Inilah Standar Ukuran Keberhasilan untuk Mengukur Seberapa Sukses Anda!

Quotes of the day, Motivasi Ambyar, Kesuksesan


Setiap orang pasti memiliki mimpi dan itu memang hak setiap orang. Namun sebelum melangkah lebih jauh, lebih baiknya Anda tentukan dulu standar ukuran keberhasilan Anda dalam menggapai mimpi itu. Jelas, ini semacam target atau tujuan akhir dari apa yang Anda perjuangkan.

Seperti orang awam selalu bilang bahwa orang yang tanpa rencana sama saja merencanakan kegagalan. Maka, tentukan lebih dulu dengan standar apa Anda mengukur keberhasilan Anda. 

Tulisan ini bukan tutorial cara menemukan standar kesuksesan Anda. Tidak, ini hanya sebuah pengingat sederhana yang perlu Anda sadari. Ini semacam bawang kesadaran diri. Ya, begitulah saya menyebutnya.

Pentingnya Evaluasi Diri

Pada 1983, seorang gitaris muda bertalenta dikeluarkan dari bandnya dengan cara yang paling buruk yang pernah ada. Band tersebut baru saja menandatangani sebuah kesepakatan rekaman, dan mereka akan merekam album pertama mereka. 

Tetapi beberapa hari sebelum rekaman dimulai, band menyuruh sang gitaris untuk keluar tanpa peringatan, tanpa pembicaraan, tanpa alasan yang jelas, mereka benar-benar membangunkannya di suatu hari dan memberinya tiket bis untuk pulang.

Saat duduk di dalam bis yang membawanya pulang ke rumah, si gitaris terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Kenapa ini bisa terjadi? Kesalahan apa yang saya lakukan? Dan apa yang akan saya lakukan sekarang?

Namun ketika bis itu sampai di tempat tujuannya, si gitaris ini tidak lagi mengasihani dirinya sendiri dan telah bersumpah untuk membuat band baru. Dia berikrar bahwa band barunya akan sangat sukses sehingga band lamanya menyesali keputusan mereka selamanya.

Dia akan menjadi begitu terkenal sehingga band lamanya merasa bersalah selama beberapa dekade. Dia ingin mandi dengan air mata orang-orang yang mengkhianatinya.

Demikianlah sang gitaris bekerja keras seakan dirasuki setan musik. Singkatnya, setelah beberapa tahun berjalan, band barunya berhasil menandatangani sebuah kesepakatan rekaman mereka sendiri. Dan setahun setelahnya, rekaman pertama mereka diluncurkan ke pasaran.

Nama gitaris itu adalah Dave Mustaine, dan band baru yang dibentuknya adalah band heavy-metal yang legendaris, Megadeth. Megadeth tercatat berhasil menjual lebih dari 25 juta album dan menggelar banyak tur dunia. Sekarang ini, Mustaine dianggap sebagai salah satu musisi yang paling brilian dan berpengaruh dalam sejarah musik heavy-metal.

Sungguh malang, band yang mendepak bokongnya adalah Metallica, yang telah menjual lebih dari 180 juta album di seluruh dunia. Metallica adalah salah satu band rock terbesar sepanjang masa.

Dalam suatu wawancara tahun 2003, Mustaine yang berlinang air mata mengakui kalau dia masih saja menganggap dirinya sebagai sebuah kegagalan. Di luar semua pencapaiannya yang brilian, dalam benaknya akan selalu terngiang kalau dia adalah orang yang ditendang keluar dari Metallica.

Terkadang, kita ini seperti kera. Seringkali secara naluriah kita mengukur diri kita sendiri dengan berpatokan pada orang lain, dan untuk mencari status.

Pertanyaannya bukan apakah kita mengevaluasi diri kita berdasarkan pencapaian orang lain. Namun, pertanyaannya adalah dengan standar apa kita mengukur diri kita sendiri?

Seseorang yang saya ceritakan tadi, entah sadar atau tidak, telah mengukur dirinya apakah dia lebih sukses dan populer dibandingkan Metallica atau tidak? 

Pengalaman dikeluarkan dari mantan bandnya sangat menyakitkan sehingga dia menggunakan "sukses seperti Metallica" sebagai alat untuk mengukur dirinya sendiri.

Meskipun telah memanfaatkan suatu peristiwa buruk menjadi sesuatu yang positif, pilihannya menggunakan kesuksesan Metallica sebagai alat pengukur hidupnya justru terus menyakiti dirinya sendiri puluhan tahun berikutnya. Meskipun mendapatkan uang dan penggemar serta pujian, dia masih menganggap dirinya sebagai sebuah kegagalan.


Mungkin sekarang kita tertawa sekaligus ironis melihat Mustaine mengasihani dirinya sendiri. Itu karena Anda dan saya memiliki nilai yang berbeda dari dia dan kita mengukur dengan ukuran yang berbeda.

Jadi, jelas sangat penting mengevaluasi diri kita untuk mengetahui nilai dan ukuran seperti apa yang akan kita pegang dalam menentukan keberhasilan kita.

Menentukan Ukuran Kesuksesan dan Keberhasilan

Nilai yang kita pegang menentukan ukuran yang kita gunakan untuk menilai diri kita sendiri dan orang lain. 

Ukuran Mustaine yaitu menjadi lebih daripada Metallica sepertinya membantu karier musiknya sukses luar biasa pesat. Namun ukuran itu juga yang menyiksanya terlepas dari keberhasilan yang diraihnya.

Jika Anda ingin mengubah cara Anda memandang permasalahan Anda, Anda harus mengubah nilai yang Anda pegang dan/atau bagaimana Anda mengukur kegagalan/kesuksesan.

Sebagai contoh, mari kita perhatikan seorang musisi lain yang dikeluarkan dari bandnya. Aneh, karena kisahnya hampir serupa dengan Mustaine.

Pete Best, seorang pemain drum dari band paling legendaris, The Beatles

Pada tahun 1962, setelah mendapatkan kontrak rekaman pertama mereka, 3 anggota Beatles lainnya diam-diam bersekongkol dan memaksa manajer mereka untuk memecat Pete. Manajer mereka menentang keputusan itu. Dia menyukai Pete, jadi dia mengabaikan permintaan mereka, berharap 3 orang ini akan berubah pikiran.

Beberapa bulan kemudian, hanya 3 hari sebelum rekaman pertama mereka dimulai, manajer Beatles memanggil Pete ke kantornya. Di tempat itu sang manajer secara tidak resmi memintanya untuk keluar dan mencari band lain. Dia tidak memberikan alasan apapun. Tidak, hanya mengatakan bahwa anggota band lain ingin dia keluar dari grup, jadi, ya, sampai jumpa, semoga sukses.

Sebagai penggantinya, band merekrut seorang pria eksentrik bernama Ringo.

Enam bulan setelah Pete dipecat, Beatlemania meledak, membuat mantan teman-temannya itu, bisa dikatakan, menjadi empat wajah yang paling terkenal di seantero planet.

Sementara itu, Pete, seperti yang dapat kita pahami, jatuh ke dalam sebuah depresi yang dalam, dan menghabiskan waktunya melakukan apa yang akan diperbuat kebanyakan orang Barat jika dalam masalah: "minum".

Pada tahun 1968, dia berusaha bunuh diri, hanya mau berbicara dengan ibunya. Hidupnya seolah tinggal puing-puing dari hasil gedung yang roboh.

Tetapi Pete tidak memiliki kisah "titik balik" layaknya Dave Mustaine yang saya ceritakan di awal. Dia tidak mendapatkan jutaan dollar dan bukan superstar dunia. 

Namun, di banyak hal, Pete menghabiskan hidupnya dengan cara yang lebih baik daripada Mustaine. Dalam sebuah wawancara pada 1984, Pete mengatakan, "Saya lebih bahagia sekarang, dibanding jika saya masih bertahan di Beatles."

Sinting!

Pete menjelaskan kalau situasi pemecatan dirinya dari Beatles pada akhirnya menuntun dia untuk bertemu dengan istrinya. Dan kemudian pernikahannya membawanya menjadi seorang ayah. Nilai-nilainya berubah.

Tentu saja, ketenaran dan nama besar akan sangat menyenangkan. Namun dia memutuskan bahwa apa yang telah dimilikinya sekarang jauh lebih berharga.


Sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta, pernikahan yang stabil, hidup yang sederhana. Jadi apa yang sebenarnya hilang? Hanya perhatian besar dan sanjungan, sedangkan apa yang telah diraihnya jauh lebih berarti untuknya.

Kesimpulan

Dua kisah di atas menunjukkan suatu nilai dan ukuran yang satu bisa lebih baik daripada yang lain. Yang satu mengarah pada permasalahan ringan yang mungkin sederhana tapi mudah diselesaikan.

Jadi tentukan standar ukuran diri Anda dalam mencapai keberhasilan sesuai dengan apa yang Anda mampu, sederhana, dan logis tentunya.

Mari kita buat lebih mudah.

Teman saya pernah mengatakan kalau dia ingin menjadi seorang pengusaha sukses karena dia ingin memiliki uang ratusan juta bahkan milyaran rupiah agar hidupnya tidak menderita. Jadi, ukuran yang dia ambil dalam mengukur kesuksesannya adalah bisa menghasilkan banyak uang dan menjadi orang kaya.

Oke, itu tidak masalah. Namun, ada teman saya yang lainnya mengatakan bahwa dia ingin menjadi seorang dokter karena dia ingin membantu orang-orang yang sakit dengan ilmu yang dimilikinya. 

Apakah Anda bisa melihat siapa dari kedua teman saya itu yang lebih baik? Tentu..

Tidak, tidak bisa.

Karena bisa saja teman saya yang pertama berhasil mencapai ukuran kesuksesannya, sedangkan teman saya yang kedua tidak berkutik sama sekali.

Namun, dari nilai dan ukuran yang dipegang oleh kedua teman saya itu, jelas teman saya yang kedua memiliki standar keberhasilan yang sederhana dan mulia pastinya. 

Semakin sederhana standar ukuran yang kita pegang, semakin mudah kita mencapainya, semakin besar peluang kita bahagia menjalani prosesnya.

Biarkan saya bercerita sedikit tentang diri saya. Nilai ukuran yang saya pegang ialah melakukan sesuatu.

Aneh?

Tidak, ini ukuran sederhana yang membuat saya bodo amat dengan kegagalan. Selama saya berhasil bangun dari ranjang saya yang super nyaman dan kemudian melakukan sesuatu, maka saya menganggap diri saya berhasil. 


Hasilnya entah berhasil atau tidak, yang penting saya sudah melakukan sesuatu dan berarti saya telah sukses mencapai standar ukuran diri saya sendiri.

Sukses membuat saya bersyukur, gagal membuat saya tumbuh.

Seperti orang awam katakan, "If you never try, you'll never know".

Saya tahu Anda mulai bosan membaca tulisan payah ini. Jadi, semoga bermanfaat!

Posting Komentar

8 Komentar

  1. Waww.. Terima kasih min, sangat menginspirasi :)

    BalasHapus
  2. Pantesan selama ini suka ngerasa gagal, karena ukuran kesuksesan gue cuman mengarah ke material.. Makasih min udah ngingetin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah, tulisan ini berjalan sesuai tujuannya hihi

      Hapus
  3. Aku izin nyomot gambar quotes nya ya min hehe :v

    BalasHapus
  4. Min, kok kamu tau sih pikiran aku kalo aku udah mulai bosan baca wkwkw


    Becanda min, jangan serius wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebetulan dulu pengen jadi peramal xixi :v

      Hapus
    2. Jadi kakek sihir ya min? Wkwk

      Hapus