Manusia dan Penderitaan dalam Hidup di Dunia ini - Motivasi Ambyar

Manusia, Masalah, dan Penderitaan dalam Hidup


Siapa di dunia ini yang ingin bebas dari masalah dan penderitaan? Saya cukup yakin, semua orang memiliki jawaban yang serupa.

Sayangnya, kehidupan tidak berjalan seperti itu. Manusia dan penderitaan tidak akan bisa terlepaskan dalam kehidupan di dunia ini.

Masalah adalah konstanta dalam hidup ini, seperti konstanta dalam sebuah rumus matematika, akan selalu ada. Karena hidup merupakan rentetan dari masalah, pada dasarnya.

All life is problem solving.

Menghindari masalah dan penderitaan sama halnya Anda masuk ke dalam masalah dan penderitaan itu sendiri. Sebab manusia dan penderitaan, adalah pasangan yang tidak disadari banyak orang.


Salah Kaprah dari Menghindari Masalah

Salah Kaprah dari Menghindari Masalah


Sekitar 2500 tahun yang lalu, di kaki bukit Himalaya yang sekarang dikenal dengan Nepal, tinggallah di sebuah istana yang megah, seorang raja yang menunggu kelahiran seorang putra mahkotanya.

Sang raja berencana bahwa putranya ini tidak akan pernah mengenal sesuatu yang disebut sebagai penderitaan—setiap kebutuhan dan keinginannya senantiasa akan dipenuhi.

Sang raja mendirikan dinding yang tinggi mengelilingi istana untuk mencegah sang pangeran mengetahui dunia luar.

Anda tahu, semacam pagar beton raksasa yang mengitari istana dan tidak seorang pun mampu menembusnya. Setiap kali anaknya itu merengek ingin sesuatu, maka para pelayan akan sigap melayaninya.

Dan seperti yang direncanakan, anak tersebut tumbuh tanpa mengenal kejamnya kehidupan manusia.

Semua berjalan menyenangkan, sungguh menyenangkan. Sang pangeran ingin makanan enak? Tenang! Para pelayan akan berlomba-lomba untuk memenuhi keinginan sang pangeran. Semacam lomba memasukkan paku ke dalam botol di bulan Agustus, semua peserta berlari secepat mungkin tak peduli apa yang ada di depannya, yang penting objek sasaran bisa cepat diselesaikan.

Waktu demi waktu, semua berjalan dengan baik, menyenangkan sekali bahkan. Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin hidup seperti itu?

Tidak perlu repot memikirkan kebutuhan hidup, tak payah banting tulang mencari kertas dan koin yang mereka sebut sebagai uang, atau mengalirkan air mata dari sebuah penderitaan.

Seluruh masa kecil sang pangeran berjalan seperti itu. Meskipun mendapat kemewahan dan kelimpahan, pangeran ini menjadi anak muda yang judes. Tidak ada bedanya seperti sebagian pejabat kita yang diberikan keleluasaan wewenang.


Kejenuhan Sang Pangeran

Tidak lama, setiap pengalaman terasa hampa dan tidak bernilai bagi sang pangeran. Masalahnya adalah, apa pun yang diberikan sang ayah, tampak tidak pernah cukup, tidak pernah berarti apa pun.

Di suatu malam yang sudah larut, sang pangeran menyelinap keluar dari istana untuk melihat apa yang ada di balik dinding.

Ia menyuruh salah satu pelayan untuk mengantarkannya ke desa setempat, dan apa yang ia lihat di sana membuatnya sangat takut.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, sang pangeran melihat penderitaan manusia.

Dia melihat orang sakit, orang yang sudah tua renta, gelandangan, hingga orang yang sekarat.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Kita harus Menangis Sesekali

Sang pangeran kembali ke istana dan dirinya kini berada dalam sejenis krisis eksistensial. Karena tidak mampu mencerna apa yang dilihatnya barusan, ia menjadi galau atas semua perkara dan mulai banyak mengeluh.

Masalahnya terletak pada kekayaan, pikir dia, dan itu membuatnya sangat menderita, sehingga hidupnya terlihat begitu tak berarti.

Malam berikutnya, sang pangeran menyelinap keluar lagi dari istana, dan kini ia tidak akan pernah kembali. Bukan hanya itu, dia berencana untuk melepaskan segala kekayaannya, keluarganya, dan semua yang dimilikinya.

Sang pangeran akan tinggal di jalanan, tidur di tempat kotor seperti kucing jalanan, dan mengemis sebiji kacang dari orang asing sepanjang hidupnya.

Dan dalam waktu yang tidak lama, sang pangeran hidup seperti seorang gelandangan, sampah masyarakat yang dilupakan, seperti kotoran ayam di lantai rumah Anda.


Nilai dari Sebuah Penderitaan

Sang pangeran sangat menderita. Dia merasakan penderitaan lewat penyakit, kelaparan, rasa sakit, kesepian, dan membusuk. Dia menghadapi jurang kematian, cukup sering bahkan. Anda tahu, hanya makan satu keping kacang setiap hari.

Tahun demi tahun berlalu, sang pangeran masih saja hidup menderita, tidak mampu menemukan makna apa pun dari penderitaannya, dan ini membuatnya cukup jengkel.

Pada akhirnya, sang pangeran menemukan jenis pemahaman yang selalu ada dalam benak sebagian orang: bahwa penderitaan sangat menyebalkan, menjengkelkan dan tidak ada maknanya juga. Sama halnya dengan kekayaan, penderitaan tidak akan bernilai jika dilakukan tanpa ada tujuan.

Baca juga: Pentingnya Perubahan Diri!

Seperti yang dikisahkan dalam legenda, sang pangeran kebingungan dan pergi menuju sebuah pohon besar di dekat sungai. Ia mulai membersihkan dirinya, membasuh wajah dekilnya, dan kemudian duduk bersandar di pohon besar itu.

Karena itu membuatnya cukup tenang dan damai, sang pangeran memilih untuk bertapa di bawah pohon besar itu. Dalam legenda, dikatakan bahwa sang pangeran bertapa selama 49 hari. Kita tidak perlu mempertanyakan apakah mungkin seseorang bisa duduk di tempat yang sama selama 49 hari, yang jelas dapat diketahui bahwa dalam rentang waktu itu, sang pangeran menemukan sejumlah kesadaran yang mendalam.

Salah satu kesadarannya ialah: bahwa hidup itu sendiri adalah suatu bentuk penderitaan.

Orang kaya menderita karena kekayaannya. Orang miskin menderita karena kemiskinannya. Orang yang tidak punya keluarga menderita karena tak punya keluarga. Orang yang mengejar kenikmatan duniawi menderita karena kenikmatan duniawinya. Orang yang tenar seantero negeri menderita karena ketenarannya.

Bukan berarti, semua penderitaan itu sama. Beberapa penderitaan tentu lebih menyakitkan ketimbang penderitaan yang lain.

Meskipun demikian, kita semua pasti menderita.

Seiring berjalannya waktu, sang pangeran membangun filosofisnya sendiri bahwa: rasa sakit dan kehilangan tidak dapat dielakkan dan kita harus belajar untuk berhenti menolaknya.

Sang pangeran itu kemudian dikenal sebagai Buddha. Dan andaikata Anda belum pernah mendengarnya, pribadi ini salah satu yang luar biasa.


Bahaya Lari dari Masalah

Bahaya Lari dari Masalah


Mungkin saja sang pangeran mati karena kegelisahan dan penderitaannya. Namun bisa kita pahami, justru penderitaan itulah yang membuat sang pangeran menyadari sesuatu. Sesuatu yang bisa menyelamatkan kita dari suramnya kehidupan dunia.

Jika Anda benar-benar paham atas hal ini, Anda akan mulai menyesal, bahkan berderai air mata karena ingat masa-masa ketika Anda lari dari permasalahan.

Dan buruknya, itu membuat masalah Anda semakin besar, bukannya selesai.

Seperti bumerang, Anda melemparkannya dan besar kemungkinan bumerang itu kembali pada Anda, bahkan membunuh Anda jika Anda tidak siap menerima kembali kedatangannya.

Sama kasusnya pada masalah-masalah yang Anda miliki. Jika Anda membuangnya sejauh mungkin, besar kemungkinan Anda akan celaka karena masalah itu sendiri.

Karena masalah itu akan kembali kepada Anda dengan kesulitan yang lebih rumit, dan kini Anda mulai menyesalinya.


Snowball, Si Pahlawanku

Seandainya saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan super hero versi saya sendiri. Sebut saja namanya si Snowball. Bukan, bukan sebuah bola salju.

Jika Anda tahu, ini adalah tokoh kartun dalam film The Secret Life of Pets.

Berwujud seekor kelinci yang menggemaskan, tapi cukup garang. Dia akan memakai kostum murahan berwarna biru yang kekecilan karena perut buncitnya, huruf kapital "S" di kostumnya (tepat di bagian perut), topeng mata yang culun, dan sayap seperti superman di belakangnya. Apalagi, pipinya chubby sekali. Dan jangan lupa dengan dua giginya yang mungil.

Manis sekali, bukan?

Kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar, namun tidak ingin mereka terima.

Dan lihat, sekarang dia mulai menjalankan aksi heroiknya.

Menghampiri pintu demi pintu seperti salesman. Kemudian dia membunyikan bel pintu, dan mengatakan hal-hal seperti, “Tentu saja, menghasilkan banyak uang membuat Anda merasa senang, namun itu tidak akan otomatis membuat orang terdekat Anda mulai mencintai Anda,” atau “Apa yang Anda anggap sebagai ‘pertemanan’ sesungguhnya adalah upaya Anda secara konstan untuk membuat orang lain terkesan,” atau “Ucapan sayang dari pasangan Anda bukan berarti dia benar-benar menyayangi Anda”.

Lalu ia akan mengakhiri aksi heroiknya dengan berkata kepada tuan rumah semoga harinya menyenangkan, dan mulai berlari seperti ninja konoha menuju rumah berikutnya.

Ini akan terdengar luar biasa. Dan gila. Dan menyedihkan juga sih. Tapi jelas memotivasi, dan penting.

Lagi pula, kebenaran yang paling agung dalam kehidupan biasanya merupakan kebenaran yang paling tidak enak didengar.

Si Snowball tukang nyinyir ini akan menjadi pahlawan super yang tidak diinginkan seorang pun, namun dibutuhkan siapa pun.

Dia akan membuat hidup kita lebih baik meskipun membuat kita merasa lebih buruk.

Baca juga: Jangan Takut Salah dalam Hal Apapun!

Alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis, penderitaan itu bermanfaat.

Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi.

Bayangkan Anda sedang santai berjalan menyusuri isi kota. Tak lama kemudian, Anda tersandung oleh sebuah batu yang cukup membuat Anda mengatakan kata-kata mutiara.

Tidak masalah, karena secara tidak sadar, Anda kini akan lebih berhati-hati dalam berjalan. Tentu saja, Anda tidak ingin kejadian yang sama terjadi lagi pada Anda.

Maka Anda sekarang belajar suatu hal sederhana, bahwa Anda harus memerhatikan kondisi jalanan yang Anda lalui.

Jadi, jelas keliru—rasa sakit dan penderitaan kita bukanlah hama bagi evolusi manusia; itu adalah suatu keistimewaan.

Dan seperti rasa sakit fisik, rasa sakit psikis kita tidak selamanya buruk atau bahkan tidak diinginkan.

Dalam beberapa kasus, mengalami rasa sakit emosional atau psikis justru menyehatkan atau perlu.

Seperti halnya jari kaki kelingking yang tersandung pada meja mendidik kita untuk tidak lagi tersandung meja, derita emosional akibat penolakan atau kegagalan mengajarkan kita bagaimana cara mencegah kesalahan yang sama di masa depan.

Dan inilah hal yang sangat berbahaya dari stigma di luar sana: selalu mengelak dari ketidaknyamanan hidup yang jelas-jelas ada.

Akhirnya kita kehilangan manfaat dari mengalami dosis rasa sakit yang menyehatkan, sebuah kerugian karena kita terputus dari kenyataan dunia di sekitar kita.

Anda boleh saja ngiler dengan ide tentang kehidupan yang bebas dari masalah—seperti mimpi dari Madara Uchiha di sekuel Naruto—atau penuh dengan kebahagiaan yang tidak pernah berakhir, namun di dunia ini masalah tidak akan pernah berakhir.

Masalah merupakan konstanta dalam hidup kita.

Hey lihat, Si Snowball baru saja mampir.

Kami minum coffe latte dan dia mengatakan kepada saya, “Pada intinya, Ndi, hidup hanyalah rentetan masalah yang tidak ada ujungnya.” Dia menyeruput tetesan terakhir dari minumannya, kemudian melanjutkan, “Solusi terhadap satu masalah hanya akan menciptakan masalah lain.” Ujar dia.

Tunggu dulu, dari mana kelinci tukang ngoceh ini datang. Dan hey, siapa yang membuat coffe latte ini?

Setelah lama berbincang, ia berdiri dari tempat duduknya, membetulkan letak sombrero-nya, dan berjalan heroik menuju matahari terbenam.

Akhir dari Penderitaan


Posting Komentar

0 Komentar