Siapakah Orang yang Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah Manusia?

Siapakah Orang paling Berpengaruh Sepanjang Masa?

Siapakah orang yang paling berpengaruh sepanjang masa? Isaac Newton? Albert Enstein? James Watt?

Agak-agaknya, Anda akan terkejut dengan jawaban saya terkait pertanyaan itu.


Setiap orang menginginkan kebebasan. 

Mark Zuckerberg pendiri Facebook, Larry Page pendiri Google, dan banyak orang kaya lainnya rela menghabiskan milyaran dollar untuk meneliti kehidupan abadi. 

Bahkan Peter Theil yang merupakan salah satu milyarder Amerika mengemukakan sebuah pernyataan legendaris, “Kita harus menentang ideologi yang mengatakan bahwa kematian setiap individu tidak dapat dihindari.”

Saya ingin memberikan pertanyaan sederhana.

Jika kita melihat sejarah, siapa yang pertama kali muncul dalam benak Anda ketika saya mengatakan bahwa dia membuat kontribusi yang sangat penting bagi kemanusiaan? Dia merupakan kontributor terbaik sepanjang masa bagi umat manusia. Dia merupakan orang paling penting kehadirannya di muka bumi.

Siapa yang pertama kali ada di benak Anda? Isaac Newton? Albert Enstein? Thomas Alva Edison? Atau James Watt?

Adakah salah seorang dari Anda yang berpikir tentang Nabi Muhammad terlebih dahulu? Kebanyakan tidak, karena sistem materialistis telah mencuci otak kita dalam masalah ini. 

Dan sekarang, saya mempertanyakannya!

Pada tahun 1978, ada seorang astrofisikawan bernama Michael H. Hart yang menerbitkan sebuah buku berjudul The 100. Buku itu memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah manusia. 

Bukunya secara hangat diperdebatkan dan konsep bukunya secara luas banyak ditiru. 

Secara mengejutkan, ia menempatkan Nabi Muhammad Saw. di peringkat 1 sebagai orang paling berpengaruh di dunia. Padahal dia sendiri merupakan seorang nasrani. Justru, ia menempatkan Yesus di peringkat 3 sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah. 

Meskipun seorang nasrani, Hart sangat mengagumi sosok Nabi Muhammad. Hal ini tidak terlepas dari peranan beliau yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.

Rasanya sangatlah masuk akal jika kita menempatkan Nabi Muhammad Saw. sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. 

Beliau memberikan kontribusi yang sangat penting dan dibutuhkan oleh semua orang di dunia ini. Berbeda dengan tokoh-tokoh lainnya yang memberikan kontribusi berupa penemuan benda-benda kehidupan yang hanya berlaku di dunia.

Saya analogikan seperti ini: bayangkan Anda tiba-tiba saja berada di dalam sebuah bus. Siapa yang membawa Anda ke sana dan kenapa Anda datang, Anda tidak mengetahuinya.

Nabi Muhammad adalah kontributor terbaik sepanjang sejarah manusia.

Di dalam bus tersebut, Anda menyaksikan sesuatu yang kejam, karena setiap 60 detik, seseorang akan dipaksa turun dan Anda diberitahu bahwa orang itu dibunuh. 

Anda tidak tahu kapan giliran Anda tiba. Di waktu bersamaan, ada orang-orang baru yang masuk ke dalam bus. Anda merasa sangat takut karena Anda mungkin akan dipaksa turun dan dibunuh kapan saja. 

Dalam situasi seperti itu, seseorang datang menghampiri Anda dan berkata, “Kau harus menghasilkan karya dalam bus dan mewariskannya kepada orang-orang yang baru masuk! Jadi meskipun kamu mati, karyamu akan dikenang.” Kemudian dia memberikan karya yang dihasilkannya kepada Anda.

Mungkin Anda akan berkata, “Apa yang kau katakan? Apa kau bercanda? Inikah kontribusimu untukku sekarang? Aku bisa diturunkan kapan saja dan dibunuh. Jika kau ingin berkontribusi sesuatu yang berharga bagiku, selesaikan dulu masalah kematianku!” 

Misalkan Anda belum berkata seperti itu. Anda mendengarkan ucapan orang itu dan mulai mengerjakan suatu karya. Kemudian Anda berkata hal yang sama kepada orang yang baru masuk ke dalam bus, “Buatlah suatu karya dalam hidupmu! Begitulah kamu akan dikenang.”

Masalahnya, apakah hal itu bermanfaat bagi orang yang baru masuk ke dalam bus? Mereka bisa saja diturunkan kapan pun secara paksa, kemudian dibunuh. 

Hal ini tentu hanya “delusional” dan membuang-buang waktu mereka. 

Dan pikirkan bahwa sistem di dalam bus tersebut terus bekerja seperti itu. Generasi baru datang dan pergi, tidak ada seorang pun yang mempertanyakan sistemnya dan menyelamatkan diri sendiri atau orang lain dari bahaya yang sebenarnya. 

Tetapi, mereka lebih memilih kemajuan teknologi dalam hidup mereka untuk dapat dikenang bagi generasi mendatang. Karena dengan melakukan hal tersebut, mereka diakui oleh generasi selanjutnya dan mendapatkan penghargaan, kemudian mencetak sejarah.

Saya rasa jika seorang reporter CNN datang ke bus ini, dia akan melaporkan beritanya dengan headline, “Skandal terbesar sepanjang sejarah”.

Sebarkan Pengaruh, Kurangi Nasihat

Kita berada di bus raksasa yang menampung 7 milyar orang. Di setiap 60 menit, 10.000 orang “diturunkan secara paksa” dan orang-orang materialistis mengatakan mereka kehilangan hidup mereka. 

Dalam situasi seperti ini, apa yang diajarkan oleh sistem modern adalah untuk menghasilkan penemuan baru, melakukan riset sains, dan menghasilkan kemajuan teknologi untuk kehidupan manusia. Inilah definisi “palsu” dari membuat kontribusi bagi generasi selanjutnya. 

Bahkan, kita sebagai muslim berpikir demikian. Ini adalah skandal yang sangat besar. 

Contoh sederhananya adalah skandal pada pelajaran matematika yang mengatakan bahwa 2 + 2 = 5. Seorang guru mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa 2 + 2 = 5. Semua murid harus setuju dan tidak boleh ada satu pun yang menentangnya. 

Dan seorang murid yang perkasa mengangkat tangannya mengatakan, “Maaf, Pak. Bukankah 2 + 2 = 4? Selalu demikian, tak pernah berubah.” Kemudian masuklah 3 orang bersenjata AK-47 menodong si anak itu, mengancam keras pernyataannya itu. 

Kemudian gurunya berkata, “Ini, ambil kapur ini dan tulis di depan bahwa 2 + 2 = 5. Jika tidak, kau akan menyesalinya!”

Anda paham yang saya maksud? Orang-orang yang mengatakan “kebenaran sejati” sering berada dalam situasi seperti sang anak perkasa tadi.

Kita pikirkan apa bahaya terbesar dalam hidup ini. Saya mengumpamakan kita hidup itu seperti sedang ditodong pistol yang pelurunya menembus benda apa pun. 

Pistol itu bisa menembak kita kapan pun dan di mana pun. Jadi logikanya, kita harus menemukan cara agar kita bisa terhindar dari tembakan pistol tersebut, kan? 

Coba pikirkan, jika mereka berkontribusi dengan cara yang telah disebutkan tadi, apakah hal tersebut bisa menyelamatkan kita dari tembakan pistol tersebut? 

Hal itu sama saja ketika kita sedang ditodong pistol, mereka hanya mengatakan, “Hey kawan, ambil iPhone 14 ciptaanku ini. Itu adalah kontribusi kami untuk generasi kalian. Dan kamu harus bisa menciptakan iPhone 15 untuk generasi setelahmu, oke?”

Apakah itu kontribusi yang sesungguhnya? Pistol yang ditodongkan ke arah kita sudah siap menembak kapan pun dan di mana pun. Kita tidak membutuhkan teknologi secanggih apa pun karena peluru dari pistol itu menembus benda apa pun. 

Selama kita masih ditodong oleh pistol tersebut, semua rencana lain pun jadi batal baginya bahkan jika dia punya konser besar, bermain di final piala dunia, atau pun sedang ujian akhir di kampus. 

Satu-satunya hal yang dipikirkan adalah caranya lolos dari maut.

Dalam dunia ini, setiap 60 menit, 10.000 orang meninggal secara acak terlepas dari apakah mereka kaya, miskin, tua, atau muda. Apakah ada seseorang yang tidak dalam masalah besar ini? Dan apa kontribusi yang harus diberikan kepadanya? 

Nabi Muhammad Saw. adalah kontributor sesungguhnya.

Untuk alasan ini, Nabi Muhammad Saw. adalah kontributor terbaik bagi umat manusia di hadapan Allah Swt.. Beliau telah membawa pesan dari “Sang Pemilik Bus” dan menunjukkan skenario yang berbeda untuk kita. 

Beliau memberitahu kita bahwa mereka yang turun dari bus tidak kehilangan hidup mereka seperti yang dikatakan oleh orang-orang materialis. Kebalikannya, mereka hanya dikirim ke kehidupan tanpa akhir, tempat tak berujung. 

Jasad yang dimakan tanah hanyalah jasad atau tubuh kita. Sedangkan ruh kita dikirim ke kehidupan tanpa akhir. 

Jadi, beliau menghapuskan bahaya terbesar kita dan gagasan bahwa kita akan kehilangan hidup kita. Peluru dari pistol itu ternyata tidak perlu dihindari, kita hanya perlu mempersiapkan “bekal” untuk menuju kehidupan tanpa akhir. 

Kita harus benar-benar paham bahwa meneruskan pesan Al-Qur’an tentang adanya kehidupan abadi sama pentingnya dengan memberikan air pada seseorang yang akan mati kehausan. Inilah pertolongan utama bagi milyaran orang yang berada dalam bahaya besar. 

Dan semua kontribusi duniawi menjadi hal nomor dua setelah hal ini. Sistem modern mungkin tidak meyakini hal ini, tetapi kita pemuda muslim harus menentang keyakinan mereka.

Ketika kita ingin mengejar kebenaran, mencoba memberikan kontribusi yang sesungguhnya kepada penumpang, mungkin kita akan dicap sebagai orang yang tidak punya manfaat apa pun terhadap kehidupan di dalam bus. 

Hadiah nobel tidak akan diberikan kepada kita, dan sistemnya mungkin tidak akan pernah menghargai hal-hal yang kita lakukan. Tidak akan memberi Anda gelar atau uang. 

Tetapi kita sebagai pemuda muslim tidak boleh menyerah dalam jihad melawan gagasan kehilangan hidup dengan cahaya Al-Qur’an, baik untuk kita sendiri maupun “penumpang” lain. 

Kita jangan menjadi seseorang yang sekuler. Seiring kewajiban kita adalah memberitahu akan adanya kehidupan abadi, kita tidak boleh membunuh seenaknya dan menjadi boneka. 

Tanpa mengharapkan apa pun, kita harus berusaha menyampaikan pesan Al-Qur’an kepada “penumpang” lain untuk membebaskannya dari rasa takut. 

Saya merasa kasihan kepada Peter Thiel karena dia mencari keabadian dalam material yang pada dasarnya tidak ada yang abadi. Semoga Allah menolong kita untuk memberitahunya dan seluruh dunia dengan bukti-bukti bahwa Al-Qur’an telah mengalahkan ideologinya.

------------------

Saya tahu rasa sakit itu; rasa sakit ketika rasa penyesalan menghampiri. Kita mencari-cari cara instan untuk menghilangkan atau mengatasi rasa penyesalan. Tetapi kita tidak mampu. Saya telah menulis artikel lainnya tentang cara efektif mengatasi rasa penyesalan. Anda bisa membacanya di sini.

Posting Komentar

0 Komentar