Cara Elegan Menghadapi Orang yang Merendahkanmu | Motivasi Ambyar

Sedih, Depresi, Sepi, Motivasi Ambyar, Cara Elegan menghadapi orang yang merendahkanmu


Demi menjadi yang terbaik, banyak orang melakukan segala cara untuk mencapainya. Ya, termasuk dengan cara merendahkan, menjatuhkan, menyingkirkan, menjelekkan, atau menghasut. 

Ini bukan sesuatu yang baru, kan? Anda pasti pernah mengalaminya selama Anda hidup atau bahkan Anda adalah seseorang yang saya ceritakan di atas. Upss..

Menjadi yang terbaik merupakan konstanta dalam pikiran semua orang. Dan ini alamiah. Setiap orang akan memiliki naluri nafsu untuk menjadi yang terbaik, dalam hal apapun.

Dan ini tidak selalu baik. Ketika kita mencurahkan hal tersebut dengan cara yang tidak tepat, ini menjadi masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

Ada orang-orang yang berpikir bahwa untuk menjadi yang terbaik haruslah menjadi lebih tinggi daripada orang lain.

Itu tidak terlalu buruk, Ndi.

Ya, tapi bukan berarti kita bisa "menginjak" orang lain seenaknya, kan?

Berapa banyak orang yang menghasut rekan kerjanya demi mendapat pujian dari atasannya?

Berapa banyak orang yang menghina temannya sendiri demi terlihat "lebih tinggi" di hadapan orang lain?

Dan itu cara yang umum. Sungguh. Itu merupakan praktek yang sudah umum terjadi, bahkan di sekitar Anda.

Menjatuhkan atau merendahkan orang lain untuk dapat "lebih tinggi" dari mereka merupakan cara simple dan instan untuk menjadi yang terbaik. Setidaknya, itu yang sebagian orang percaya. Dan mereka melakukannya, sial. Berulang kali.

Hal-hal yang telah saya ceritakan tadi seringkali bekerja tanpa disadari, dan tanpa tahu penyebabnya. 

Mari, saya ceritakan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Anda bisa membaca ini sambil minum kopi atau makan ramen level 10 sekalipun. Tapi hati-hati, karena mungkin ini akan membuat Anda tersedak. Cukup menyakitkan, bukan?


Tirani Keistimewaan

Ketika kita memiliki masalah yang tidak terselesaikan, alam bawah sadar kita tahu bahwa kita sebenarnya tidak istimewa atau gagal dalam artian tertentu. Bahwa kita, entah bagaimana, tidak seperti orang lain dan karena itu beberapa aturan berlaku berbeda untuk kita.

Alasannya sederhana: kita merasa istimewa.

Semakin dalam rasa sakit, semakin kita merasa tak berdaya menghadapi permasalahan kita, dan semakin banyak keistimewaan yang kita perlukan sebagai kompensasi atas permasalahan tersebut.

Keistimewaan ini bekerja dalam salah satu cara berikut:

  1. Saya luar biasa dan kalian semua payah, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa.
  2. Saya payah dan kalian semua luar biasa, jadi saya berhak mendapatkan perlakuan istimewa.

Jalan pikir kedua hal tersebut berlawanan, tapi inti keegoisannya sama. Dalam kenyataannya, Anda akan sering melihat orang-orang bergantian menerapkan yang pertama atau kedua. Entah mereka sedang berada di atas atau di bawah roda nasib.

Dan ini juga yang membuat banyak orang merendahkan orang lain demi terlihat "lebih tinggi".

Ketika Anda direndahkan oleh seseorang, maka penyebabnya bisa salah satu dari kedua poin di atas.

Orang yang merendahkan Anda tersebut merasa bahwa dirinya istimewa. Itu poinnya.


Dengan kata lain, dia itu payah. Dan cara yang bisa dijangkau oleh dirinya untuk melawan Anda adalah dengan hinaan, cacian, atau hasutan. Begitulah cara dirinya untuk menjadi "lebih tinggi" dari Anda.

Dia payah, dan dia merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa. Hal itu ia kejar dengan cara merendahkan Anda.

Jika bukan karena hal tersebut, artinya dia merasa lebih luar biasa daripada Anda. Dan dia merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa, sehingga dia merendahkan Anda.

Tidak masalah, karena memang begitu tirani keistimewaan bekerja pada setiap orang.

Kita berpikir kita istimewa, kita bukan apa-apa.

Cara Elegan untuk Melawan

Sejatinya, setiap orang punya cara tersendiri untuk menghadapi orang-orang yang merendahkannya. Entah itu dengan merendahkannya kembali, membalasnya dengan fisik, bermacam-macam.

Tapi jika Anda bertanya kepada saya, apa yang harus dilakukan, cara terbaik dari saya adalah:

Diam.

Sinting!

Ya, ini sedikit sinting dan gila. Tapi ini lebih sehat bagi kita, seperti sayuran. Tidak disukai, namun sehat bagi setiap orang.

Begini, diam akan membawa Anda pada sebuah pemahaman bahwa Anda memang payah dan Anda harus menjadi lebih baik lagi.

Segala motivasi yang mengatakan bahwa kita ini tidak payah atau kita ini istimewa, itu semua seperti makanan berlemak bagi Anda. Enak untuk dikonsumsi, padahal buruk bagi "kesehatan" mental Anda.

Mengapa ada orang yang tidak bosan untuk belajar, sedangkan yang lainnya bahkan tidak mau belajar sama sekali? Mengapa ini bisa terjadi?

Jawabannya sederhana: karena mereka merasa payah, sehingga belajar merupakan cara menjadikan diri mereka ke arah yang lebih baik.

Segelintir orang yang berhasil menjadi unggul di suatu bidang, meraih posisi tersebut bukan karena mereka meyakini diri mereka istimewa. Sebaliknya, mereka menjadi luar biasa karena mereka terobsesi dengan perbaikan.

Dan obsesi ini berasal dari keyakinan yang tidak pernah salah bahwa mereka, dalam kenyataannya, sama sekali tidak istimewa. Ini adalah anti-istimewa.

Orang-orang yang hebat dalam suatu hal, menjadi hebat karena mereka mengerti bahwa mereka belum benar-benar luar biasa, dan bahwasanya mereka bisa menjadi lebih baik.

Dan ketika orang-orang merendahkan Anda, menjadi diam akan membawa Anda pada sebuah kesadaran. Kesadaran di mana Anda seharusnya berada, bahwa Anda memang payah dan bisa menjadi lebih baik lagi.

Dan membalas mereka yang merendahkan Anda, bukanlah cara untuk menjadikan Anda lebih baik. Itu bukan cara yang sehat.

Untuk menjadi yang terbaik merupakan sebuah kegiatan dan tindakan. Anda harus bergerak dan melakukan sesuatu untuk mencapainya. 

Terus-menerus mendengarkan mereka yang meremehkan Anda hanya akan memperlambat langkah Anda.

Jadi tahan lisan Anda. Diam saja. Katakan yang baik atau diam. Tidak ada pilihan ketiga.

Mulai bergerak untuk menjadi yang terbaik sesungguhnya.

Ini tidak secara ajaib muncul, Anda harus melakukan sesuatu untuk mencapainya. Pengorbanan merupakan kebutuhan dalam hal ini.

Mereka yang merendahkan Anda akan segera diam, ketika Anda tidak menghiraukannya dan mulai bergerak menjadi yang terbaik sesungguhnya.

Dan saya tidak bergurau, bahwa saya berterima kasih kepada mereka yang telah merendahkan saya. Karena ucapan mereka merupakan bahan bakar bagi mesin mental saya.

Saya punya sebuah cerita.

Sini, saya akan menceritakannya dan ini bisa menjadi dongeng pengantar tidur untuk Anda.

Sang guru membuat garis sepanjang 100 cm di papan tulis.

"Coba kalian buat garis ini menjadi lebih pendek!" Ucap sang guru di depan kelas.

Seorang siswa berbaju rapi maju ke depan, kemudian menghapus garis itu dengan tangannya sehingga tersisa garis dengan panjang 70 cm.

"Ada lagi yang bisa?" Tanya sang guru.

Seorang siswi dengan rambut terikat maju ke depan, kemudian melakukan hal yang sama seperti siswa sebelumnya, dan kini menyisakan garis dengan panjang 30 cm.

"Saya bisa, Pak!" Ujar seorang siswa, yang entah bagaimana membuat suasana menjadi hening dan semua pandangan tertuju padanya.

"Silakan!"

Sederhana, dia maju ke depan, kemudian mengambil kapur dari meja guru. Dan ia mulai menggambar garis baru dengan panjang 120 cm di atas garis sebelumnya.

Oke, yang bisa saya katakan kepadanya hanyalah, "Kerja bagus, Nak!"

Posting Komentar

6 Komentar

  1. Dari cerita itu, gue belajar bahwa kita gak boleh merendahkan atau menginjak orang lain buat jadi "lebih tinggi", tapi kita harus bisa menjadi "lebih tinggi" dengan melakukan sesuatu yang bisa bikin kita jadi yang terbaik, tanpa "merusak" orang yang merendahkan kita. Makasih min pembelajarannya :)

    BalasHapus
  2. Sorry min ini mungkin melenceng dari judulnya. Tapi ad satu yg ingin saya tanyakan. Ada seseorang yg jauh melangkah di depan saya, dan saya ingin melewatinya dengan langkah yg lebih jauh lagi depannya, tapi sayangnya seseorang itu memiliki kartu as yg ia dapat sebelumnya. What steps should i take?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan yg sangat menarik :)
      Pertama, Anda tidak bisa menyalahkan kartu As yg ia dapat, karena itu ia miliki untuk sebuah alasan yg mungkin hanya Sang Pemberi Kartu itu yg tahu. Dan Anda punya kartu As di bidang lain. Tapi Anda tidak menyadarinya karena terlalu fokus pada pencapaian orang lain.
      Kedua, Anda telah keliru meletakkan nilai standar diri Anda, karena untuk menjadi "lebih" dari orang lain hanya akan menyiksa diri sendiri dan menyangkal bahwasanya setiap orang itu "berbeda". Nilai standar terbaik untuk kita miliki (menurut saya) adalah diri sendiri. Jadi pertanyaannya bukanlah, "Apakah saya sudah bisa melebihi orang lain?", tapi yg lebih relevan ialah, " Apakah saya sudah lebih baik dari saya sendiri di hari kemarin?"
      Saya pernah membahas tentang nilai standar terbaik untuk diri sendiri di https://www.motivasiambyar.com/2020/07/ukuran-keberhasilan.html
      Ketiga, ini langkah alternatif, jika memang Anda bernafsu untuk menjadi lebih dari orang itu, maka Anda harus rela menghabiskan ribuan jam waktu yg Anda miliki dengan hal-hal yg membosankan, menyedihkan, menjengkelkan, atau mengecewakan. Karena itu merupakan kompensasi dari sebuah kesuksesan. Jawaban ini sebenarnya bisa Anda dapatkan di tulisan saya yang lain. Jadi ini saja yg bisa saya sampaikan.

      Terima kasih atas pertanyaannya. Sangat luar biasa menarik, karena pertanyaan ini mewakili orang banyak :)

      Hapus
    2. Thanks a lot min, untuk menjadi lebih dari seseorang secara tidak sadar saya telah egois. Waiting for the next blog~

      Hapus
  3. I remember something about it.
    "Majulah tanpa menyingkirkan
    Naiklah tanpa menjatuhkan
    Jadilah baik tanpa menjelekkan
    Dan benarlah tanpa menyalahkan"

    Sesuatu yang sulit, namun tak mustahil. Benarkan Di?

    BalasHapus