Menyelamatkan Hidup dari Kehampaan dengan Memahami Makna Kehidupan!

Makna Kehidupan, motivasi ambyar, penyelamat hidup, kehidupan

Tulisan ini tidak akan sepenuhnya membahas tentang makna kehidupan sesungguhnya (seperti apa yang Anda harapkan). Tidak, ini hanya sebuah tulisan tentang matematika sederhana yang bisa menyelamatkan hidup kita dari kehampaan.

Dan sungguh, ini sederhana. Namun, ini akan membuat Anda (dan saya) menyusuri jalanan kehidupan dengan penuh makna dan harapan.

Pernahkah Anda bertanya kepada seseorang atau bahkan kepada diri sendiri mengenai makna kehidupan ini?

Untuk apa saya hidup? Mengapa saya dilahirkan? Apa yang diinginkan oleh Sang Pencipta dari saya?”. 

Berapa banyak orang di dunia ini yang hidup tanpa arah, hanya mengumpulkan harta material, mengejar kebahagiaan (sesaat), atau hanya sekedar mengejar ketenaran bagi manusia lainnya, membayangkan orang-orang yang sedang berkerumun akan terbelah menjadi dua membentuk jalan setapak dan membiarkan dirinya lewat seperti Nabi Musa dan kaumnya yang berjalan di antara dinding lautan.

Ya, (mungkin) itu menyenangkan. Dan memang itu yang banyak diimpikan setiap orang.

Tapi sialnya, kita dihantui oleh waktu yang terus berhitung mundur. Dan ketika waktu itu habis, semua yang telah kita capai di dunia ini tidak ada gunanya sama sekali bagi Anda (dan saya). Sungguh.

"Jadi untuk apa kita hidup kalau seperti itu?"

Itulah pertanyaan yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini. Jika semuanya akan sia-sia, untuk apa itu semua? Lebih tepatnya, untuk apa itu semua jika pada akhirnya musnah dan nihil?

Jika Anda persis seperti saya (tentang hal di atas), maka mari kita cari kewarasan bersama-sama.

Teori dan Filosofi Makna Hidup

Teori makna hidup pertama kali dikenalkan oleh Victor Frankl dengan istilah logoterapi. Kata logoterapi berasal dari kata logos yang artinya makna (meaning) atau rohani (spiritualy), dan terapi yang artinya penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi merupakan dimensi kerohanian pada manusia disamping dimensi ragawi dan kejiwaan. Makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningfull life) yang didambakan.

Menurut Bastaman (1996), terdapat komponen-komponen yang menentukan berhasilnya seseorang dalam mengubah hidup dari penghayatan hidup tidak bermakna menjadi lebih bermakna, yaitu sebagai berikut:
  1. Pemahaman diri (self insight), yakni meningkatnya kesadaran atas buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk melakukan perubahan ke arah kondisi yang lebih baik. 
  2. Makna hidup (meaning of life), yakni nilai-nilai penting dan sangat berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan hidup yang harus dipenuhi dan pengarah-pengarah kegiatannya. 
  3. Pengubahan sikap (changing attitude). Ketika seseorang sudah memahami dirinya sendiri dan mulai menemukan makna kehidupan, ia akan mengubah sikapnya demi mencapai tujuan hidup yang ia temukan dalam tahap meaning of life. 
  4. Keikatan diri (self commitment). Komponen ini merupakan tahap penguatan agar tujuan yang dimaksud dapat dicapai dengan cepat. Komponen ini menguatkan komitmen seseorang terhadap makna hidup yang ditemukan dan tujuan yang ditetapkan.
  5. Kegiatan terarah (directed activities), yakni upaya-upaya yang dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensi-potensi pribadi, bakat, kemampuan, keterampilan yang positif serta pemanfaatan relasi antarpribadi untuk menunjang tercapainya makna hidup dan tujuan. Sederhananya, tahapan ini merupakan tindakan nyata setelah seseorang berkomitmen terhadap tujuan yang ditetapkannya.
  6. Dukungan sosial (social support), yakni hadirnya seseorang atau sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia membantu pada saat-saat diperlukan.

Ketika Segala-Galanya Ambyar Karena Kematian

Para motivator berkata, 

Kau harus memiliki target”. 

Mereka berkata,

Jangan tidur lebih dari 6 jam, belajarlah bahasa baru, baca satu buku setiap minggu, jangan berhenti! Terus berlari! Jangan menyerah dalam mencapai mimpimu.” 

Yeah, saya tidak menyangkal hal tersebut. Saya pun selalu menetapkan target dalam setiap harinya. Tapi tahukah Anda? Mereka tidak membicarakan hal terpenting dari hal tersebut.

Saya akan memberikan sebuah contoh matematika sederhana. 

Bayangkan Anda sedang menjumlahkan angka dan angka-angka yang Anda jumlahkan tahun lalu misalnya berjumlah 75. 

Dan Anda akan memulai dengan angka baru untuk tahun ini. Misalnya Anda tambahkan angka 4 karena sudah menyelesaikan satu buku untuk dibaca, ditambahkan angka 10 karena sudah menguasai bahasa Inggris, ditambahkan angka 5 karena sudah menguasai teknik baru dalam bidang yang Anda kuasai, ditambahkan angka 3 karena berhasil membentuk perut Anda menyerupai roti sobek, ditambahkan angka 7 karena berhasil meningkatkan penghasilan Anda, dan seterusnya.

Setiap kali Anda berhasil menyelesaikan target Anda, maka Anda akan mendapatkan angka untuk dijumlahkan. Semakin banyak target yang diselesaikan, semakin banyak angka yang Anda peroleh dan semakin besar pula angka yang akan Anda hasilkan. 

Tapi masalahnya, Anda dihantui oleh waktu yang terus berhitung mundur (umur)

Dan ketika waktu tersebut habis, Anda tidak dapat menambahkan angka lagi. 

Baiklah, sekarang mari kita jumlahkan.

75 + 4 + 10 + 5 + 3 + 7 + 6 + 4 + 8 + 9 + 2 + 1 + 3 + 5 + .... 

Anda terus menambah angka dengan ambisius. 

Tapi bayangkan sekarang waktu Anda telah habis! Kemudian Anda baru menyadari bahwa Anda menjumlahkan semua angkanya dalam tanda kurung besar dan harus dikalikan angka 0 pada akhirnya.

(75 + 4 + 10 + 5 + 3 + 7 + 6 + 4 + 8 + 9 + 2 + 1 + 3 + 5) x 0 = 0

Angka nol itu menghapus semua angka yang Anda jumlahkan selama bertahun-tahun dan hasilnya menjadi nihil. Tentu Anda kecewa, karena semua usaha Anda telah dihapuskan oleh angka nol. Sebuah penyesalan datang pada diri Anda. Mungkin Anda akan berkata,

Seandainya aku tahu dari awal bahwa akhirnya akan sia-sia, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menghilangkan angka 0 dan mengubahnya menjadi angka 1 sebelum aku menjumlahkan semuanya”. 

Apakah Anda paham yang saya maksud di sini?

Anda mungkin memiliki target tahun ini dan untuk tahun depan. Belajar bahasa baru, baca buku setiap minggu, menaikkan gaji Anda menjadi Rp10.000.000,00, menguasai teknik baru dalam bidang yang Anda kuasai, berolahraga setiap pagi, tidak tidur lebih dari 6 jam, pergi ke salon setiap minggu, dan sebagainya.

Tapi untuk apa? Untuk apa lebih tepatnya kita menetapkan semua target itu? 

Jika itu semua hanya untuk kehidupan yang lebih aman atau terhormat, ingatlah bahwa semua itu akan menjadi nol dengan kematian. Kematian akan menghapus segalanya.

Ketika kematian datang, orang yang bergaji besar akan sama dengan orang yang bergaji kecil. Orang yang pintar bahasa Inggris akan sama dengan orang yang tidak tahu bahasa Inggris. 

Jadi, jika pada akhirnya kematian akan membuat segalanya menjadi nol, apa tujuannya menambah lebih banyak angka dengan ambisius? Ini hanya akan menambah rasa kecewa yang kita rasakan nanti. 

Jadi hal logisnya adalah menyadari keseluruhannya sejak awal.


Pada hidup ini, ada waktu yang terus menghantui kita. Waktu itu terus menghitung mundur dan ketika waktu Anda habis, semuanya sudah selesai. 

Apapun yang Anda kerjakan selama waktu itu berjalan hanya akan menjadi kesia-siaan karena kematian merupakan angka nol di belakang tanda kurung angka-angka yang Anda jumlahkan.  

Maka, tugas pertama kita adalah mencegah kematian kita berubah menjadi angka nol. 

Bisakah kita mencegah kematian dari menjadi angka nol? 

Karena segalanya akan lepas dari genggaman kita dan hilang, apakah ada cara yang dapat mengubah itu menjadi sesuatu yang abadi? Maksud saya, apakah ada cap keabadian sehingga bisa mencap semua hal yang kita punya menjadi tidak bisa dihapuskan dan menjadi bekal untuk kita di kehidupan lain?

Jika angka nol itu tidak bisa dihapuskan, hal logisnya berarti kita diciptakan untuk sebuah kesia-siaan. 

Dan satu-satunya yang memiliki solusi dari permasalahan itu adalah Sang Pencipta.

 كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ...

"... Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi kewenangan-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan." (QS. Al-Qasas ayat 88)

Jadi, jika niat Anda untuk Allah, segala hal yang Anda lakukan hanya untuk mencari ridha-Nya, semua yang Anda kerjakan takkan menghilang. 

Itu semua akan berubah menjadi keabadian di surga. 

Jadi, belajar sebuah bahasa, membaca buku setiap hari, menjadi kaya, dan segalanya, jika diniatkan untuk-Nya, semua itu akan dicap dengan cap keabadian oleh Tuhan.

Misalnya di tahun ini, saya akan belajar Bahasa Inggris 20 menit setiap harinya. Untuk apa? Karena berdakwah dalam Bahasa Inggris sangat penting dan saya ingin mencari ridha Allah dengan hal itu. 

Angka nol itu berubah menjadi angka 1. 

Kemudian, tahun ini juga saya akan membaca satu buku setiap minggu. Untuk apa? Karena ini cara agar menjadi berilmu dan menjadi muslim yang lebih baik, serta Allah yang Maha Kekal akan ridha dengannya. 

Kabar baiknya, angka nol itu berubah menjadi angka satu karena sekarang niat kita tergantung pada ridha-Nya. 

Saya ingin menaikkan keuntungan berdagang saya sampai Rp15.000.000,00. Untuk apa? Saya akan gunakan uang itu untuk menyebarkan pesan Al-Qur’an kepada dunia dan pemberitaan media yang di mana hal itu akan menuai ridha-Nya. 

Kita telah menghapus angka nolnya, karena sekarang, tujuan kita adalah kepada-Nya.

Ketika semua diniatkan kepada-Nya, semua hal yang kita lakukan tidak akan sia-sia karena kematian. Hidup kita pun akan menjadi sangat bermakna. Orang yang mencari ridha Allah dengan tindakan mereka, kematian tidak bisa membuat angka yang mereka dapatkan dengan ambisius menjadi nol. 

Apapun yang mereka kerjakan tidak akan sia-sia meskipun kematian menjemputnya.

Saya tahu, ini tidak akan membuat Anda meraih Penghargaan Nobel, atau bahkan hanya sekedar menuai pujian dari orang lain. Tidak sama sekali.

Tapi Anda harus ingat bahwa Anda (dan saya) diciptakan bukan untuk mengejar pujian dari manusia. 

Jadi, tidak ada ruginya, kan?

Kesimpulan

Suatu hal yang harus kita sadari adalah kita melakukan segala hal (bekerja, membaca buku, belajar Bahasa Inggris, berolahraga, dan hal lainnya) hanya untuk mencari ridha-Nya, karena hal itu yang akan  membuat kita hidup seolah "kekal". 

Mungkin sebagian dari Anda akan berkata, 

Aku tidak mencintai-Nya setinggi itu dan mungkin aku tidak percaya pada-Nya sampai setinggi itu. Jadi bagaimana aku bisa melakukan segalanya hanya untuk-Nya? Aku bahkan tidak tahu siapa Dia.”

Ya, itulah masalahnya, Anda bahkan tidak tahu siapa Dia. 

Dan inilah tugas pertama kita dalam hidup ini, "Mengenal-Nya". 

Itulah langkah petama kita. 

Semakin Anda mengenal-Nya, semakin Anda mencintai-Nya. Dan semakin Anda mencintai-Nya, semakin Anda akan mencari ridha-Nya dalam setiap perbuatan Anda. 

Jadi ketahuilah Dia! 

Siapa yang menciptakan Anda? Apa yang diinginkan-Nya? Kenapa Dia memberikan Anda milyaran hal setiap harinya? Bacalah! Cari tahu! 

Mengubah angka 0 menjadi angka 1 adalah proses seumur hidup kita. 

Mulailah di titik dimana Anda melewatkannya dan cobalah memperbaikinya.

Seperti para motivator katakan, "Berlarilah untuk dapat mencapai target-target Anda."

Tapi saya lebih senang mengatakannya dengan,
Berlarilah! Tapi lari menuju keabadian”
Waktu yang tak diketahui kapan berhentinya terus berhitung mundur menghantui kita. 

Dan sebelum menjumlahkan angkanya, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menghapus angka nol itu. Jika tidak, segala hal yang Anda jumlahkan akan terhapus dan sia-sia.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta dari mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu dan demikian itulah kemenangan yang agung." (QS At-Taubah ayat 111).

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan dari Pramoedya Ananta Toer. Beliau mengungkapkan,
Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Udah baca tulisan ini, rasanya pengen terlahir kembali buat memperbaiki semuanya :(

    BalasHapus