Ekspektasi dan Kebahagiaan (Prinsip Stoicism) | Tidak Bahagia Karena Mengejar Kebahagiaan

Ekspektasi dan Kebahagiaan (Prinsip Stoicism)

Pernah tidak sih Anda ingin melakukan sesuatu dan Anda sudah memiliki gambaran bahwa sesuatu itu akan berjalan dengan baik? Karena sesuatu itu tuh merupakan hal yang sudah Anda persiapkan sejak lama. 

Anda telah berekspektasi bahwa tidak ada hal yang bisa mengganggu Anda dalam mencapai tujuan itu. 

Saya sendiri pernah, cukup sering bahkan. Meski sayangnya, kadang ekspektasi saya itu ternyata salah, benar-benar salah.

Sampai saya menyadari, bahwa ekspektasi memengaruhi kebahagiaan kita. Semakin kita mengejar kebahagiaan, semakin kita tidak bahagia. Apa yang salah?

Sebut saja ketika saya mengikuti olimpiade Ekonomi. 

Saya benar-benar mempersiapkan diri untuk hal itu. Tercatat selama tiga minggu lebih, saya mendedikasikan diri hanya untuk membaca materi-materi ekonomi. Siang dan malam. Mengabaikan segala ajakan teman saya untuk nongkrong demi menguasai materi olimpiade itu.

Dan saya menikmatinya kok. Memang ada sedikit rasa jenuh, tapi ekspektasi saya yang begitu tinggi membuat saya rela menghabiskan ribuan jam tayang hanya untuk membaca materi yang membuat otak saya mulai berasap.

Ketika olimpiade itu dimulai, saya sungguh bersemangat. Ayo lah, ribuan jam tayang itu tidak mungkin sia-sia, kan? Ternyata benar, saya tidak terlalu kesulitan mengerjakan soal-soal tersebut. Ya lah, saya sudah mempersiapkannya, dan saya juga memiliki gambaran mengenai soal yang akan keluar sejak awal.

Semua berjalan menyenangkan, sampai sekitar tiga minggu kemudian, saya mendapatkan kabar dari pengumuman olimpiade itu.

Hasilnya, sangat memuakkan. Anda tahu rasanya belajar semalaman untuk ujian, dan ternyata Anda hanya mendapatkan nilai 37. 

Begitu pun yang saya rasakan. Sungguh menyebalkan. Mereka hanya memberi tahu 4 orang yang lolos ke tingkat nasional, tanpa mencamtumkan nilai dari semua peserta. 

Yang jelas, tidak ada nama saya di antara 4 orang tersebut. Hufftt habis perkara.


Entah dari mana asalnya, pasti selalu ada penderitaan. Ekspektasi yang kita dambakan seringkali berbanding terbalik dengan realita. Dan akhirnya, itu yang membuat kita stres, depresi, cemas, rasanya ingin menghantam wajah orang yang ada di depan kita.

Atas ekspektasi yang seringkali tidak terwujud itu, saya tawarkan kepada Anda sebuah filosofi sederhana. Entah manjur atau tidak, bagi saya, ini benar-benar membantu.


Filosofi Stoicism

Filosofi Stoicism atau Filosofi Teras

Para filsuf terdahulu telah menyadari, bahwa emosi kita, baik yang kita rasa positif atau negatif, itu adalah hasil dari ekspektasi kita. Jadi, ini berkaitan erat dengan apa yang kita harapkan.

Jadi begini, kalau kita berekspektasi bahwa hal yang kita lakukan akan berjalan dengan baik, tapi pada akhirnya hal tersebut tidak berjalan baik, ya kita akan merasa sedih, tentu saja.

Berbanding terbalik apabila suatu hal yang kita harapkan tidak terwujud, dan kita memang tidak mengharapkan apapun. Jadi kenapa begitu sedih, toh kita memang tidak mengharapkan apapun.

Jadi, ekspektasi itu sebenarnya sangat memengaruhi emosi kita. 

Dan bisa saya katakan bahwa ekspektasi itu sangat mungkin untuk membunuh kebahagiaan Anda.

Dan ini lah yang berkaitan dengan filosofi hidup Stoicism. 

Menariknya, dibandingkan berpikir positif (mengharapkan hal-hal positif), aliran stoicism justru menganggap bahwa kita seharusnya memiliki ekspektasi yang terburuk dalam memandang sesuatu.

Mungkin Anda akan bertanya, "Lho kok ekspektasinya buruk? Ntar jadi negative thinking dong?"

Saya katakan, "Ya". Karena memang filosofi ini berjalan seperti itu.

Anda perlu menggaris bawahi ini, bahwa berpikir negatif itu supaya kita siap dalam menghadapi apapun hal buruk yang terjadi di masa mendatang.

Misalnya gini, Anda ikut lomba debat. Jikalau Anda mengikuti aliran stoicism, dibandingkan Anda mengekspektasikan hal-hal baik (seperti Anda berharap bahwa Anda akan menang dan argumen Anda bagus dan lawan akan sujud menyembah Anda), lebih baik Anda memiliki ekspektasi buruk (bahwa Anda akan kalah, argumen Anda akan dibabat habis oleh lawan).

Jadi, pikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuknya!

Kok kek gitu?

Misalnya Anda benar-benar kalah, dan argumen Anda benar-benar dibantai habis oleh lawan, Anda tidak akan terlalu kaget. Dan tidak akan sekecewa itu.

Iya lah, toh ekspektasi Anda juga sudah buruk dari awal.

Tapi kalau Anda tiba-tiba menang, seluruh penonton bersorak-sorai untuk Anda, juri bertepuk jidat melihat keuletan Anda dalam berargumen. Ya sudah, Anda malah jadi super duper bahagia, bersyukur, dan mulai tertawa bingah atas kemenangan itu.

Karena alasan yang jelas, Anda telah melewati ekspektasi Anda.

Jadi ekspektasi itu sangat memengaruhi emosi kita, pada dasarnya.

Dan itu juga yang selama ini saya lakukan. Itu juga yang membuat saya tahan banting.

Jika Anda mengenal saya di dunia nyata, mungkin Anda akan beranggapan bahwa saya adalah seorang siluman dari kulkas, karena saya memang dianggap sebagai orang yang cuek.

Ya, saya akui itu. Sial, bahkan salah satu teman saya menggambarkan diri saya sebagai sebuah garis lurus yang tidak ada lengkungan atau tekukan.

Tapi untuk apa terlalu khawatir, karena saya memang tidak pernah berekspektasi tinggi (kecuali tentang cerita olimpiade tadi). 

Juga tentang blog ini, saya tidak pernah berekspektasi bahwa blog ini akan banyak dibaca dan ditanggapi dengan serius oleh banyak orang.

Memang, pada awalnya, blog ini seperti kotoran ayam di lantai rumah Anda. Tidak ada yang menginginkannya, juga tidak menawan untuk didekati. Bawaannya pengen ngebuang aja lah. Bodo amat. Pokoknya benar-benar sepi. Titik.

Tapi ketika ada satu orang yang komen dan isinya positif, itu membuat saya semakin semangat untuk menulis. 

Tidak, bung, ini bukan kode saya untuk menyuruh Anda menaruh komen di kolom komentar.

Tapi sungguh, hal yang membuat saya bertahan adalah ekspektasi. Dari awal, ekspektasi saya memang sudah buruk. Untuk apa mendambakan banyak viewers, toh ekspektasi saya tidak pernah mengharapkan itu.

Memang agak sedih pas awal-awal. Nulis cape-cape, tapi gak ada orang yang menanggapi. Tapi akhirnya, ekspektasi yang membuat saya tersadar, ngapain sedih? Toh dari awal tidak pernah berekspektasi tinggi.

Saya hanya menulis, tidak untuk siapapun, hanya berusaha menghabiskan waktu, menghindari kegiatan-kegiatan negatif yang terus menggoda saya. Dan saya buat lah blog ini.

Jadi untuk apa begitu khawatir ketika postingan saya sepi pembaca, toh saya memang tidak pernah mengharapkan banyak pembaca, hanya berharap bahwa saya melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang saya inginkan. Juga tidak terlalu sia-sia.

Dan yang membuat saya berderai air mata, blog ini telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang luar biasa. Saya menyebutnya sebagai "teman".

Tentu saja, itu sungguh luar biasa bagi seseorang seperti saya yang jarang keluar rumah, hanya berguling-guling di ranjang, atau memanaskan kursi dengan bokong saya.

Karena ekspektasi saya memang negatif, ketika ada respon positif dari orang-orang, itu saja sudah bisa membuat saya bahagia. Sungguh sederhana.


Cari Kemungkinan Terburuknya

Cara Mencari Kebahagiaan

Salah satu figur di balik filosofi stoicism adalah Marcus Aurelius. Jika Anda tidak tahu, dia adalah salah satu orang terkuat di dunia pada masanya.

Dia merupakan seorang kaisar dari kerajaan romawi dan pengikut aliran stoicism. Dan ini tuh keren, menurut saya.

Dia mengatakan bahwa ekspektasi yang diciptakan manusia itu memang harus melalui proses tadi yang saya bahas. Proses ini disebut proses pre-meditation, yaitu proses di mana Anda seharusnya mengekspektasikan hal-hal terburuk yang mungkin menimpa Anda.

Namanya juga meditasi, pikirkan dulu sebelum Anda melakukan sesuatu. Tentang apa? Tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

Jika quotes-nya saya ambil mentah-mentah, dia bilang gini,

Begin each day by telling yourself, today I shall be meeting with interfence, ingratitude, insolence, disloyalty, ill-will, and selfishness- all of them due to the offenders igonorance of what is good or evil.

Saran saya, memang seharusnya seperti itu. Di awal, pikirkan semua kemungkinan terburuk yang mungkin menimpa Anda.

Selepas itu, Anda juga pikirkan, "Memangnya kenapa kalau hal itu terjadi pada saya? Apakah saya masih bisa survive?".

Jika sudah, saya cukup yakin untuk menjamin bahwa Anda akan bisa survive, karena Anda sudah siap atas segala hal yang mungkin terjadi.

Anda sudah bisa memikirkan kemungkinan terburuknya. Demikian lah Anda bisa menjalani apapun yang terjadi.


Kalau boleh jujur, saya ingin blak-blakan saja, bahwa saya, tidak pernah mengharapkan adanya vaksin COVID-19.

Jangan dipotong dulu, bung!

Saya tahu, vaksin pasti ada. Pasti. Titik.

Tapi di dalam pikiran, saya tidak pernah berpikir bahwa nanti akan ada vaksin. Ini lah filosofi stoicism ala saya.

Jika saya yakin bahwa suatu hari nanti akan ada vaksin, saya tidak mungkin menulis ini. Untuk apa?

Saya hanya perlu rebahan di ranjang saya yang super empuk, menonton film-film Netflix seharian, mengotori baju saya dengan cokelat, atau membiarkan ranjang saya berantakan seperti TKP pembunuhan.

Untuk apa melakukan sesuatu? Kan nanti ada vaksin. Ya sudah, rebahan aja menunggu sampai nanti vaksin sudah ada. Seandainya saya yakin bahwa vaksin akan ada. 

Nyatanya, saya tidak pernah berharap hal itu.

Dan ekspektasi buruk itu juga, yang membuat saya semangat seperti terbakar api abadi, menulis tanpa henti meskipun membosankan, membaca setumpuk buku untuk belajar hal baru, juga menghabiskan uang untuk membeli buku-buku yang menarik minat saya.

Karena ekspektasi saya mengatakan, bahwa vaksin tidak akan pernah ada. Jadi terima saja kehidupan ini dengan apa adanya. Tetap persiapkan diri seandainya keadaan menjadi lebih buruk.

Kabar baiknya, jika memang vaksin ditemukan, saya sudah jauh lebih siap menghadapi kehidupan normal seperti sedia kala. Iya dong, harusnya gitu. Karena saya sudah jauh lebih matang dari sebelumnya.

Meskipun saya tetap akan payah. No debat.


Prinsip "Ya Sudahlah"

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Dari filosofi stoicism yang telah saya bahas, pada akhirnya, ini akan membawa Anda pada sebuah ke-bodo amatan pada hal-hal yang tidak terlalu penting.

Dan ini lah prinsip "Ya Sudahlah" ala saya.

Pada intinya, Anda harus list kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Misal, Anda akan ujian di sekolah. Kemudian bayangkan, bahwa Anda akan mendapatkan nilai jelek, dan sebagainya.

Lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, "Kalau nilai saya jelek, memangnya kenapa? Oh, saya akan dimarahi guru. Ya terus kenapa kalau dimarahi guru? Ya sudahlah, besoknya bisa belajar lagi dengan lebih giat."

Demikianlah prinsip "Ya Sudahlah" bekerja.

Sebut saja bahwa saya akan mengikuti lomba esai. Saya akan berpikir seperti ini kira-kira:

Kalau kalah lomba, memangnya kenapa? Ya sudahlah. Artinya, saya harus belajar dari kekalahan itu. Setidaknya, saya tidak terlalu sia-sia dalam mengikuti lomba itu. Apakah saya akan mengecewakan teman-teman atau orang-orang terdekat saya? Ya sudahlah, toh saya hidup bukan untuk membuat mereka bangga. Apakah saya akan diusir dari rumah jika kalah? Ya sudahlah, saya bisa hidup di jalanan, lebih dekat dengan maut, dan itu membuat saya ogah melakukan kegiatan negatif. Apakah pembimbing saya akan benci dan kecewa? Ya sudahlah, kenapa saya harus khawatir?

Begitulah prinsip ini. Sebuah prinsip yang membuat saya bodo amat terhadap anggapan orang-orang, juga tidak tenggelam pada masalah-masalah sepele.

Meskipun pandangannya terkesan pesimis, filosofi stoicism dan prinsip "Ya Sudahlah" ala saya akan menciptakan suasana dan kesan yang positif pada diri kita.

Anda menjadi dituntut untuk fokus ke proses, bukan ke hasil.

Yang mana bisa kita tebak, hasil tersebut tidak bisa kita kontrol.

Dan ini jauh lebih sehat daripada fokus ke hasil. Fokus pada proses, karena Anda akan lebih siap menghadapi kemungkinan apapun ketika hal terburuk menimpa Anda.

Ini juga yang dimaksud pre-meditation. 

Sesederhana itu.

Jadi, kebahagiaan itu sebenarnya bisa kita pengaruhi lewat ekspektasi kita. Bisa kita kontrol.

Emang sih terkesan pesimis, tapi di balik itu, kita menjadi lebih ikhlas. Karena ini akan melatih Anda untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan. Juga Anda akan lebih menerima hal buruk yang menimpa Anda, toh ekspektasi Anda juga sudah buruk dari awal.

Kalau kita marah ketika gagal, ya sudah. Marah kan otomatis. Luapkan saja, dengan cara yang benar pastinya. Kalau senang, ya sudah juga. Jadinya Anda tidak terpengaruh oleh hal-hal yang ada di luar kendali Anda.

Tapi ingat, di sisi lain, bukan berarti Anda tidak melakukan apa-apa juga. Kalau bahasa agamanya, Anda itu harus ikhlas. Tentu dengan iringan ikhtiar.

Dan ini keren, menurut saya.

Untuk menutup postingan ini, saya ingin mengutip ucapan seorang filsuf (saya lupa namanya, maaf).

Don't demand that things happen as you wish, but wish that they happen as they happen. And you will go on well.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. What a beautiful mind

    BalasHapus
  2. Andaikan gw tau filosofi ini dari awal, gw gak mau punya ekspektasi tinggi :'

    BalasHapus