Jangan Takut Bermimpi! Raihlah Mimpimu | Makna dan Interpretasi Lagu A Million Dreams

Learn from song, motivasi ambyar, interpretasi lirik


The Greatest Showman, salah satu film yang sangat menginspirasi mengenai perjalanan Phineas Taylor Barnum mendirikan circus show pertama di New York. 

Perjuangan mempertahankan mimpi dengan melawan stigma masyarakat saat itu, dikarenakan Circus saat itu tidaklah dikenal sebagai sebuah hiburan, mengumpulkan orang orang yang ‘unik’ dan dijadikan sebagai sebuah tontonan, bukan merupakan kebiasaan masyarakat New York.

Tapi, saya tidak ingin menjelaskan bagaimana alur cerita dari film itu. Saya akan fokus pada salah satu original soundtrack-nya, yaitu A Million Dreams.

Tentu saja, jika saya mengatakan alur ceritanya kepada Anda, kesan dari film itu akan berkurang, bahkan hilang bagi Anda. Saya tidak ingin itu terjadi, karena kesan dari menonton film ini, akan luar biasa. Cobalah, wahai pembaca! (Itu pun jika Anda belum pernah menontonnya)

Interpretasi Lirik

Sebuah lagu tentang harapan.

Setidaknya itu yang saya percaya tentang lagu 'A Million Dreams' ini.

Saya cukup yakin, versi cover Alexandra Porat merupakan versi yang paling sering diputar dan didengar. Jika Anda ingin mendengarkannya juga, saya akan simpan videonya di akhir postingan ini.

I close my eyes and I can see
Kupejamkan mata dan aku bisa melihat

The world that's waiting up for me
Dunia yang menantikanku

That I call my own
Itu yang ku sebut sebagai milikku

Through the dark, through the door
Berjalan dalam kegelapan, melewati gerbang

Through where no one's been before
Melewati tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya

But it feels like home
Tapi rasanya seperti di rumah

Lagu ini dibuka dengan berbagai macam metafora yang "lezat". Maaf melebihkan hal itu, tapi ini sungguh lezat untuk didengar.

Sejauh pandangan saya, bagian ini menyampaikan pesan bahwa sang penulis (kita anggap saja tokoh yang ada di dalam lagu ini merupakan sang penulis itu sendiri) memiliki dunia sendiri dalam pikirannya.

Sederhana, sebuah dunia yang sepi dan gelap, tapi ini serasa rumah baginya.

Sebuah dunia, tempat dirinya mencari ketenangan dan cinta.

Realita sangat lah ambyar? Tenang! Selalu ada sebuah tempat yang menunggu sang penulis untuk menenangkan diri, di mana ia bisa menjadi apa pun yang diinginkan.


Yeah, itu lah dunia "kedua" dari sang penulis: khayalannya sendiri. It feels like home.

Well harus saya akui, jauh di dalam diri saya, di sana pun ada dunia "kedua" bagi saya. Tempat di mana saya merenung dan mencari kebenaran. Sungguh, dia adalah lawan berdebat terbaik bagi saya.

Saya terlahir kembar. Bukan, bukan kembar dalam arti harfiah sebenarnya.

Saya terlahir 1 raga, tapi saya memiliki 2 jiwa, yaitu jiwa perasa dan jiwa pemikir. Dan saya tidak tertarik untuk menjelaskannya lebih jauh.

Sebuah metafora yang kacangan, memang.

Tapi sungguh, apakah Anda tidak memiliki dunia "kedua" Anda sendiri? Ini menyenangkan, wahai pembaca!

Mungkin Anda akan mengatakan saya "gila". 

Jika memang saya gila, kenapa? Apa itu merugikan Anda?

They can say, they can say it all sounds crazy
Mereka berhak mengatakan semuanya terdengar gila

They can say, they can say I've lost my mind
Mereka berhak mengatakan aku gila

I don't care, I don't care, so call me crazy
Aku tak peduli, aku tak peduli, sebut saja aku gila

We can live in a world that we design
Kita berhak hidup di dunia yang kita rancang sendiri

Aahhh... ini bagian favorit saya dari lagu ini. Dan harusnya Anda sudah paham makna bagian lirik ini, karena ini jelas, tidak tersirat.

Intinya, sang penulis ingin mengatakan kepada para pendengarnya bahwa kita "jangan pedulikan ocehan orang lain."

Jangan pedulikan ocehan orang-orang yang membuat kita jatuh. Kita masih memiliki dunia yang kita rancang sendiri.

Motivasi yang mainstream, memang.

Tapi, mari simak pemikiran saya akan hal ini.

Bagaimana jika Anda tidak harus membuktikan apa pun pada orang-orang kalau cuma demi membuat mereka menyukai Anda?

Sederhana, bukan? Tapi ini sulit bagi orang-orang yang kecanduan untuk "narsis".

Mereka akan beranggapan, hidup tidak berguna jika kita tidak dipedulikan oleh orang lain.

Tentu, itu memang menyebalkan. Tapi kita hidup untuk siapa? Untuk manusia atau untuk Sang Pencipta?

Oke, itu adalah ungkapan mainstream lainnya.


Kepedulian kita terhadap ocehan orang lain justru akan menghambat langkah kita dalam mencapai sesuatu. 

Sederhana, bayangkan Anda sedang bermain seluncuran, layaknya ketika kita sekolah TK.

Seluncuran ini sangat panjang dan besar. Ini sangat licin sehingga membuat Anda cepat untuk meluncur.

Kemudian, datang hambatan tak diundang. Seseorang melempar batu-batu kecil ke dalam seluncuran Anda. Logikanya, ini akan memperlambat laju Anda, bukan?

Oke, itu tidak terlalu buruk. Sekarang bayangkan bagian terburuknya. Datang seseorang melemparkan paku di jalur seluncuran Anda. Ini menyakitkan, bukan?

Sudah saya katakan bahwa seluncuran ini besar dan panjang. Anda memiliki jalur yang luas untuk menghindar dari hambatan-hambatan tersebut.

Hal logisnya, Anda akan menghindari semua hambatan itu, bukan? Mungkin Anda akan menggulingkan badan Anda ke kanan atau ke kiri. Entahlah, Anda akan berusaha keras menghindari hambatan tersebut.

Sekarang, kita bayangkan dalam hal realitanya. Semua hambatan itu datang dari orang-orang yang ingin menjatuhkan Anda. Dan bagaimana cara Anda menghindari semua hambatan tersebut?

Jika Anda peduli terhadap hal-hal yang mereka "lemparkan" kepada Anda, itu hanya akan memperlambat laju Anda dalam mencapai sesuatu. 

Dan cara menghindari itu, ialah, dengan tidak memedulikannya.

Dalam seluncuran yang luas dan panjang, seseorang melemparkan paku ke jalur tengah Anda. Tidak masalah, Anda hanya perlu menggeserkan badan Anda ke kiri atau kanan. Tidak perlu memaki orang yang menghambat Anda.

Saya tidak bercanda, cara terbaik menghina seseorang adalah dengan diam dan lakukan yang terbaik.

Dulu, saya payah. Mereka yang mengatakan itu kepada saya. Lalu saya katakan, "Saya memang payah. Apa masalahnya untuk kalian?"

Oke, saya mulai membaca berbagai buku, mempelajari berbagai hal baru, mencari sesuatu yang saya sukai dan mulai rutin mengerjakannya, mencari uang sendiri. Dan akhirnya apa? Saya kehilangan mereka yang dulu mengatakan saya payah. Dan itu tidak masalah.

Biarkan orang itu menelan ocehannya sendiri. Saya pernah memposting tulisan tentang cara elegan menghadapi orang yang merendahkan kita.

'Cause every night I lie in bed
Karena setiap malam aku berbaring di kasur

The brightest colors fill my head
Warna-warna cerah memenuhi kepalaku

A million dreams are keeping me awake
Jutaan mimpi yang membuatku tetap terjaga

I think of what the world could be
Aku memikirkan dunia akan seperti apa

A vision of the one I see
Visi yang aku lihat

A million dreams is all it's gonna take
Jutaan mimpi yang akan dibawa

A million dreams for the world we're gonna make
Jutaan mimpi untuk dunia yang akan kita ciptakan

Mimpi adalah energi yang menjadikan setiap insan tetap memiliki semangat menatap hari esok. Ia adalah daya yang menggerakan. 

Dan tingkat kepercayaan kita terhadap mimpi kita sendiri menentukan sebesar energi gerak yang bisa dikeluarkan, menentukan seberapa panjang nafas kita bertahan dalam berbagai macam godaan perjalanan.

Kepercayaan yang kuat menggerakan pikiran untuk mencari jalan dan sarana serta cara melakukannya

Mimpi adalah harapan. Tanpa harapan, kita semua kehilangan eksistensi untuk hidup.

Jika kita kehilangan harapan, hidup kita akan penuh kenihilan dan hampa makna. 

Kenapa saya bangun setiap shubuh? Karena saya memiliki harapan bahwa hari ini akan lebih baik dan sesuatu yang berharga akan datang. Tanpa harapan, kita mati, dalam hal jiwa dan mental.

Jika kita yakin bahwa sesuatu tidak akan menjadi lebih baik, lantas untuk apa hidup? Inilah pentingnya harapan. Inilah pentingnya sebuah mimpi.

Ini merupakan bahan bakar bagi mesin mental kita. Ini merupakan selai cokelat pada roti panggang kita. Ini merupakan baterai pada jam hidup kita.

Karena itu, heroisme bukanlah sekadar keberanian atau nyali atau ide-ide yang cerdik. Hal-hal tersebut sudah mainstream dan umum dipakai untuk hal-hal yang sungguh tidak heroik.

Bukan, menjadi heroik adalah kemampuan untuk memunculkan harapan ketika tidak ada sama sekali. Untuk memantik seberkas cahaya dalam gelap gulita. Untuk menunjukkan pada kita kemungkinan munculnya dunia yang lebih baik.


Oke, pembaca, saya akan berhenti sampai di sini. Karena jika terlalu panjang, ini akan jadi tulisan paling membosankan yang pernah ada.

Lagi pun, lirik lainnya sudah jelas maknanya, dan sebagian hanya mengulangi lirik-lirik sebelumnya. Thanks a lot.



Posting Komentar

3 Komentar

  1. Cause every night I lie in bed. The brightest colors fill my head. A million dreams that always accompany me:)

    Thanks for the interpretation. Hopefully your other articles will be more beautiful than this excellent article:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks a lot, but it feels too much.. :v Metafora yang indah btw ..

      Hapus
    2. Biar si penulisnya makin semangat nulisnya min, hahaha:D Karena terkadang selain semangat yang datang dari diri sendiri, si penulis pun butuh semangat dari si pambacanya ya kan wkwkw:v

      Hapus