Cara Waras untuk Membangun Harga Diri | Motivasi Ambyar

Motivasi Ambyar, harga diri, emosional, dream

Setiap orang memiliki harga dirinya masing-masing, entah dalam level minimum, standar, atau tinggi.

Harga diri lahir sebagai identitas. Ya, ini semacam identitas setiap orang.

Well tulisan ini sebenarnya bukanlah panduan kiat-kiat membangun harga diri bagi Anda. Tapi saya akan berbagi pendekatan yang waras tentang bagaimana seharusnya kita membangun harga diri.

Ini sedikit gila, saya tahu. Tapi mari coba untuk membaca ini sampai selesai. Setidaknya, ini tidak memberikan dosa bagi Anda.

Harga Diri adalah Ilusi

Bayangkan saya memukul tepat di wajah Anda.

Namun bayangkan saya ada di dalam sebuah medan kekuatan gaib yang bisa mencegah setiap konsekuensi jatuh menimpa saya. 

Anda tidak bisa membalas pukulan saya. Anda tidak bisa mengatakan apa pun pada saya. Anda bahkan tidak bisa berkata apa-apa pada orang lain tentang diri saya. 

Saya tak tersentuh, semacam iblis jahannam.

Pastinya, Anda akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa membalas pukulan dari saya.

Tapi apa jadinya jika hal itu tidak pernah terwujud?


Apa jadinya, jika seseorang membuat kita merasa sedih, namun begitu kita tidak mampu membalas atau berdamai?

Apa jadinya, jika kita merasa tak berdaya melakukan pembalasan atau membuat keadaan menjadi nyaman kembali? Apa jadinya jika medan kekuatan saya terlalu kuat untuk Anda?

Jika seseorang memukul kita dan kita tidak pernah bisa balas memukul, pada akhirnya pikiran kita akan sampai pada sebuah kesimpulan yang aneh:

Kita pantas dipukul.

Sudah jelas bukan, kalau toh kita tidak pantas dipukul, bukankah seharusnya kita mampu membalasnya?


Fakta bahwa kita tidak dapat membalasnya, menunjukkan bahwa memang secara inheren kita ini lebih rendah, atau si pemukul memang secara inheren berada lebih tinggi.

Ini juga, merupakan bagian dari respons yang diberikan oleh harapan kita. Sebab jika pembalasan tampak tidak mungkin, otak kita menyodorkan jalan terbaik berikutnya: menyerah, menerima kekalahan, menilai diri sendiri inferior dan rendah.

Ketika seseorang menyakiti kita, lazimnya kita segera beraksi "Dia si bejat dan saya yang alim".

Tapi, jika kita tidak kunjung mampu membalasnya dan menindak dia seturut kealiman tadi, otak kita akan mempercayai satu-satunya penjelasan lain: "Saya lah si bejat, dan dialah yang alim."

Emosi-emosi yang kita alami selama ini membentuk cara kita dalam menilai segala hal yang terkait dengan diri kita.

Penyerahan dan pengakuan diri sebagai orang yang memang terlahir inferior, sering disebut minder atau rendah diri. Apa pun sebutannya, hasilnya tetap sama: Kehidupan mengganjal langkah Anda sedikit saja, dan Anda merasa tak berdaya untuk menghadapinya. 

Maka, otak Anda menyimpulkannya bahwa memang Anda layak menerimanya.

Sebaliknya, tentu saja berlaku sama.

Jika kita diganjar sesuatu hal tanpa benar-benar bersusah payah (trofi partisipasi dan prestasi katrolan dan medali emas untuk peringkat ke-9), kita (dengan salah kaprah) memercayai bahwa diri kita terlahir hebat, melebihi kenyataan kita yang sesungguhnya. 

Kita lalu mengembangkan harga diri palsu yang ketinggian, atau yang umumnya lebih sering disebut sebagai jemawa.

Harga diri bersifat kontekstual.


Jika Anda sering dicemooh karena memakai kacamata tebal dengan hidung yang aneh waktu kecil, otak Anda akan mengenali diri Anda sebagai seseorang yang tolol, bahkan sampai kelak Anda dewasa dan menjelma sebagai seseorang yang ganteng sekalipun.

Harga diri yang tinggi dan rendah tampak berbeda di permukaan tapi keduanya merupakan dua sisi mata uang palsu. Karena entah Anda merasa seakan lebih baik ketimbang seisi dunia atau lebih buruk ketimbang seisi dunia, keduanya sama-sama mengandung sebuah kebenaran: bahwasanya Anda membayangkan diri Anda sebagai sesuatu yang istimewa, yang terpisah dari dunia ini. 

Seseorang yang percaya dirinya layak diperlakukan istimewa karena ia merasa hebat, tidaklah berbeda dengan seseorang yang layak diperlakukan istimewa karena merasa dirinya bobrok.

Keduanya sama-sama narsistis. Keduanya berpikir diri mereka istimewa.

Keduanya berpikir dunia harus mengecualikan mereka dan memperhatikan nilai-nilai dan perasaan mereka lebih daripada orang lain.

Harga diri adalah ilusi. Itu hanyalah bangunan psikologis yang dirancang oleh otak kita supaya dapat memprediksi mana saja yang bisa menolong dan mana saja yang justru melukai.

Pada intinya, kita harus merasakan sesuatu tentang diri kita sendiri untuk bisa merasakan sesuatu tentang dunia, dan tanpa perasaan-perasaan tersebut, mustahil bagi kita untuk menemukan pengharapan.

Kita semua memiliki narsisisme dalam kadar tertentu.

Kita semua terlalu kepedean dengan keahlian dan kemampuan kita dan meremehkan keahlian dan kemampuan orang lain. 

Banyak orang percaya bahwa mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam segala bidang, terutama saat mereka sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Kita semua cenderung percaya bahwa kita lebih tulus dan baik hati ketimbang yang senyatanya.

Masing-masing dari kita ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. 

Ketika kita yang menjadi biang kegagalan, kita cenderung menganggapnya sebagai kesalahan kecil yang membawa hikmah. Tetapi ketika orang lain menjadi biang kegagalan, kita langsung menilai karakter orang tersebut.

Setiap institusi akan membusuk dan bobrok dengan sendirinya. Setiap orang, jika diperbesar kekuasaannya dan dikurangi hambatan-hambatannya, diperkirakan akan memperalat kekuasaannya demi keinginannya sendiri.

Setiap individu akan pura-pura buta dengan kekurangannya sendiri, sambil terus menguber kekurangan-kekurangan orang lain.

Selamat datang di Bumi. Nikmatilah kunjungan Anda.


Otak kita membelokkan realitas sedemikian rupa sehingga kita percaya bahwa permasalahan dan derita kita merupakan sesuatu yang istimewa dan unik di dunia ini, walaupun nyatanya tidak demikian.

Mari kita blak-blakan saja: Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit, dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal mengalir saja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

Tapi narsisisme dalam diri kita ini bukannya tanpa pengorbanan. Entah Anda percaya bahwa Anda adalah yang terbaik di dunia ini atau yang terburuk di dunia, satu hal yang juga benar: Anda terpisah dari dunia ini.

Dan keterpisahan inilah yang akhirnya mengekalkan penderitaan yang seharusnya tak perlu ada.

Apakah Anda menangkap pesannya? Jika tidak, ini! Secangkir kopi untuk Anda. Bahkan saya menggambar emoticon senyum dengan satu mata berkedip di atasnya. Manis sekali, bukan?

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Gue ngerti min, kita seringkali nganggap diri kita A, B, C. Padahal harga diri kita itu kontekstual. Harga diri adalah ilusi. Harusnya kita lebih realistis dalam berpikir dan lupakan identitas kita karena hidup dinamis dan kita harus bisa menyesuaikan. Gilaaa.. Gue udah cocok jadi penulis juga gak min? :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngapain di sini? Ayo buat blog Anda sendiri sekarang.. wkwk

      Hapus