Apa Tujuan Hidup Anda? Inilah Cara Memilih Jalan Hidup yang Waras!

Orang, Pejalan Kaki, Puncak, Atas, Petualangan, menentukan jalan hidup

Seringkali kita bingung menentukan tujuan dan jalan hidup kita. Tulisan ini hadir untuk menjawab segala kegundahan Anda dalam menentukan jalan hidup.

Ketika kita masih SD, seringkali guru kita memberikan pertanyaan,

"Kalian ingin menjadi apa ketika dewasa nanti?"

Ya, dengan semangatnya kita menjawab,

"Saya ingin menjadi polisi."

"Saya ingin menjadi dokter."

"Saya ingin menjadi pilot."

Oh begitu konyolnya indahnya masa kecil kita. Tapi kita lupakan dulu hal itu.

Sekarang, jika saya bertanya kepada Anda, 

"Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini?"

Dan bila jawaban Anda kira-kira seperti ini,

"Saya ingin bahagia dan memiliki pekerjaan yang saya suka."

Tanggapan Anda tersebut sangatlah mainstream dan sepertinya, tidak ada artinya sama sekali. Upss..

Pilih Medan Juang Anda

Setiap orang menikmati apa yang mengenakkan dan membuatnya bahagia. Setiap orang ingin hidup dengan riang gembira, bahagia, senang, serba mudah, jatuh cinta dan memiliki pasangan dengan paras "sempurna", tampil bergaya dan berduit, dihormati dan dikagumi, dan jadi jagoan bagi orang-orang, yang membuat kerumunan orang akan terbelah seperti Laut Merah ketika Anda berjalan santai menyusuri jalanan kota.

Setiap orang menginginkannya. Dan sangat mudah menginginkannya.

Tapi ada sebuah pertanyaan menarik. Sebuah pertanyaan yang tidak pernah disadari sebagian besar orang--dan mungkin tidak diinginkan setiap orang--yaitu, "Rasa sakit apa yang Anda inginkan dalam hidup Anda? Apa yang membuat Anda rela berjuang?" Karena itu tampak seperti faktor yang sangat menentukan menjadi apa hidup kita nantinya.


Mari kita buat lebih mudah.

Sebagian besar (atau semua) pelajar--siswa dan mahasiswa--ingin mendapatkan posisi puncak ranking di kelas dan mendapatkan banyak pujian. Namun tidak banyak pelajar yang bersedia menderita selama 60 jam/minggu untuk belajar, menghabiskan setiap malam untuk membaca buku, perjalanan pulang-pergi ke sekolah/kampus yang jauh, mengerjakan PR yang memuakkan, dan menghadapi hierarki--sebagian kecil--pengajar yang sewenang-wenang demi melarikan diri dari neraka kubikel yang tak berujung.

Hampir semua orang menginginkan kesuksesan yang luar biasa dalam karier atau pekerjaan, namun tidak setiap orang mau menjalani pekerjaan yang alot, keheningan yang menyiksa ketika bercakap dengan atasan, perasaan yang tersakiti ketika dimarahi atasan, dan psikodrama emosional untuk mencapai kesuksesan itu.

Jadi mereka pikir lebih baik diam dan bersikap biasa saja. Mereka memilih diam, dan selama bertahun-tahun gusar oleh angan-angan sendiri,

"Seandainya saja ...",

Hingga angan-angan itu menjelma, dari "Seandainya saja ..." menjadi "Terus sekarang apa lagi?"

Sampai ketika akhirnya cek pesangon pemecatan ada dalam surel, pertanyaan itu menjadi, 

"Untuk apa ini semua?"

Jika bukan demi memenuhi standar dan harapan mediokret mereka yang dibuat 20 tahun sebelumnya, lalu untuk apa?

Karena kebahagiaan membutuhkan perjuangan. Kebahagiaan tumbuh dari masalah--lebih tepatnya tumbuh dari memecahkan masalah. Kegembiraan dan kebahagiaan tidak keluar secara alami dari tanah seperti rumput liar. Memiliki makna hidup yang nyata, serius, dan berumur panjang harus diraih dengan cara memilih dan mengelola medan juang kita sendiri.

Entah Anda menderita karena rasa cemas dan kesepian atau gangguan kompulsif obsesif atau akibat seorang teman brengsek yang menghancurkan separuh jam belajar Anda setiap hari, solusinya terletak pada penerimaan dan keterlibatan aktif atas pengalaman negatif tersebut--bukan dengan menghindarinya, bukan pula dengan adanya "penyelamat" yang datang.

Orang-orang mendambakan fisik yang mengagumkan. Seorang wanita menginginkan badan yang langsing dan seorang pria menginginkan roti sobek di perutnya. Namun, Anda tidak akan mencapainya kecuali Anda sunguh menghargai rasa sakit dan tekanan fisik yang menyertai aktivitas Anda di tempat kebugaran jam demi jam, kecuali Anda rajin menghitung dan mengkalibrasi makanan yang Anda konsumsi, merencanakan hidup Anda dalam porsi piring berukuran kecil.

Anda ingin memulai bisnis Anda sendiri. Namun Anda tidak akan menjadi seorang wirausahawan yang sukses, kecuali Anda mampu menghargai risiko, ketidakpastian, kegagalan yang datang berulang-ulang,  melayani pelanggan yang menyebalkan, investasi waktu gila-gilaan yang mungkin hanya demi sesuatu yang tidak menghasilkan apapun.

Itulah bagian dari permainan bisnis. Anda tidak akan pernah memenangkannya jika Anda tidak ikut bermain.

Ilusi Pemikiran


"Apa yang ingin Anda nikmati?"

Pertanyaan yang relevan adalah,

"Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?"

Jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.

Anda harus menentukan pilihan. Anda tidak mungkin memiliki hidup yang bebas dari rasa sakit. Hidup tidak bisa selalu mekar seperti mawar, dan fantastis seperti unicorn. Pertanyaan tentang kenikmatan tergolong mudah karena hampir semua orang punya jawaban serupa.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah tentang penderitaan. Derita apa yang ingin Anda hadapi? Itulah pertanyaan sulit yang perlu disadari, pertanyaan yang sebenarnya akan mengantar Anda ke suatu tempat--tempat di mana seseorang harusnya berada. Itulah pertanyaan yang dapat mengubah sudut pandang kita terhadap sebuah kehidupan.

Itulah pertanyaan yang membentuk saya; saya dan Anda. Itulah yang menentukan pribadi kita dan yang membedakan kita, serta yang pada ujungnya menyatukan lagi kita semua. 

Sebelum tulisan (ambyar) ini menjadi lebih membosankan, lebih baik saya akhiri sampai di sini. Semoga bisa menyadarkan Anda; Anda, saya, dan mereka. Dan tolong jangan share tulisan ini jika tidak bermanfaat. Kasian, orang lain akan menghabiskan beberapa menit sisa umurnya secara sia-sia untuk membaca tulisan (ambyar) ini.


Quotes motivasi

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yg penuh tangisan dan rasa malu

    Suka banget sama kalimat itu :)
    Sangat menginspirasi!

    BalasHapus