Cara Waras Mengatasi Stres Belajar | Motivasi Ambyar

motivasi ambyar, stres, belajar, edukasi


Libur pandemi masih belum usai. 

Libur yang biasanya terkesan menyenangkan, kini berubah menjadi sesuatu yang menyebalkan. Ini buktinya:

motivasi ambyar, stres belajar


Oh ayo lah, saya hanya mewakili apa yang para pelajar rasakan. Ini bukan tentang saya atau Anda, ini masalah universal.

Karena nyatanya, libur (panjang) kali ini tidak lantas menghilangkan eksistensi dari tugas sekolah. Jadi, saya benci untuk mengatakan bahwa ini merupakan libur pandemi.

Ini sekolah di era pandemi. Orang awam mengatakannya sekolah online. Apa pun istilahnya, jelas ini bukan libur, sayang.

Nah, eksistensi tugas sekolah ketika #belajardarirumah justru semakin menggila. Ya, ini semacam pemberontakan atau semacamnya.

Tentu, ini karena pembelajaran tatap muka secara langsung tidak mungkin dilakukan, sehingga tugas menjadi jalan keluar dari permasalahan ini guna pelajar tetap menjalankan kewajibannya dari rumah.

Apakah ini sungguh baik? 

Masalahnya, terkadang tugas-tugas dari setiap guru itu diberikan dalam waktu bersamaan, waktu deadline yang berdekatan, dan rasa ingin rebahan kita semakin meningkat ketika diam di rumah.


Sekali lagi, apakah itu sungguh baik? Jika Anda mengatakan ini baik dan menyenangkan, saya harus belajar banyak dari Anda, maha guru.

Karena nyatanya:

motivasi ambyar, stres belajar

Tapi, mari kita berpikir sedikit waras. 

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi suatu paham yang saya anut tentang stres dalam belajar. Bukan maksud menggurui Anda, tapi ini tentang kita, kita semua.


Stres Belajar

Stres belajar diartikan sebagai tekanan-tekanan yang dihadapi anak berkaitan dengan sekolah, dipersepsikan secara negatif, dan berdampak pada kesehatan fisik, psikis, dan performansi belajarnya.

Wihh textbook ya..

Intinya gitu deh,, 

Kalau bingung apa itu stres belajar, Anda habiskan saja waktu harian Anda untuk mengerjakan tugas sekolah. Saat Anda merasa pusing dan muak, nah itu yang namanya stres belajar hehe..

Well saya sendiri pernah merasakan itu. Dulu.

Kenapa sekarang tidak? Ini yang ingin saya share kepada Anda.

Mungkin ada orang yang mengoceh dan mengatakan, "Tugasku banyak banget, Ndi. Rasanya tidak pernah selesai."

Ya, saya tahu dan saya sedang merasakannya.


Anda tahu? Pagi-pagi dibangunkan oleh dering notifikasi Google Classroom. Sarapan disambut notifikasi tugas dari WhatsApp. Makan siang didampingi buku-buku tugas. Makan malam diganti kopi supaya tidak mengantuk mengerjakan tugas.

Itu berlebihan, memang. Tapi saya pernah mengalami itu (saya tidak berniat untuk curhat).

Dan menariknya, itu sudah menjadi keseharian kita di kala sekolah online ini.

Mari kita blak-blakan saja: Anda sekolah online hanya untuk mencari nilai, bukan mencari ilmu.

Maaf atas itu, pembaca. Tapi saya cukup yakin itu yang terjadi.

Oke, tugas menumpuk. Tapi apa yang Anda dapat dari mengerjakan tugas sebanyak itu? Sekali lagi saya cukup yakin bahwa Anda hanya mengerjakan tugas-tugas, tidak peduli apa materi yang dipelajari.

Dan ini merusak tujuan dari pendidikan itu sendiri. Jika hanya nilai besar yang kita kejar, itu kenikmatan jangka pendek bagi kita. Karena kita membutuhkan ilmu dalam kehidupan, bukan nilai.

Seseorang akan mengatakan, "Oke, itu benar. Tapi mengerjakan tugas saja sudah bikin stres, apalagi kalau kita harus memahami setiap pelajaran."

Ya, saya paham. Tapi mari kembali kepada suatu kesadaran.

Kesadaran bahwa kita adalah pelajar. Dan tugas dari pelajar adalah untuk belajar. 

Tugas yang meggunung merupakan konsekuensi. Anda tidak bisa dikatakan seorang pelajar apabila tidak ingin belajar dan menolak adanya tugas sekolah.

Apalagi, keadaan saat ini menjadikan tugas sekolah sebagai alternatif termudah dan efektif dalam memberikan pengajaran kepada siswa.

Jika Anda menolak keberadaan tugas sekolah, itu hanya akan menambah stres Anda karena pada akhirnya, mau tidak mau, Anda tetap harus mengerjakannya.

Jadi cara paling sehat adalah mengakui bahwa Anda merupakan seorang pelajar. Tugas pelajar adalah untuk belajar. Dan tugas sekolah merupakan salah satu cara Anda untuk belajar, dan Anda bertanggung jawab atas hal itu.

Dan mari kita cari tahu mengapa banyak pelajar yang mengalami stres belajar.


Tren Menjadi Korban

Salah kaprah tentang tanggung jawab/rasa salah membuat orang-orang melemparkan tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah mereka kepada orang lain.

Anda tahu, ada sebagian orang yang menyalahkan guru atas menumpuknya tugas sekolah. Ada yang menyalahkan pihak sekolah yang katanya tidak becus dalam mengatur sistem pembelajaran.

Apa pun itu, jelas ini bukan salah siapa-siapa.

Kemampuan untuk melepaskan tanggung jawab dengan cara menyalahkan orang lain, memberikan kenikmatan yang cuma sementara, juga memberikan sensasi kenikmatan menjadi orang yang benar/baik secara moral.

Sayangnya, salah satu efek samping dari Internet dan media sosial adalah semakin mudahnya, dibandingkan masa-masa sebelumnya, melemparkan tanggung jawab kepada kelompok atau orang lain.

Ya, semacam postingan keluhan dan perkataan yang tidak pantas diucapkan.


Faktanya, permainan menyalahkan/mempermalukan di lingkup publik ini telah menjadi populer. Dalam kalangan tertentu ini bahkan dipandang sebagai sesuatu yang "keren".

Tren menjadi korban merupakan tren yang berlaku baik untuk mereka yang berpandangan kanan atau kiri sekarang ini, merebak di antara pemuda dan dewasa.

Faktanya, ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah manusia bahwa setiap kelompok demografik merasa menjadi korban ketidakadilan secara terus menerus. Dan mereka semua dengan sengaja menunggangi kegemaran moral yang menyertainya.

Orang-orang pun menjadi kecanduan; merasa dirinya tak henti-hentinya diserang karena ini memberi mereka kenikmatan; menjadi pihak yang dibenarkan, dan secara moral menjadi superior itu terasa enak.

Tugas menumpuk? Salahkan saja guru, mudah.

Tidak seperti itu, Bung!

Ini juga yang menyebabkan para pelajar banyak mengalami stres belajar. 

Mereka merasa menjadi korban atas tugas-tugas yang ditimpakan kepada mereka.

Dan sekali lagi, ini, buruk.

Sebaiknya kita mendahulukan nilai-nilai kejujuran, memelihara keterbukaan, dan menerima keraguan yang muncul atas nilai-nilai seperti merasa paling benar, merasa enak, dan membalas dendam.

Intinya,

Terima apa pun yang terjadi, nikmati dalam melakukannya.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Bener banget, sekolah online lebih tepatnya nyari nilai bukan nyari ilmu :'(

    BalasHapus