Hati-Hati dalam Berpikir Positif | Motivasi Ambyar

positive thinking, berpikir positif, motivasi ambyar


Selalu berpikir positif (positive thinking) setiap saat, pada dasarnya, merupakan nilai sampah.

Maaf atas itu, pembaca, tapi ini sungguh penting kita sadari.

Berpikir positif setiap saat dapat membuat orang-orang lupa akan realita. Dan ini buruk bagi perkembangan diri kita.


Nilai Sampah dari Tetap Positif

Ada beberapa orang yang mengukur hidupnya dari sejauh mana mereka mampu untuk menjadi selalu positif, dalam hampir semua hal. Tetap positif membuat mereka bahagia, hanya dalam jangka singkat.

Kehilangan pekerjaan Anda? Bagus! Inilah peluang untuk mengeksplorasi minat Anda.

Pasangan selingkuh dengan teman Anda? Yah, setidaknya Anda belajar kalau dia berarti dalam hidup Anda.

Saudara kandung Anda sekarat akibat serangan jantung? Setidaknya Anda tidak perlu membahagiakan dia lagi.

Begitulah berpikir positif bekerja, iya, kan?

Meskipun ada sebuah ungkapan "apa pun yang terjadi, tetaplah optimis," sejatinya, kadang hidup menyebalkan, dan hal paling sehat untuk dilakukan adalah mengakuinya.

Pengingkaran terhadap emosi negatif menuntun kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjangan, serta disfungsi emosional.

Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya--masalah-masalah yang boleh jadi justru menguatkan dan memotivasi Anda, seandainya Anda bisa memilih nilai dan ukuran yang benar.

Ini sederhana, sungguh: aneka kegagalan, orang-orang membuat kita kesal, kecelakaan terjadi. Hal-hal itu membuat kita merasa buruk. Dan itu tidak apa-apa.

Emosi negatif adalah salah satu komponen kesehatan emosional yang harus ada.

Menyangkal sisi negatif tersebut, sama dengan mengekalkan masalah, bukannya menyelesaikan.


Trik untuk Emosi Negatif

Trik untuk emosi negatif adalah:
  1. Mengekspresikan dalam suatu cara yang dapat diterima dan sehat secara sosial.
  2. Mengungkapkan dalam suatu cara yang selaras dengan nilai-nilai Anda.
Contoh sederhana, nilai yang saya pegang adalah anti-kekerasan.

Karena itu, ketika saya marah terhadap seseorang, saya mengungkapkan kemarahan tersebut, namun saya juga menegaskan untuk tidak memukul wajah seseorang. Ide yang radikal, saya tahu.

Namun kemarahan bukanlah masalahnya.

Kemarahan itu alami. Kemarahan adalah bagian dari kehidupan.

Kemarahan, bisa dikatakan, cukup menyehatkan di banyak situasi (Ingat, emosi hanya suatu umpan balik).

Paham kan bedanya? Memukul seseorang tepat di muka-lah yang jadi masalah. Bukan kemarahan itu sendiri.

Kemarahan hanyalah pembawa pesan dari pukulan saya yang melayang ke wajah Anda. Jangan salahkan pembawa pesannya. Salahkan pukulan saya (atau wajah Anda).


Saat kita memaksa diri kita untuk tetap positif sepanjang waktu, kita mengingkari keberadaan masalah itu. Dan ketika kita menyangkal masalah kita, kita menihilkan kesempatan yang kita miliki untuk menyelesaikan masalah dan menjadi bahagia. 

Permasalahan membuat hidup kita lebih bermakna dan penting. Karena itu menghindari masalah justru menuntun kita kepada suatu kondisi yang hampa makna (bahkan meskipun di satu sisi menyenangkan).

Secara jangka panjang, menuntaskan maraton membuat kita lebih bahagia ketimbang menyantap kue coklat. 

Merawat orang tua yang telah renta lebih bahagia daripada memenangkan video game. 

Memulai suatu bisnis kecil dengan teman-teman dan perjuangan untuk mencapai kesuksesan membuat kita lebih bahagia daripada membeli sebuah komputer baru.

Kegiatan-kegiatan tersebut membuat stres, sulit, dan seringkali tidak menyenangkan. Itu juga menuntut kita untuk mampu bertahan, mengatasi masalah demi masalah.

Namun akan ada momen yang paling bermakna dan menggembirakan yang kita rasakan. 

Seperti seseorang pernah katakan kepada saya, "Suatu hari, ketika kita mengingat masa lalu, tahun-tahun yang penuh jerih payah akan berubah menjadi tahun-tahun yang paling indah."

Inilah mengapa nilai untuk tetap positif merupakan idealisme yang buruk bagi kehidupan seseorang, karena sebagian momen-momen besar manusia tidak menyenangkan, tidak sukses, tidak dikenal, dan tidak positif.

Secara substansial, untuk tetap positif hanyalah kenikmatan yang hampa.

Posting Komentar

1 Komentar