya pada ayah? Barangkali ayah akan bekerja keras untuk membelinya. Kamu akan bersenang-senang!"

Padahal aku lebih suka naik sepeda. Anak gadis sepertiku tidak boleh mengendarai mobil, ayah!

Semenjak sadar akan hal itu, aku selalu menyebutkan "angka" dalam mendeskripsikan sesuatu. Aku menjadi skeptis, jangan-jangan pikiran materialisme telah membuat orang-orang dewasa menjadi demikian? Orang-orang dewasa memang sering menyebalkan!

Aku lebih suka anak-anak yang dengan lugu memandang dunia ini sebagai permainan yang harus dinikmati. Karena hidup memang demikian.

Tetapi beberapa orang yang sebaya denganku tak sedikit yang demikian. Ketika aku mengatakan, "Aku mempunyai instagram," mereka malah bertanya, "Berapa followers-mu?"

Dulu aku sangat suka melukis, seperti Cheryl. Tetapi orang-orang dewasa di sekitarku memberitahu bahwa aku harus belajar Matematika, Ilmu Bumi, atau Fisika. Aku pun berhenti memegang pensil warnaku dan menuruti apa yang mereka katakan.

Dan sekarang aku sedikit cemburu pada Cheryl. Dia memandang hidup ini layaknya seorang anak kecil yang suka berimajinasi, kemudian menuangkannya dalam lukisan. Dia tampak sangat bahagia dan menikmati. Aku bahkan ragu, apakah dia memiliki masalah hidup? Dia tampak selalu damai.

Aku turut mementingkan angka-angka dalam hidupku.

Paradigma "angka-angka" sudah tertanam dalam diriku, karena aku selalu berusaha membuat orang dewasa mengerti dengan ucapanku. Konsep materialisme telah turut tumbuh dalam pikiranku.

Barangkali aku sudah menjadi dewasa. Aku sudah semakin tua. Dan aku, sudah menjadi orang yang menyebalkan. Mungkin saja!

Anak-anak, orang dewasa, galau, ayunan

Pernah suatu waktu, seorang pria dewasa dengan jas hitam topi detektif datang menghampiriku. "Apa yang sedang kamu lukis, Nak?" tanyanya.

"Aku berusaha melukis gunung-gunung itu. Tetapi, hasil coretanku tak pernah bisa seindah lukisan Tuhan." Aku sedikit tersenyum sembari menunjuk ke pemandangan alam yang rupawan di hadapanku, berusaha ramah pada pria asing itu.

"Apa katamu? Tuhan? Kamu mempercayainya?"

"Tentu, Tuan!"

"Nak, bagaimana mungkin kamu mempercayai hal-hal yang tidak ada wujudnya? Sains membuktikan bahwa sesuatu yang tidak memiliki wujud adalah tidak ada! Segala sesuatu yang tidak dapat dilihat atau disentuh adalah tidak ada. Tuhan tidak ada!" Pria itu berargumen layaknya seorang filsuf.

"Bagaimana cara Tuan mengambil kesimpulan itu?"

"Tentu saja dengan akal sehat, Nak!"

Aku cukup heran. "Di mana letak akal Anda berada, Tuan?"

"Di sini, Nak!" Pria itu menunjukkan jari telunjuknya ke dahi.

"Maaf Tuan, aku tidak bisa melihatnya, atau bahkan menyentuhnya. Bisakah Anda membantu saya untuk itu?"

"Kau gila? Tidak mungkin aku mengeluarkan otakku dari dalam kepala! Kau harus belajar banyak, Nak!" jawab pria itu dengan sedikit kesal. 

Aku berusaha ramah padanya, tetapi niat tak selalu lurus dengan tindakan. "Aku ragu Anda memiliki akal, karena menurut sains, segala sesuatu yang tidak berwujud, tidak bisa dilihat atau disentuh adalah tidak ada!"

Begitulah orang-orang dewasa berperilaku pada kami. Mereka memandang kami sebagai biji kecambah yang baru tumbuh dan tak berhak menyampaikan kebenaran. Kami hanya harus minum susu untuk tumbuh tinggi dan bugar. Orang-orang dewasa memang menyebalkan!

Sekali peristiwa, aku baru saja menerima hasil ulanganku. Nilainya tidak sempurna, salah satu jawaban diberi tanda silang oleh guruku. 

Soal itu berbunyi, "Sebutkan negara-negara yang berbatasan dengan daratan Indonesia!"

Aku sangat mengingat perkara ini. Baru saja kemarin malam aku belajar sedikit Geografi. Aku pun menyebutkan 3 nama negara. Tetapi jawaban itu disalahkan. Aku heran, kemudian bertanya pada guruku tentang alasan jawabanku salah. Barangkali aku salah mengeja nama negara-negara itu.

Kemudian beliau menjelaskan, bahwa perbatasan darat Indonesia itu ada 4 negara. Aku tidak menyebutkan satu negara lagi, katanya.

Spontan aku terkejut. Ternyata belajar semalaman tak menjamin aku mengingat hal-hal yang aku baca. Tetapi aku tak pasrah dengannya. Segera saja aku meminjam ponsel salah seorang teman, kemudian mencari tahu tentang batas darat Indonesia di internet.

Hasilnya sama, daratan Indonesia berbatasan dengan 3 negara; persis seperti jawabanku. 

Aku baru tahu, ternyata google bisa se-oon otakku! Demikianlah aku mengambil kesimpulan. Kemudian aku iseng mencari tahu jawaban soal itu dari buku. Jawabannya tetap sama; persis seperti jawabanku.

Barangkali guruku sedang keliru. Aku menghampirinya di depan kelas, dan berusaha untuk meyakinkannya bahwa jawabanku tidak keliru. Aku tak tertarik dengan nilai sempurna, tapi aku ingin tahu, bagaimana bisa dari "tiga" menjadi "empat"?

Beberapa temanku memerhatikan perbincangan kami. Dan sepertinya itu buruk, guruku tetap bersikukuh dengan "empat"! Akhirnya, semua murid mengambil kesimpulan bahwa "empat" adalah yang benar.

Aku teringat bahwa kita ini negara hukum. Aku mencari dasar hukum tentang wilayah Indonesia dan menemukan UU No. 43 tahun 2008. Di pasal 6 ayat 1 poin a, disebutkan bahwa daratan Indonesia berbatasan dengan tiga negara.

Barangkali guruku tak cukup rela mengakui kekeliruannya di depan kelas. Maka aku berbicara dengannya di luar; hanya empat mata. Aku menunjukkan dasar hukum itu melalui ponsel.

"Ketika ibu kuliah, ibu belajar bahwa daratan Indonesia itu berbatasan dengan 4 negara. Itu sudah sangat lama. Ternyata sekarang sudah menjadi tiga."

Aku tersenyum lega dan segera permisi untuk pergi. Aku sangat bingung, bagaimana mungkin dari "empat" menjadi "tiga"? Apakah daratan bergeser sehingga batas negara kita yang dulu berbeda dengan sekarang? Mungkin daratan memang mengalami pergeseran, tapi apakah secepat itu? Berarti, guruku berhenti belajar ketika lulus kuliah?

Aku mencintai guru-guruku. Dan aku sangat mencintai guru-guruku yang tak henti belajar. Menurutku, begitulah seorang guru sejati adanya.

Aku rasa dua contoh saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa orang-orang dewasa tak cukup rela untuk mengakui kekeliruannya.

Padahal, aku belajar banyak dari kekeliruanku di masa lalu. Aku percaya kaki yang tersantuk meja itu menyakitkan, karena aku pernah mengalaminya. Aku belajar untuk berhati-hati saat berjalan di taman, karena pernah suatu waktu, aku menginjak tahi kucing ketika mataku fokus pada ponsel.

Aku yakin bahwa kekeliruan itu ada hanya untuk dipelajari, bukan disesali.

Betapa indahnya pengalaman-pengalamanku saat menjadi keliru, karena ternyata kekeliruan itu yang telah membuatku berkembang sejauh ini.

Dan karenanya, aku tak lagi mencari momen di mana aku bisa menjadi benar setiap saat; aku hanya mencari tahu kapan aku bisa keliru. Karena kita memang demikian.

Betapa malangnya orang-orang dewasa yang tak suka menjadi keliru. Mereka terlalu gengsi; terlalu malu untuk menjadi keliru.

Aku lebih suka dengan balita yang belajar bahwa api itu panas karena mereka berbuat keliru dengan menyentuhnya.

Dorongan egoistik pada orang-orang dewasa telah tumbuh begitu lebat.

Aku ingin orang-orang dewasa sedikit meniru para balita. Betapa harunya melihat para balita berkembang dengan belajar pada kesalahan-kesalahannya. Dan tentu, orang-orang dewasa pernah menjadi balita.

Tak seorang pun yang mengajariku tentang hal ini. Aku hanya melihat semua ini dari sudut pandang anak-anak. Aku suka anak-anak!

Dan aku, adalah Ayyara Maheswari.

Posting Komentar

0 Komentar