Jangan Takut Salah Demi Perkembangan Diri Sendiri | Motivasi Ambyar

Perempuan sedih, Motivasi Ambyar, Jangan Takut Salah
 

Anda keliru tentang segala hal (tapi, saya pun begitu).

Iya, tulisan ini saya buka dengan sebuah kutipan yang menjengkelkan dan menyebalkan. 

Tidak apa, karena itu memang kenyataannya.

Seringkali kita takut salah ketika melakukan sesuatu, padahal sebenarnya kita tidak pernah benar, apalagi sempurna. Upss..

Sebelum Anda mengajak saya berdebat, mari ikut saya, menyelam pada sebuah pemikiran yang tidak Anda sadari dan membawa Anda pada sebuah kesadaran yang waras.

Ouh manis sekali!


Kesalahan Membuat Kita Berkembang

Dulu, saya mengatakan kepada semua orang bahwa saya tidak memedulikan apa pun, padahal kebenarannya saya terlalu peduli. 

Orang lain mengatur hidup saya tanpa pernah saya ketahui.

Saya pikir kebahagiaan adalah sebuah takdir dan bukan suatu pilihan. Saya kira cinta terjadi begitu saja, bukan sesuatu yang diperjuangkan. Saya pikir menjadi "keren" harus dilatih dan dipelajari dari orang lain, bukannya kita ciptakan sendiri.

Setiap langkah dalam perjalanan hidup saya, ternyata keliru. Tentang setiap hal.

Sepanjang hidup saya, saya keliru; menilai diri saya, orang lain, masyarakat, budaya, dunia, alam semesta, semua hal.

Dan saya berharap, itu akan terus terjadi dalam sisa hidup saya.

Sama seperti saya yang sekarang mampu melihat setiap cacat dan kesalahan saya yang dulu. Suatu hari, saya masa depan akan memeriksa kembali asumsi-asumsi (termasuk isi tulisan ini) dari saya yang sekarang, kemudian mendapati beberapa kesalahan serupa. 

Dan ini merupakan hal yang baik. Karena artinya saya telah berkembang.

Baca juga: Pentingnya Berkomitmen dalam Hidup!

Ada satu kutipan yang terkenal dari Michael Jordan tentang dirinya yang gagal dan gagal lagi, dan itu yang membuatnya sukses. 

Ya, saya selalu keliru tentang semua hal, lagi dan lagi, dan itu alasannya mengapa hidup saya menjadi lebih baik.

Pertumbuhan merupakan proses yang berulang yang tidak pernah berakhir.

Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, kita tidak beranjak dari "salah" menuju "benar". Namun, kita berangkat dari "salah" menuju "sedikit salah".

Dan ketika kita menambahkan sesuatu yang baru lagi, kita bergerak dari sedikit salah ke kesalahan yang lebih sedikit, dan kemudian kesalahan yang lebih sedikit lagi, dan seterusnya.

Kita selalu dalam proses mendekati kebenaran dan kesempurnaan tanpa benar-benar dapat meraih kebenaran dan kesempurnaan itu sendiri.

Sebaiknya kita tidak bernafsu untuk mencari jawaban paling "benar" bagi diri kita sendiri, namun lebih pada pencarian agar dapat menyingkirkan kekeliruan kita hari ini, sehingga esok hari kekeliruan itu menjadi semakin kecil.

Jika dilihat dari kacamata ini, perkembangan pribadi sebenarnya cukup ilmiah. Nilai-nilai yang kita punya tidak lain adalah hipotesis: perilaku ini baik dan penting; perilaku lain tidak.

Tindakan kita adalah eksperimen; emosi yang timbul serta pola pemikiran kita adalah sumber informasi kita.

Tidak ada dogma yang benar. Tidak ada pula ideologi yang sempurna. Yang ada hanyalah pengalaman Anda telah menunjukkan kepada Anda mana yang benar untuk Anda (dan bahkan, bahwa pengalaman juga bisa keliru).

Kita semua memiliki jawaban "benar" yang berbeda mengenai arti hidup kita, dan bagaimana itu seharusnya dihidupi.

Jawaban yang benar versi saya meliputi diam di rumah mencari tempat sepi, membaca beberapa buku yang saya anggap "seru", menghabiskan banyak waktu yang membosankan untuk mempelajari sesuatu yang ingin saya kuasai, dan menertawakan kentut saya sendiri.

Atau setidaknya itulah jawaban yang benar hingga sekarang.

Jawaban itu akan berubah dan berevolusi; dan saat saya tumbuh dewasa dan lebih berpengalaman, saya sadar betapa kelirunya saya, karena setiap hari kesalahan saya menjadi semakin sedikit.

Banyak orang teramat terobsesi untuk dapat memiliki hidup yang "benar", sampai-sampai mereka sesungguhnya tidak benar-benar menjalani hidup itu sendiri.

Baca juga: Menjaga Harapan untuk Tetap Hidup | Sebuah Tulisan tentang Harapan

Seorang pria bekerja membanting tulang seharian dan yakin kalau dia berhak naik pangkat, namun tidak pernah mengutarakan keinginannya kepada bosnya.

Seorang pria lainnya memikirkan cara menjadi kaya raya, sampai-sampai dirinya kehabisan waktu untuk melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kaya raya.

Mereka diajarkan untuk takut akan kegagalan, akan penolakan, takut mendengar seseorang menampik permohonannya.

Namun bukan itu poinnya. Tentu, penolakan menyakitkan. Kegagalan memuakkan.

Meskipun demikian ada keyakinan tertentu yang kita pegang.

Keyakinan bahwa kita takut untuk mempertanyakan atau melepaskan, nilai-nilai yang telah memberikan arti dalam kehidupan kita selama bertahun-tahun.

Pria tersebut tidak meminta promosi karena jika dia sampai mengutarakannya, dia akan dipaksa untuk berhadapan dengan keyakinannya sendiri tentang keahlian apa yang membuatnya layak dipromosikan.

Pria lainnya banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan cara menjadi kaya raya, karena jika melakukannya secara asal, dia akan dihadapkan pada kegagalan, dan itu membuatnya takut.

Lebih mudah untuk berdiam diri dalam keyakinan yang menyakitkan bahwa tidak ada seorang pun yang menghargai talenta Anda, bahwa tidak ada seorang pun yang peduli pada Anda, daripada benar-benar menguji keyakinan tersebut dan menemukan jawaban yang paling tepat.

Kepastian adalah musuh dari pertumbuhan. Tidak ada yang pasti hingga itu benar-benar terjadi, dan bahkan sesudahnya, itu masih dapat diperdebatkan.

Itulah mengapa penerimaan terhadap tidak terelakkannya ketidaksempurnaan dari nilai-nilai yang kita miliki penting untuk menyempurnakan nilai-nilai tersebut.

Alih-alih ngotot mencari kepastian, kita sebaiknya terus berupaya mencari keraguan: keraguan tentang keyakinan kita sendiri, keraguan tentang perasaan kita sendiri, keraguan tentang apa yang dipersiapkan masa depan untuk kita jika kita tidak keluar, dan menciptakannya sendiri.

Daripada berusaha menjadi benar setiap saat, sebaiknya kita cari tahu bagaimana kita bisa keliru setiap saat. Karena kita memang demikian.

Kekeliruan membuka kemungkinan adanya perubahan Kekeliruan membawa kesempatan untuk  tetap tumbuh.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Setuju banget gue min, kalo gue inget2 lagi apa yg gue lakukan dulu, gue suka nganggap kalo gue yg dulu itu bodoh dan alay wkwk... :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu tanda bahwa Anda telah berkembang :) Coba liat postingan Facebook Anda yang jadul, 90% bakalan bilang, "Ini apaan sih, kok alay banget." wkwkwk

      Hapus