Ramai terkait Pelarangan Kata Anjay, Haruskah Dibuat Kurikulum Etika di Internet?

Motivasi Ambyar, anjay


Disclaimer: Tulisan ini akan bercampur dengan opini. Jadi, saya dan Anda bisa menggunakan "kacamata" yang berbeda dalam memandang suatu masalah. Jika Anda berbeda pandangan, silakan tuangkan dalam kolom komentar untuk berbagi hal tersebut dengan yang lainnya.

Let's begin..

Akhir-akhir ini, jagat dunia maya, terutama Twitter, dihebohkan dengan Surat Edaran Komnas PA terkait penggunaan kata "anjay".
Motivasi Ambyar


Dan ya, saya membuka ini dengan sebuah informasi berbahasa textbook. Dan itu akan sangat membosankan untuk dibaca karena terkesan kaku. Jadi, mari sedikit lebih santai dan berpikir jernih. 

Telah kita ketahui bersama bahwa dalam beberapa tahun terakhir sudah sangat marak sekali kasus bullying, terutama cyberbullying.

Motivasi Ambyar



Sekadar informasi, cyberbullying merupakan bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital.

Dan dampak dari cyberbullying pun tidak main-main. 

Benar, ini bisa membuat seseorang stres dan depresi, kehilangan rasa percaya diri, bahkan paranoid.

Dan ini praktis. Sungguh, saya tidak main-main.

Saya bisa saja menjatuhkan seseorang yang saya benci dengan membuat akun palsu dan menuangkan segala kebencian saya kepada orang itu dengan mengomentari status-status media sosialnya, kemudian mengatasnamakan "anonim"

Persetan sajalah, dia tidak akan tahu itu saya. Dan saya tidak perlu membuang waktu dan tenaga menghinanya secara langsung atau melayangkan pukulan tepat di wajahnya. 

Ini praktis, kita bisa menjadi "anonim" di dunia maya. Jadi berhati-hatilah jika ada seorang anonim yang menghina Anda di media sosial, bisa jadi itu adalah orang terdekat Anda.

Well sudah seharusnya kita berhati-hati terhadap setiap orang, karena setiap orang bisa berkhianat seperti ucapan seorang pria di malam minggu. 

Sampai di mana kita tadi. Oh ya, cyberbullying. Benar!

Fakta bahwa cyberbullying memiliki dampak yang mengerikan, maka harus ada solusi atas hal ini.

Saya terlintas sesuatu atas hal ini.

Jika saya menulis tulisan tentang cara menanggulangi cyberbullying, maka besar kemungkinan hanya mereka yang membaca tulisan saya saja yang menerima informasi itu. Sedangkan pelaku cyberbullying itu sendiri mungkin tidak akan membaca tulisan saya. Cukup logis, bukan?

Jadi terlintas lah pikiran ambyar di dalam otak saya, "Bagaimana jika kita memasukkan Etika di Internet dalam kurikulum pendidikan Indonesia supaya semua anak tahu cara menggunakan internet dengan elegan?"

Manis sekali, bukan? Suatu waktu, akan terkenang dalam sebuah headline berita "Kurikulum Tata Krama Online yang ditemukan oleh seorang pemuda, Muhammad Andi Firmansyah"

Uwww... 

Dan tidak berhenti di situ. Saya melakukan research kecil-kecilan dan ... Boomm!! Saya menemukan video yang diunggah ke kanal YouTube skinnyindonesian24 bertajuk "Jawaban Nadiem Makarim". 

Ternyata oh ternyata, bukan hanya saya yang bermimpi adanya kurikulum etika dalam menggunakan media sosial. Youtuber kakak beradik, Jovial da Lopez dan Andovi da Lopez pun memiliki mimpi yang sama dengan saya.

Sebuah kebetulan, kah? Entahlah, saya pun kaget sendiri sambil tersenyum girang ketika menemukan video ini. Jawaban yang saya cari ternyata telah terjawab 2 bulan yang lalu oleh Pak Nadiem Makarim.

Dan jawabannya, sangat mengejutkan.

Logical Answer

Menariknya, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Pak Nadiem, pernah juga mengalami bullying ketika SD. Beliau diolok-olok oleh temannya dengan ocehan "bule gak jelas". 

Karena pada saat itu beliau bertubuh sedikit gendut dan wajahnya yang ke Arab-araban.

Dan sekarang pertanyaannya ialah, "Akankah masalah bullying bisa diatasi dengan kurikulum?"

Dan saya cukup yakin, Anda berkunjung ke tulisan ini untuk mencari jawaban tersebut.

Dan jawabannya, sayangnya ... TIDAK!

Pak Nadiem mengungkapkan bahwa kurikulum tidak akan efektif untuk menyelesaikan masalah bullying.

Jika kurikulum adalah solusinya, Indonesia seharusnya sudah lepas dari segala permasalahan pada remaja di negeri ini.

Pastinya, sudah ada kurikulum tentang bahaya melecehkan orang lain sejak lama di pendidikan Indonesia jika masalah semacam itu bisa diselesaikan dengan kurikulum.

Seharusnya sudah tidak ada orang yang mencuri, (maaf) memperkosa, dan dosa-dosa lainnya jika semua dosa itu bisa dihilangkan dengan kurikulum.

Faktanya, kurikulum kita yang ada sekarang ini saja belum bisa diserap oleh mayoritas anak di Indonesia.

Bahkan menurut penelitian seorang profesor di Harvard, Indonesia memerlukan hingga 128 tahun untuk mengejar ketertinggalan kualitas pendidikan dengan negara maju.

Motivasi Ambyar



Bayangkan, 128 tahun. 

Ya, pembaca, mata Anda tidak salah melihat.

Apakah para pelajar menjadi biang kerok atas masalah ini. Salah besar jika ada anggapan seperti itu.

Guru pun berperan besar atas hal ini. 

Baik tidaknya seorang anak, sangat dipengaruhi oleh didikan orang tuanya. Begitu pun pelajar. Guru mengambil peran besar atas hal ini.

Kenapa pelajar Indonesia, terutama SMA, masih kurang cakap dalam berbahasa Inggris. Padahal Bahasa Inggris sudah dipelajari sejak SD. Sedangkan balita di UK sudah lihai berbicara Bahasa Inggris. Hehe..

Sejauh yang saya lihat, kebanyakan guru hanya memfokuskan muridnya untuk memperdalam materi, mempelajari betapa rumitnya granmar. Padahal Bahasa Inggris itu motorik, skill. Artinya harus banyak praktek untuk lihai. Inilah kenapa kita (sekalipun mahasiswa) mayoritas masih berlari di tempat dalam berbahasa Inggris.

Oke, saya mulai ngaco. Kembali ke topik.

Dan itu hal logisnya. 

Jika melecehkan, menghina, membully, memperkosa bisa diselesaikan melalui kurikulum, maka masalah itu akan selesai sedari dulu.

Dan sekarang saya membayangkan hal aneh.

Jika memang kurikulum tentang bullying benar-benar ada, pastinya kurikulum kita akan penuh dengan kurikulum dosa. Maksud saya kurikulum dengan nama dosa-dosa.

Kurikulum bullying
Kurikulum Bahaya Melecehkan Orang Lain
Kurikulum Bahaya Mencopet

Benar, Pak. Maaf atas pemikiran dangkal saya.

Bagaimana Peran Kurikulum?

Apakah kurikulum tidak bisa melakukan apa-apa atas masalah bullying yang sedang kita bahas?

Tentu bisa, pembaca.

Kurikulum dapat membantu dengan mengembangkan sikap berpikir kritis (critical thinking) kepada para pelajar. Hal ini termasuk juga dengan penilaian karakter.

Setidaknya, ini dapat mendorong para pelajar untuk tenang menanggapi permasalahan, bijak dalam memandang suatu hal, dan berani mengungkapkan kebenaran.

Tentu, critical thinking membuat para pelajar cakap dalam menanggapi suatu masalah dan berani mengungkapkan kebenaran. Pastinya, tidak keberatan jika seorang murid harus menyampaikan kritikan terhadap gurunya atau sekolahnya.

Apakah ini tidak sopan? 

Pembaca, Anda benar-benar brengsek jika menghina guru Anda atau sekolah Anda. Jadi tidak masalah jika hanya menyampaikan kritik.

Iya, kan?

Akar Masalah

Ada suatu hal yang saya rasakan dari SD sampai sekarang, namun saya tidak cukup pengetahuan atas hal ini. Saya merasa bahwa kurikulum kita masih "memaksa" setiap anak untuk menjadi A.

Apakah Anda juga merasakan hal itu?

Oke, mungkin orang awam akan mengatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuannya masing-masing. Dan iya, saya setuju.

Dan ini juga yang membuat pendidikan kita sangat jauh tertinggal dengan negara maju. Kurikulum kita terlalu "kaku". Semua harus jadi A. 

Di kelas 1 SMP, para pelajar harus mencapai A. Tidak peduli sudah mencapainya atau belum, di kelas 2 SMP, semua pelajar harus mencapai B.

Jadi jangan heran jika di SMA masih ada yang bingung dengan pembagian atau pangkat atau akar.

Dan akhirnya, ini membuat mayoritas pelajar lari ke dalam hal lain.

Mereka mencari validasi ke hal lain. Salah satunya, ya di media sosial.

Tidak heran kalau banyak pelajar kita yang menghina atau merendahkan orang lain di media sosialnya. Karena itu cara mereka untuk bisa "setara" dengan orang lain atau sekadar bisa memiliki "teman" yang sama rendahnya.

Dan akhirnya, merebak lah cyberbullying.

Seandainya, kurikulum kita mampu memvalidasi setiap siswa baik dalam bidang sains, olahraga, seni, apa pun itu, tingkat "dosa" dari para pelajar bisa diminimalisir. 

Setiap orang ingin pengakuan, bukan? 

Dan psikologi mengatakan, kalau bullying besar kemungkinan terjadi karena si pelaku ingin sebuah pengakuan. Seandainya kurikulum kita bisa membuat "nyaman" setiap siswa, besar kemungkinan tidak akan ada pelajar yang mencari tempat pelarian.

Saya tahu, tulisan saya sangat sedikit ambyar, tapi semoga Anda bisa memahaminya.

Intinya...

Berhenti membenci dan mulai mencintai.

Posting Komentar

0 Komentar