Cara Efektif Mengatasi Rasa Penyesalan dalam Diri

Cara Menghindari, Mengatasi, dan Menghilangkan Rasa Penyesalan

Saya tahu rasa sakit itu; rasa sakit ketika rasa penyesalan menghampiri. Kita mencari-cari cara instan untuk menghilangkan atau mengatasi rasa penyesalan. Tetapi kita tidak mampu.

Saya ingin mengatakannya lebih awal: bahwa terkadang, penyesalan itu baik. Sungguh. Tidakkah Anda menyadari bahwa menghindari rasa penyesalan adalah kesia-siaan? Ya, sama ketika Anda mengusir cecunguk dari lemari baju Anda. Mereka selalu datang.

----------

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan di taman yang menawan dan sejuk. Bunga-bunga mengiringi setiap langkah Anda di sana. Ketika Anda melihat sekeliling, di sana ada banyak sekali orang. Hampir tak bisa dihitung. Orang-orang itu adalah diri Anda sendiri di masa lalu.

Anda mendapati diri Anda yang sedang menjalani tahun-tahun sekolah menengah, diri Anda yang menyebalkan ketika kanak-kanak, kemudian diri Anda yang begitu sombong di usia 20-an. 

Anda akan berbicara dengan diri Anda yang memesona ketika Anda baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya dan merasakan perasaan baru, hubungan yang masih muda. Itu benar-benar terasa sempurna.

Tapi kemudian, akan ada satu "mantan" diri Anda yang ingin Anda hindari. Anda sangat ingat tentang diri Anda yang satu itu. "Mantan" diri Anda yang melakukan hal mengerikan yang belum pernah Anda temukan cara untuk memaafkan diri sendiri. 

Jika akhirnya Anda dipaksa untuk berbicara dengan diri Anda yang itu, Anda akan segera menghukumnya, "Bagaimana kamu bisa melakukan itu? Apa yang kamu pikirkan? Kamu benar-benar bodoh, ya Tuhan."

Semakin lama Anda mengutuk "mantan" diri Anda itu, semakin tenggelam Anda dalam rasa penyesalan. 

Ini semacam metafora (membosankan) tentang apa yang terjadi ketika Anda mengalami penyesalan. Anda akan mengabaikan dan mengacuhkan semua bagian menarik dalam hidup Anda, karena terlalu mempertajam kesalahan Anda di masa lalu yang selalu menghantui. 

Semakin dalam rasa penyesalan yang Anda miliki, semakin banyak bagian menarik yang Anda lewatkan begitu saja dalam hidup ini.


Bagaimana Seharusnya Kita Menyesal?

Penyesalan akan bermanfaat kalau ditanggapi dengan tepat!

Penyesalan adalah salah satu bentuk kebencian pada diri sendiri. Jika siapa Anda hari ini adalah puncak dari semua tindakan yang telah mengarahkan Anda hingga saat ini, maka penolakan beberapa tindakan di masa lalu Anda hanyalah penolakan sebagian dari Anda pada saat ini. 

Maksud saya, tak peduli seberapa "baik" diri Anda sekarang, jika Anda masih saja mengutuk pengalaman Anda di masa lalu (meskipun hanya satu pengalaman), itu sama saja Anda mengutuk diri Anda yang sekarang. Semua terdengar sangat logis, bahwa diri kita yang sekarang adalah hasil "bentukan" dari kita di masa lalu.

Membenci beberapa bagian dari diri kita saat ini membuat kita kacau dan ambyar secara psikologis. Dan membenci bagian dari masa lalu kita juga tidak jauh berbeda. Itu menyimpan rasa malu dan dendam. Itu memainkan rasa benci pada diri sendiri. 

Dan itu membuat Anda benar-benar menarik diri dari keindahan hidup ini.

Tetapi, cara untuk berhenti menyesali masa lalu adalah justru dengan tidak mengabaikannya. Maksud saya, kita malah harus mendorongnya. 

Ini adalah cara untuk melibatkan diri kita sebelumnya, untuk berbicara dengan "mereka" secara langsung dan memahami mengapa "mereka" melakukan semua itu. Dengan cara ini, kita akan lebih bersimpati pada diri kita yang dulu, untuk merawat "mereka", dan akhirnya, memaafkan "mereka".

Seperti metode yang saya sampaikan di awal tulisan ini, bahwa saya selalu mencoba "bertemu" dengan diri saya di masa lalu. Ketika saya merasa menyesal atas suatu pengalaman, saya akan berbicara dengan diri saya di masa lalu. 

Saya akan mencoba untuk memahami alasan mengapa saya begitu bodoh melakukan hal itu, memahami bagaimana saya bisa melakukan kesalahan tersebut, dan mulai untuk bersimpati bahwa semua terjadi dengan alasan yang tak terhindarkan. 

Pada akhirnya, saya bisa memaafkan diri saya di masa lalu.

Seperti bunyi petuah klasik, "Semakin Anda mencoba untuk melupakan sesuatu, semakin Anda mengingatnya."


Apa Perbedaan Antara Kesalahan dan Penyesalan?

Kata-kata Penyesalan

Agak-agaknya, penyesalan hanyalah kesalahan yang belum kita pelajari dengan benar. Sering kali, kita menyesal karena kita melakukan sesuatu yang begitu dahsyat sehingga sulit untuk mempelajari pelajaran yang sesuai. 

Tetapi tak jarang juga, kita menyesal bukan karena tindakan kita begitu menyeramkan, namun hanya karena kita kurang imajinasi untuk menarik makna berharga darinya.

Penyesalan hanyalah bentuk dari kesalahan kita di masa lalu yang belum pernah dipelajari dengan benar.

Belajar dari kesalahan kita adalah komponen mendasar untuk tidak menjadi orang yang menyebalkan, sehingga saya bahkan cukup bingung untuk mulai dari mana. 

Tapi mari kita buat sederhana: jika Anda melakukan sesuatu yang salah, tetapi Anda belajar darinya, maka tiba-tiba kesalahan itu menjadi berguna. Mengembangkan kebiasaan belajar dari kesalahan kita itu seperti ramuan ajaib yang mengubah semua omong kosong memalukan dalam hidup kita menjadi sesuatu yang sangat berharga. 

Dan meskipun hal itu mungkin tidak menghilangkan semua perasaan negatif kita, hal itu tentu saja mencegah hal-hal menjadi lebih buruk lagi.

Penyesalan memiliki tujuan yang adaptif. Itu bisa membantu kita atau menyakiti kita. Ketika kita merasa menyesal, kita bisa berkubang dalam kesalahan masa lalu kita atau kita bisa mengambil langkah untuk memastikan kita tidak mengulangi kesalahan masa lalu kita.

Mungkin Anda pernah mengacaukan hubungan Anda dengan seseorang bertahun-tahun yang lalu dan itu masih menyakitkan ketika Anda memikirkannya. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, lebih baik gunakan itu untuk mengidentifikasi masalah yang mendasari kekacauan itu: mungkin Anda sering menghilang, mungkin Anda terlalu egois, mungkin Anda seorang komunikator yang buruk, atau mungkin cinta Anda datang dengan kondisi yang tidak tepat.

Cara Anda melanjutkan hidup bukanlah dengan merasionalisasi semua perasaan tidak nyaman itu---dengan menyalahkan diri sendiri atau dunia atas kemalangan Anda---melainkan dengan menerima kesalahan Anda, dengan memahami apa yang terjadi dan mengintegrasikan pengalaman itu ke dalam pemahaman Anda tentang siapa diri Anda saat ini.

Ini memaksa Anda untuk bertanggung jawab atas segala kekacauan Anda, dan jika Anda benar-benar bertanggung jawab atas kekacauan itu, Anda tidak akan mengulanginya---maka untuk itulah penyesalan ada.

Tapi, tentu saja, ini jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Setiap pengalaman yang kita alami akan diubah menjadi seperti sebuah alur cerita, kisah, atau narasi di dalam pikiran kita. Dan ketika kita mengalami penyesalan, kita sebenarnya sedang memilih untuk menghidupkan kembali narasi-narasi masa lalu kita. 

Kita memutar kembali narasi kita yang rusak berulang kali. Kita hidup seolah-olah masa lalu masih benar, meski sudah lama berhenti menjelaskan dunia dengan baik pada kita, dan meski narasi yang rusak itu terus menyakiti kita.

Cerita dari masa lalu menentukan jati diri kita. Cerita dari masa depan menentukan kita. Dan kemampuan kita untuk memasuki narasi-narasi tersebut lalu menghayati mereka, demi membuat narasi-narasi itu menjadi nyata, adalah yang memberikan makna pada kehidupan kita.

Masalahnya adalah kita menganggap kegagalan kita di masa lalu sebagai identitas kita yang hilang, diri kita yang seharusnya "ada" tetapi tidak pernah ada. 

Kita menganggap itu sebagai peluang yang hilang. Sama seperti saya yang menganggap bahwa kegagalan saya masuk ke sekolah favorit adalah peluang yang hilang---di mana saya seharusnya menjadi lebih baik dari sekarang, memiliki identitas dan pride yang tinggi, juga memberikan kemudahan dalam mencapai berbagai prestasi. 

Nyatanya, tidak demikian. 

Saya hanya membangun cerita-cerita ideal itu seolah saya seharusnya begitu, padahal bagaimana pun juga, saya akan tetap begini. Kita sering berandai-andai tentang sesuatu, dan jika mencapainya, kita akan menjadi begini-begitu. Faktanya, kita keliru. 

Apa pun yang terjadi, diri kita saat ini adalah realitas nyata sebagai rangkaian takdir yang Tuhan berikan. Kita hanya menyiksa diri kita sendiri dengan citra yang diidealkan itu.

Barangkali Anda pernah berpikir seperti saya, bahwa seandainya Nabi Adam dan Siti Hawa tidak memakan buah terlarang itu, mungkin kita akan tinggal di surga---bukan di bumi yang menyebalkan ini. Padahal nyatanya, itu sangat keliru. Nabi Adam memakan buah itu ataupun tidak, kita tetap akan hidup di bumi. 

Bagaimana pun juga, semua sudah termasuk ke dalam rencana-Nya. Semua sudah berjalan sesuai skenario-Nya.

Ketika Anda sedang menyesali pengalaman-pengalaman Anda di masa lalu, Anda sedang menghidupkan narasi-narasi rusak itu, dan memandang bahwa kekacauan saat ini adalah akibat dari kekacauan di masa lalu. Persetan saja! Biarkan narasi itu mati. Itu tidak lagi membantu Anda. Dan itu juga, tidak pernah, selalu benar.

Biarkan narasi itu mati. 

Dengan mengatasi penyesalan Anda dan menerima kepalsuan diri ideal Anda, maka Anda sedang membebaskan diri Anda untuk dapat mengambil tanggung jawab di waktu sekarang ini.

Seperti bunyi petuah lainnya, "Di mana pun kita berada, di situlah kita berada."

--------------

Berhenti mengejar kebahagiaan, dan mulailah menjalani hidup sebagaimana adanya. Karena dengan begitu ... Saya juga menulis artikel lainnya tentang kebahagiaan di sini.

Posting Komentar

0 Komentar