Bertindaklah Seolah Setiap Saat Adalah Kesempatan Kedua. Sungguh? | Motivasi Ambyar

kesempatan kedua, motivasi ambyar, kegagalan, pilihan, kesuksesan


Everyday is a second chance

Begitulah kutipan yang saya baca pada kaos yang dikenakan seorang pria.

Hati bersikeras ingin menanyakan arti dari kutipan itu, namun raga menolak untuk menyapa. Wajar, saya memang tidak mengenal siapa pria itu. Kaos hitamnya yang polos telah menarik mata saya untuk membaca tulisan yang ada padanya.

Saya rasa, akan lebih menyenangkan jika saya merenungkan kutipan itu sendiri, menemukan makna dalam dari sebuah kutipan yang entah bagaimana bisa membuat saya seperti ditusuk oleh alat penghancur es.

Metafora yang receh, memang. Tapi sungguh, apa Anda tidak ikut penasaran dengan makna kutipan tadi seperti saya? Jika tidak, saya ingin tahu, sedang punya masalah apa Anda?


Salah Kaprah

Kesempatan kedua adalah suatu peluang atau jalan keluar yang terbuka kembali ketika kita mengalami suatu kegagalan, keterpurukan, kelalaian, atau kekalahan.

Orang awam akan mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali, sehingga apa yang disebut dengan kesempatan kedua biasanya dianggap sebagai sebuah pengandaian yang mengandung janji. Ya, mirip seperti ucapan para pejabat sebelum pemilihan. Kurang lebih..

"Seandainya aku memiliki kesempatan kedua, aku akan melakukan ini. Jika aku diberi kesempatan kedua, aku akan berbuat lebih baik lagi"

Tapi, apakah yang disebut “kesempatan kedua” itu benar-benar ada? Lalu dimana kesempatan kedua itu berada? Mengapa kesempatan kedua tidak datang kepada setiap orang? Apa syarat seseorang bisa mendapatkan kesempatan kedua? Apakah kesempatan kedua datang kepada orang-orang dengan acak? Mengapa seseorang layak dihampiri oleh “malaikat” kesempatan kedua, dan yang lain tidak?

---

Everyday is a second chance” 

Sebuah kutipan sederhana yang memiliki makna dalam. Saya paham (dan Anda pun begitu) bahwa itu artinya kita harus melakukan segala sesuatu seakan-akan itu adalah kesempatan kedua bagi kita.

Betul, ini akan menjadikan Anda lebih serius dalam melakukan sesuatu karena itu seakan-akan kesempatan terakhir Anda. Ini akan membuat Anda beranggapan bahwa apapun yang Anda lakukan, itu adalah kesempatan terakhir bagi Anda.

Kalimat itu seperti bahan bakar bagi mesin mental Anda.

Namun, ada kutipan yang lebih dalam lagi (dan lebih tepat).

"Everyday is a chance"

Benar, saya hanya menghilangkan kata "second" dari kutipan sebelumnya.

Tapi makna yang dihasilkan justru malah seperti dua kutub magnet sejenis yang didekatkan.

Dan memang hal itu yang ingin saya angkat dalam tulisan ini.


Bertahan Dengan atau Tanpa Harapan?

Kutipan "Everyday is a second chance" membuat orang-orang yang meyakininya terbakar oleh api semangat dalam dirinya.

Sangat luar biasa sekali, bukan? Ini membuat Anda yakin bahwa segala sesuatu yang Anda lakukan adalah kesempatan terakhir bagi Anda sehingga Anda harus berusaha sekeras mungkin untuk tidak gagal.

Itu sangat baik di pikiran Anda, tidak dengan saya.

Itu mengganggu pikiran saya selama beberapa hari. Dan saya sekarang mengatakan "tidak" atas kutipan "agung" itu.

Tentu saja, saya (dan Anda) tidak akan bisa lepas dari kegagalan.

Ini sebuah keegoisan yang halus dan dalam jika Anda menolak untuk gagal.

Ini membuat Anda kehilangan harapan usai gagal, karena Anda begitu yakin bahwa setiap saat adalah kesempatan kedua dan akan sangat sulit menemukan kesempatan ketiga.

Ini membuat Anda terbentur pada Kebenaran yang Menggelisahkan, bahwa Anda kehilangan eksistensi Anda jika Anda merasa kehilangan harapan. Jadi, untuk apa melakukan sesuatu? Untuk apa Anda masih ada di bumi ini?


Itulah kenapa saya lebih meyakini kutipan lainnya yang serupa tapi berbeda, kembar tak identik.

"Everyday is a chance"

Cukup serupa, namun tingkat keegoisannya berbeda. 

Ini akan membuat Anda memiliki banyak harapan. Harapan bahwa sesuatu akan menjadi lebih baik. Keyakinan bahwa bahwa kegagalan adalah proses pertumbuhan.

Sungguh, ini menjadikan Anda tidak takut untuk gagal, berani mengambil segala resiko, dan memandang dunia seluas langit.

Ketika Anda yakin bahwa akan selalu ada kesempatan dalam segala hal, Anda akan rela untuk gagal.

Dan itu permulaan dari kesuksesan. Dalam hal apapun.

Jika Anda yakin bahwa segala sesuatu adalah kesempatan kedua, bahwa segala hal harus dilakukan semaksimal mungkin, itu sangat baik. Sungguh.

Namun keyakinan itu juga yang akan membuat Anda terhenti ketika Anda berhadapan pada sebuah kegagalan. Anda kehilangan harapan. 

Ini seperti bumerang. Anda melemparkannya untuk menembak apa yang Anda tuju, namun ini akan berbalik menyerang Anda di kemudian waktu.

Tetapi keyakinan bahwa setiap saat adalah sebuah kesempatan, Anda membuka cakrawala Anda untuk melakukan segala hal dengan baik dan bersedia untuk gagal. Ini penting, karena ini proses kesuksesan.

Dan yang menjadi keuntungan di atas segala keunggulan, Anda tetap memiliki harapan ketika hasil tidak sesuai harapan. Setidaknya, Anda bangun dari rebahan Anda untuk memperbaikinya, sebab  keyakinan harapan yang Anda genggam.

Dan sudah saya katakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa sangat penting bagi kita untuk menjaga harapan. Karena tanpa harapan, Anda kehilangan eksistensi untuk tetap hidup.

Dengan keyakinan bahwa setiap saat adalah sebuah kesempatan, Anda akan berani mengambil segala resiko dan senang mencoba hal baru.

Anda gagal dalam ujian Anda, bukan berarti Anda kehilangan kesempatan untuk menjadi jenius.

Anda gagal menjadi pesepakbola, bukan berarti Anda kehilangan kesempatan untuk menjadi pemain tenis, basket, atau memulai usaha bisnis Anda sendiri.

Kesempatan selalu ada.

Ada dalam jangkauan kita. Sebuah tindakan sederhana, apa pun itu, akan selalu melahirkan kesempatan, baik dalam hal itu sendiri maupun dalam hal lain.

Setidaknya, Anda akan selalu memiliki kesempatan untuk belajar banyak terhadap apa yang telah terjadi.

Seandainya saya bekerja di sebuah cafe, ketimbang menulis nama orang lain di gelas kopi, lebih baik saya akan tuliskan ini:

Kita mencari-cari tujuan kita--kita bukan apa-apa. Menolak segala bentuk kegagalan merupakan bentuk keegoisan yang halus dan dalam. Saya yakin, Anda cukup benci mendengar hal itu. Tapi itu adalah Kebenaran yang Menggelisahkan dalam hidup. Anda takut gagal, maka Anda tidak bersedia untuk sukses. Enjoy your coffee!

Tentu saja, saya menuliskannya dengan sangat kecil dan membutuhkan waktu lama.

Itu membuat para pelanggan kesal mengantre dan tidak jadi membeli. 

Bukan pelayanan yang istimewa, memang. Mungkin itu juga alasan utama saya tidak layak menjadi pegawai di sebuah cafe.

Tapi sungguh, apa Anda menganggap tulisan saya (di gelas kopi) tadi hanya melebih-lebihkan?

Ini, saya bawakan kopi lagi!

Bahkan saya menggambar emoji senyum dengan satu mata berkedip di atasnya. Saya akan menunggu sembari Anda mempostingnya di Instagram.

Posting Komentar

0 Komentar