Jika Aku tak Pernah Jadi Apa-apa

Kesendirian

Senja ini, aku ingin menulis tulisan ini di atap rumahku. Aku sendirian sekarang. Benar-benar damai dan sepi. Hanya langit senja biru ke-oranye-an yang menemaniku sore ini. Bisakah ini menjadi kisah yang fantastis?

Aku mencoba untuk tenang, berbaring di atap yang penuh dengan lumut, juga menikmati angin yang tidak kencang. Aku berkeringat sekaligus kedinginan. Gembira tapi cemas. Inikah itu?

Rasanya sangat damai dan menenangkan. Yang ada hanya suara burung-burung yang bernyanyi, menyambut hari yang damai ini. Bisakah dunia menjadi seperti ini selama beberapa waktu?

Angin menampar telingaku. Aku tidak bisa mendengar apa pun, hanya suara dari dalam pikiranku sendiri. Rasanya, baru kemarin keluargaku mengalami bencana yang dahsyat, sampai-sampai aku hampir hidup sebatang kara. Tapi itu seminggu yang lalu. Dan sekarang, semua sudah kembali normal.

Bagaimana kalau inilah akhir dari segalanya? Bagaimana kalau inilah perhentian terakhir?

Aku melihat sekeliling. Aku hanya sendiri di atas sini. Aku mulai beranjak dari berbaring, melihat ke bawah, membayangkan bagaimana jika aku melompat ke bawah sana. Seakan-akan ada magnet besar yang tidak terlihat, yang dengan lembut menarik badanku ke belakang agar selamat. Akankah itu lebih baik?

Aku mulai membayangkan, seandainya aku jatuh ke bawah sana, siapakah yang akan pertama kali menolongku? Siapakah orang yang paling keras menangisi kepergianku? Atau semua justru merasa senang?

Aku mulai memberanikan diri mendekati tepi atap rumah. Jarak ku hanya 1 meter dari tepi atap. Salah 1 langkah saja, nyawaku tidak bisa diselamatkan lagi.

Seperti inikah rasanya? Beginikah rasanya akhir dari segalanya? Apakah aku sudah mengetahui setiap hal yang sepatutnya aku ketahui?

Aku hanya bisa mendengar suara gemuruh angin.

Beginikah rasanya?

Aku teringat dengan perkataan Mark Twain, “Ketakutan akan kematian menandakan ketakutan akan kehidupan. Seseorang yang hidup secara paripurna, siap mati kapan saja.


Hidup memang hanya sebuah arena permainan. Tapi jika kita terlalu banyak bercanda, kita sendiri yang akan celaka!


Batas ketakutanku sudah menggila. Aku mulai memundurkan langkah, kemudian kembali berbaring menatap langit yang mulai gelap. Terima kasih, Tuhan, atas ketenangan ini.

Kini, pikiranku mulai kacau. Begitu banyak pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Barang kali kamu bisa membantuku.

Bagaimana dunia akan menjadi berbeda dan lebih baik setelah aku tiada? Pengaruh apa yang akan aku berikan? Mereka bilang bahwa kepakan sayap seekor kupu-kupu di Brazil akan menyebabkan topan badai di Amerika; lalu topan badai macam apa yang akan aku tinggalkan di belakangku?

Kenapa kita begitu ambisius menikmati “permainan” kehidupan? Kenapa kita seakan-akan lupa bahwa kita akan mati? Tanpa pernah mengakui tatapan kematian di hadapan kita, nilai yang sifatnya dangkal akan tampil sebagai sesuatu yang penting, dan nilai yang sifatnya penting akan muncul sebagai nilai yang dangkal. 

Kematian adalah satu-satunya hal yang dapat kita ketahui secara pasti. Dan karenanya, kenapa kita tidak menjadikan kematian sebagai kompas kehidupan kita?

Kita semua akan mati, semuanya. Menakutkan, bukan? Alasan itu saja seharusnya membuat kita saling mencintai, tetapi tidak. Kita diteror dan digilas oleh hal-hal yang remeh dalam hidup; ditelan oleh kehampaan.

Kita berperang dengan mengatasnamakan “Demi Tuhan”. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah perang dan konflik antara tuhan-tuhan. Dan tuhan-tuhan itu adalah kita.

Kita menggembar-gemborkan sesuatu bahwa “A” benar dan “B” salah. Atas nama apakah kita menentukan apa yang benar dan salah di hidup ini? Siapa kita sampai harus menentukan apa yang baik dan buruk di dunia ini? Bukankah semua ini terlalu berat untuk kita pikul?

Kita menyombongkan apa yang telah kita capai, sampai kita terlena, tujuan sesungguhnya tidak pernah kita capai. Atas dasar apa kita menyebut diri kita sudah sukses? Tidakkah itu terlalu berlebihan?

Bagaimana pun, kita ini makhluk yang istimewa. Dan kita juga salah satu makhluk yang perusak. Kita sering sok tahu mencari-cari tujuan hidup kita. Kita bukan apa-apa.

Adakah di dunia ini yang tidak bisa dijungkirbalikkan oleh takdir? Kenapa kita begitu khawatir tentang jalannya kehidupan? Bukankah dunia ini tetap menarik untuk dijalani karena segala keunikan dan ketidakpastiannya?

Aku benar-benar termenung sekarang. Di sini, di atas sini, aku bersaksi atas segala keindahan hidup yang Tuhan berikan. Adakah seseorang yang meragukan hal tersebut?

Aku harap, krisis harapan yang melanda setiap orang segera berakhir. Aku harap, manusia diperlakukan bukan sebagai sarana, tapi sebagai tujuan akhir di mana tiada kesadaran yang dikorbankan hanya untuk tujuan institusi yang lebih besar, di mana tidak ada satu identitas pun dirugikan gara-gara kejahatan atau kerakusan atau keteledoran.

Aku harap, kemerdekaan palsu yang ditawarkan oleh aneka variasi, bakal ditolak oleh orang-orang demi kemerdekaan yang lebih bermakna dan lebih dalam yang lahir dari komitmen. Semoga orang-orang akan memilih pengekangan diri ketimbang menjalani misi konyol pemanjaan diri.

Aku harap, orang-orang tersadar akan krusialnya setiap penderitaan mereka; di mana itu bisa jadi momen titik balik dalam hidup mereka. 

Semoga orang-orang menemukan makna dari setiap penderitaannya. Semoga mereka menggali “emas terkubur” di balik setiap penderitaan. Dan semoga, orang-orang berhenti berlari dari penderitaan dan justru, memeluknya.

--------------------------

Aku tumbuh menjadi seseorang yang soliter. Entah begitu atau tidak, aku merasa senang bergelut dengan kesendirian. Siapa yang menemaniku sejauh ini? Siapa seseorang yang selalu ada untukku sejauh ini? Tidak, kecuali satu orang: Teman khayalanku.

Hey, teman! Terima kasih atas kehadiranmu. Terima kasih telah menjadi motivatorku selama ini. Jangan dulu pergi! Aku harap tidak, dan memang tidak. Kau khayalanku. Kau adalah duniaku. Kau selalu ada selama aku masih menginginkanmu. Semoga, itu menjadi cinta sejatiku selanjutnya.

Tuhan, itulah aminku yang paling serius saat ini. Aku telah sampai kepada fase di mana aku mencintai segala takdir yang Kau tetapkan untukku. Amor Fati! Atas dasar apa aku memaksa Engkau untuk mengabulkan semua keinginanku? Aku hanya ingin menjadi biasa. Aku tidak ingin orang-orang berharap banyak padaku. Aku tidak ingin tahu bagaimana aku bisa benar setiap saat. Aku hanya ingin tahu bagaimana aku bisa keliru setiap saat. Amor Fati! 

Tuhan, jika aku tak pernah jadi apa-apa, itu sungguh tidak apa. Semoga horizon mengizinkan.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Sejauh apapun takdir itu menentangmu, percayalah that's what's best for you right now. Semangatt terus :)

    BalasHapus